Novri S

8.4K posts

Novri S banner
Novri S

Novri S

@Novri_ta

Independent Financial Planner ... Smart & Simple to manage Money

Katılım Temmuz 2009
171 Takip Edilen538 Takipçiler
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@RidNgemil @LambeSahamjja Yup. Media kampanye yg bs dibiayai negara. Lbh mudah meng-influence via film2. Kok kyk India. Bs jd tiket digratiskan.
Indonesia
1
0
7
415
Penggemar Mie Ayam Kampung
@LambeSahamjja 1000 bioskop yang tersebar di desa2 akan jadi media komunikasi yg efektif utk propaganda. Sebelum film tayang, diputarlah video2 keberhasilan sang majikan. Lengkap dengan polesan yang bumbunya melebihi dosis. Bikin orang2 dungu dan polos terhipnotis. Too expected plan-nya dul!
Indonesia
14
86
813
21.7K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili. Di tengah rupiah Rp17.700. Di tengah badai PHK yang mengintai. Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan. Di tengah anggaran pendidikan yang dipotong 44% untuk MBG. Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan: Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa. Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu: Seribu Layar Bioskop Di desa. Dari APBN. Dari uang pajak rakyat. Di 2027. Dan ini yang paling menggelikan: Alasannya mulia. Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah. Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal. Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu: Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa? Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung: 88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1. IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia. Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara. 50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis. Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan. Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak. Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang. Tapi DPR punya solusi: Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak. Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada. Bukan perpustakaan desa. Bukan laboratorium sains. Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur. Tapi bioskop. Dan ini logika yang paling sederhana: Dr. Tirta sudah bilang: rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten. Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya. Ahok sudah bilang: kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas. Mahfud MD sudah bilang: demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar. Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya. Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop. Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur. Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya. Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya. Dan ini yang paling menohok: Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan Tidak butuh bioskop. Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78. Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing. Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian. Karena bioskop tidak mengubah nasib. Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah. Dan angkanya bicara sendiri: 1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN. Uang yang sama bisa dipakai untuk: menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai. Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu. Tapi yang diusulkan adalah bioskop. DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat. DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat. Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop. Rakyat yang pintar akan tanya: kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa? Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema? Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional? Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
841
7.2K
14.1K
595.9K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@miftahrizaq_ Leres ....sbg rakyat jelata, kita saling bantu saling jaga.
Indonesia
0
0
1
15
Miftah Rizaq
Miftah Rizaq@miftahrizaq_·
Entah apa yang sedang terjadi dengan dunia dan ekonomi hari ini, saya tentu tidak punya kuasa untuk mengubah semuanya. Yang bisa saya dan keluarga lakukan tetap sederhana, membuka rumah bagi siapa saja yang lapar dan membutuhkan tempat singgah sementara. Saya rasa, itu langkah konkret yang masih bisa kami usahakan. Membantu yang bertahan, menjaga yang sedang berjuang. Saling bantu, saling jaga. 🌻
Indonesia
6
21
129
2.3K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@eddesign_ Klo belum siap, ya jangan di-implementasikan. Kebelet ae
Indonesia
1
0
1
6
EDD
EDD@eddesign_·
SI KUNING PENGGANTI MELON Tiba² dah masuk aja tabungnya . . kang ngimpor juga ternyata!😂 Alasan pemerintah mudah ditebak: Impor tabung CNG 3 kg dari China ini hanya tahap awal karena industri dan teknologi manufaktur domestik belum siap memproduksi massal tabung bertekanan tinggi (200 - 250 bar). Impor merupakan strategi pragmatis u/ menciptakan pasar sebelum dilakukan produksi lokal. Sejak era Orde Baru, kita menghadapi masalah KETERGANTUNGAN IMPOR dan keterbatasan TEKNOLOGI HULU. Meskipun Jokowi, yg dilanjutkan Prabowo melakukan pembatasan impor, namun realisasinya hingga hari ini kita tetap gak berhasil melepaskan diri dari serbuan produk jadi luar negeri. Sumber Daya Alam (SDA) yg melimpah & pasar dalam negeri yg besar gak mampu diubah mjd alat tawar politik (bargaining power) u/ memaksa produsen asing memindahkan pabrik dan teknologi ke dalam negeri.
EDD tweet media
Indonesia
134
265
613
75.6K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@NakesPuskesmas Diapa2in itu jam terbang penting. Gk sekedar kepandaian. Pemimpin terlalu muda rasanya sering ambil keputusan kurang bijak. Kembali baca apa itu fungsi utama Puskesmas.
Indonesia
0
0
0
3
Nakes Puskesmas
Nakes Puskesmas@NakesPuskesmas·
Berat banget kayaknya jadi Nakes Puskesmas di negara yang mata uangnya kelima terendah di dunia ini 🥲 Udah gaji imut, tunjangan seadanya, sarana prasarana gak memadai, SDM-nya udah pada empot-empotan buat pelayanan dalam dan luar gedung dgn beban administrasi yg besar pula, ditambah lagi disuruh buat pelayanan rawat jalan 24 jam. Yang ada malah tenaga kesehatan pada burnout, kualitas pelayanan menurun dan risiko medical error meningkat. Kalau kebutuhan dasarnya gak dibenarin dulu, ya percuma
Nakes Puskesmas tweet media
Indonesia
280
358
1.1K
277.8K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@gimbot75 Beras makin mahal. Pdhl katanya cadangan beras terbanyak saat ini. Klo beras cuma disimpan sedangkan di pasaran langka, jadinya harga beras naik. Situasi ini mirip kyk penimbunan.
Indonesia
0
0
0
15
Wakgim
Wakgim@gimbot75·
Beras di ekspor ke luar negeri dng harga 10rb rupiah per Kg, rakyat sendiri beli beras 18rb rupiah per Kg, kok bisa sih. Gimana menurut kalian?
Indonesia
74
1.7K
4.2K
63.2K
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, lu pada tahu enggak ada yang baru terjadi di Indonesia yang menurut gue gila banget? Bukan soal rupiah. Bukan soal korupsi triliunan. Bukan soal pejabat mewah. Ini soal Josepha Alexandra siswi SMAN 1 Pontianak yang viral beberapa waktu yang lalu ada cerita dari keluarga beberapa waktu setalah pulang dari lomba itu banyak nomor asing masuk ke WhatsApp-nya. Pesannya begini: "Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi." Seseorang atau sekelompok orang yang tidak mau diketahui identitasnya, mengancam anak SMA lewat WhatsApp. Minta dia hapus video. Ancam somasi. Siswi SMA. Diancam somasi. Karena mempertanyakan ketidakadilan di lomba cerdas cermat. Dan ini yang paling menyayat hati dari seluruh kejadian ini: Josepha stres berat. Hari-hari tidur terus. Pendiam. Berubah drastis. Dan di tengah semua tekanan itu dia bertanya kepada kakaknya: "Kak, apa aku harus minta maaf? Katanya aku yang bikin gaduh..." Baca itu sekali lagi. Anak yang diperlakukan tidak adil yang diancam lewat WhatsApp oleh pihak tak dikenal malah bertanya apakah dia yang harus minta maaf. Karena sistem berhasil membuatnya merasa bahwa dia yang salah. Bahwa dia yang bikin masalah. Bahwa keberaniannya mempertanyakan ketidakadilan adalah sebuah kesalahan yang perlu dimintakan maaf. Dan sementara Josepha stres di rumah apa yang dilakukan juri yang kontroversial itu? Status WhatsApp-nya bocor ke publik. Isinya: "Nggak akan bikin gue jatuh!" Orang yang keputusannya dipermasalahkan pamer kekayaan di status WhatsApp. Sementara anak yang mempertanyakannya stres dan tidur terus di rumah. Ini bukan soal menang kalah lomba: Ini soal apa yang terjadi ketika seorang anak muda Indonesia berani bersuara. Josepha tidak melakukan apa-apa yang salah. Dia mempertanyakan keputusan yang tidak konsisten. Itu bukan bikin gaduh. Itu adalah hak dasar setiap peserta dalam kompetisi apapun di seluruh dunia. Tapi di sini itu direspons dengan ancaman. Dengan intimidasi. Dengan pesan WhatsApp dari nomor asing yang memintanya diam. Dan pertanyaan yang belum dijawab sampai sekarang: Siapa yang mengirim pesan ancaman itu? Dari nomor asing. Mengatasnamakan siapa? Dengan kewenangan apa untuk melayangkan somasi? Kalau memang tidak ada yang salah dalam lomba itu kenapa harus ada ancaman? Kenapa video harus dihapus? Kenapa tidak cukup dengan klarifikasi terbuka? Yang minta video dihapus adalah orang yang takut video itu terus ditonton. Yang takut kebenaran terus beredar. Josepha hafal konstitusi sampai tidur komat-kamit. Dia mempelajari nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika dengan serius dan penuh dedikasi. Dan pengalaman pertamanya mempraktikkan nilai-nilai itu di hadapan lembaga negara adalah ini: ancaman WhatsApp dari nomor tak dikenal. Tekanan untuk diam. Pertanyaan di dalam hatinya apakah dia yang harus minta maaf. Kalau anak sekecil Josepha saja sudah diajarkan bahwa kejujuran itu berbahaya kita tidak perlu heran kenapa generasi berikutnya memilih untuk tidak peduli. Kita yang mengajarkan mereka untuk tidak peduli. Dengan cara seperti ini. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan berita Liputan6.com 16 Mei 2026. Kasus masih dalam proses penanganan MPR RI. Identitas oknum yang melakukan intimidasi belum diungkap resmi.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
292
2.9K
7.2K
319.4K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@KangManto123 "Jasadnya main game, tp hati dan pikirannya fokus pd rapat" Siapakah dia? Nabi ... bukan Rasul .... bukan Wali .... bukan Allah mengajarkan manusia utk iqro'... bukan membaca sec harfiah tok tp BELAJAR, cari ilmu. Jgn buta logika
Indonesia
0
0
0
11
MANTO
MANTO@KangManto123·
Bjirlahh, dibelain muridnya woi..😭
MANTO tweet media
Indonesia
635
468
5K
218.1K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@bgkiting Gmn gw diomongin orang yak. Kemana2 suka pake sendal. Eits, tp gw jg tetep punya manner. Klo cuma ke bioskop, ngemall, salon, naik kereta/pesawat .. gpp kalee nyendal aja.
Indonesia
0
0
0
20
keritingrambut 𐂂
keritingrambut 𐂂@bgkiting·
Julitin orang pake sendal ke bioskop, emang seaneh itu kah?
keritingrambut 𐂂 tweet media
Indonesia
6.1K
1.6K
26.5K
2.8M
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@KapudS640 Astaghfirullah kok kurang ajar banget. Sptnya di rumah dia sering dengar hal2 begitu. Ortunya anggap bhw UANG bs beli/selesaikan apa aja. "Adab itu jauh lbh VALUABLE drpd Uang" Ini klo anaknya ditegur, pasti ortunya lgs nglabrak guru. Sekaya apa sih ortunya? Salah didik sjk awal
Indonesia
0
3
57
4.8K
txt keresahan WNI
txt keresahan WNI@KapudS640·
Titik terendah guru Me: dihina siswa sendiri "Bu kalau aku dikasih kunci jawaban tak kasih sejuta, gajimu gak ada sejuta kan ?" Aku ngajar di MI, dia kelas 6 ini. Kejadian paling baru 2 minggu lalu. Setelah pelaksanaan TKA mau Ujian Madrasah Yang di utasku atas itu udah termasuk halus, soalnya dia pakai bahasa jawa dengan tidak sopan "Bu nek aku mbo kei kunci tak kei sejuta, gaji mu e lho ra enek sejuta". Yang orang Jawa pasti paham nada ngomongnya Waktu itu bener2 speechless, cuma ku jawab "susunya anak2ku sejuta gak cukup sebulan" Bapak ibu guru ada yang serupa ? cc:threadsrere_indriyani
Indonesia
534
2.2K
14.7K
735.2K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@KangManto123 Padahal JELAS banget jawaban grup C. Kok tega dibilang salah krn tdk menyebutkan Dewan Perwakilan Daerah. Ditambah dg penekanan oleh juri wanit bhw artikulasi tdk jelas. Hooiii .. kalian tuh yg gk fokus. Bukannya ngakui kesalahan tp malah ngeles. MC jg sok iye. Ke laut ajalah
Indonesia
0
0
3
963
MANTO
MANTO@KangManto123·
ASTAGAA, MEMALUKAN SEKALI JURI INI..👇👇
Indonesia
1.1K
1.7K
7.6K
293.1K
Teh Tawar Hangat
Teh Tawar Hangat@Lanun_1017·
@tempodotco Money follow program pada MBG berubah menjadi money follow koruptor. Justru belanja konsumtif pemerintah yg terlalu tinggi bisa menjadi salah satu variabel penyebab inflasi ... @prabowo @DPR_RI
Indonesia
2
28
105
5.8K
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
Presiden Prabowo Subianto mengklaim Indonesia akan segera mencapai swasembada bahan bakar minyak (BBM).
Indonesia
921
236
1.1K
537.7K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@is_pelssy Jangan cuma minta maaf dan janji akan lakukan evaluasi. Langkah pertama itu batalkan dulu kemenangan lomba tsb. Ulang kembali cerdas cermatnya. Itu baru sportif
Indonesia
0
0
1
13
@is_pelssy
@is_pelssy@is_pelssy·
Kalian keliatan norak kampungan banget, jujur aja kalo lomba itu dah ada pengaturan, masa jawab yg sama yg satu mines 5 yg satu plus 10.. Kalian dah mengajarkan hal² yg tidak baik buat anak² Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman meminta maaf atas kelalaian penilaian juri dalam Final LCC Empat Pilar 2026 di Kalimantan Barat dan memastikan MPR akan mengevaluasi sistem perlombaan serta kinerja dewan juri. Baca di sini: nasional.kompas.com/read/2026/05/1…
@is_pelssy tweet media
Indonesia
451
760
3K
715.2K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@Hilmi28 Jawaban pertama menybutkan "Dewan Perwakilan Daerah" dan itu disalahkan o/juri. Bs jadi juri tsb Gak Tahu klo DPD = Dewan Perwakilan Daerah 😁🤣 Dia yg gk tahu n gk fokus, siswa peserta yg jd korban. Ditambah lg juri nyela artikulasi dan MC yg sok "iye" dg ngatain peserta tsb.
Indonesia
0
1
13
320
Hilmi Firdausi
Hilmi Firdausi@Hilmi28·
Semoga ini bukan gambaran rakyat dan pejabat di Konoha. Dimana ketika rakyat minta haknya yang dirampas, sang pejabat malah denial dan tidak merasa bersalah, lalu sang pejabat juga dibantu oleh buzzer dan penjilat yg mendukung keputusannya yang jelas2 merugikan dan tidak adil.
Indonesia
147
677
1.8K
23.7K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@regar_op0sisi Rakyat beli beras yg diimpor. Krn sh ada perjanjian dagang dg negara lain bhw Ind beli beras dari negara X. Sementara beras petani sndr diekspor. Gitu kali ya. Beras premium 10rb/kg pasti bisa lgs terserap di dlm negeri. Mau brp ton aja.
Indonesia
0
0
0
141
Edy Bayo Regar
Edy Bayo Regar@regar_op0sisi·
Ironi Indonesia negosiasi dengan Malaysia soal beras. Indonesia menawarkan ke Malaysia 13.000/kg Malaysia minta harga 10.000/kg. Beras kualitas premium. Istri saya punya toko sembako dirumah,saya tanya dia jual beras per kilonya berapa? Dia jawab 16.000. Simpulkan sendiri.
Edy Bayo Regar tweet media
Indonesia
980
2.7K
8.5K
462.7K
Edy Bayo Regar
Edy Bayo Regar@regar_op0sisi·
Bos bersama ajudan dgn status magang. Kantor Beacukai Balikpapan
Edy Bayo Regar tweet media
Indonesia
1.1K
4.1K
22.4K
1.8M
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@LambeSahamjja Ujian Nasional (UN) resmi dihapus mulai tahun 2021. Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, dan digantikan dengan Asesmen Nasional (AN). Penghapusan ini diperkuat melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 1 Tahun 2021.
Indonesia
0
0
0
45
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada obrolan antara Abdur dan seorang perawat honorer yang dua-duanya pernah merasakan langsung jadi tenaga honorer bergaji kecil dan obrolannya jujur banget soal kenapa sistem pendidikan Indonesia stuck di tempat yang sama dari generasi ke generasi. Abdur pernah jadi guru honorer matematika di Malang dan ini angkanya: Satu jam pelajaran dibayar Rp8.000. Dia mengajar tiga kelas, masing-masing empat jam pelajaran per minggu. Total 12 jam pelajaran per minggu. Dikalikan Rp8.000, dapat sekitar Rp96.000 per minggu, atau sekitar Rp400.000 per bulan. Dalam dua tahun mengajar, total gajinya sebagai guru honorer sekitar Rp9,6 juta. Di waktu yang bersamaan, sekali tampil stand up comedy 10-15 menit dapat Rp100.000 sampai Rp150.000. Hitungannya sendiri dan dia sendiri yang bilang akhirnya mulai kehilangan semangat mengajar. Yang bikin dia lebih sedih bukan gajinya sendiri. Tapi ketika dia sadar bahwa ibunya yang menyuruh dia jadi guru mungkin pernah mengalami hal yang sama. Bahkan lebih buruk. Dan tidak pernah cerita sepatah kata pun. Kenapa gaji guru honorer kecil ini analisisnya: Masalahnya bukan satu faktor, tapi berlapis-lapis dan saling mengunci satu sama lain. Pertama, tidak ada standar minimum gaji guru honorer. Tidak ada upah minimum honorer seperti UMR. Jadi besarnya gaji betul-betul tergantung pada kemampuan sekolah masing-masing dan sekolah negeri sumber pendanaannya sangat terbatas. Kedua, dana BOS tidak boleh atau sangat terbatas untuk membayar guru honorer. Dana BOS lebih diperuntukkan untuk sarana prasarana. Jadi kalau sekolah butuh guru honorer, mereka harus putar otak cari dana dari mana sisa BOS, uang komite, atau tidak ada sama sekali. Ketiga, oversupply lulusan keguruan. Setiap tahun sekitar 490.000 orang lulus dari jurusan pendidikan. Yang belum dapat pekerjaan dari tahun lalu masih banyak, tahun ini tambah lagi. Ketika supply jauh lebih besar dari demand, bargaining power pelamar jadi nol. Sekolah bisa bayar berapa saja karena selalu ada yang mau. Keempat dan ini yang paling mendasar profesi guru tidak dianggap keren. Abdur bilang terang-terangan: ketika dia SMA, yang pintar-pintar di kelasnya semua bilang mau jadi dokter, pilot, insinyur, psikolog. Tidak ada yang bangga bilang mau jadi guru. Kalau profesinya tidak populer, jurusannya tidak diminati orang terbaik, yang masuk adalah yang tidak dapat pilihan lain bukan karena passion tapi karena ini yang paling murah dan paling gampang masuk. Soal kompetensi guru dan ini yang paling berani dikatakan: Abdur mengakui bahwa tidak semua lulusan keguruan kompeten untuk mengajar dan dia termasuk di dalamnya waktu itu. Alasannya masuk akal. Kalau dari awal jurusan keguruan bukan pilihan pertama tapi pilihan terakhir karena yang lain terlalu mahal atau tidak lulus motivasinya bukan passion untuk mendidik. Dan tanpa passion, hasilnya adalah guru yang masuk kelas karena kewajiban, bukan karena mau mencerdaskan murid. Guru yang kompeten, menurut Abdur, kelihatan dari cara dia masuk kelas. Murid bisa langsung baca — ini guru yang mau cepat pulang, atau ini guru yang betul-betul mau ngajar. Dan murid selalu bisa membedakan keduanya. Soal UN yang dihapus dan kelulusan 100%: Ini yang menurut Abdur paling bermasalah. Sejak UN dihapus dimulai di era Anies Baswedan kelulusan menjadi 100% setiap tahun. Tidak ada filter minimum kompetensi yang harus dicapai sebelum seseorang dinyatakan lulus. Dampaknya: ada generasi yang secara akademis belum siap dilepas ke masyarakat, tapi sudah dianggap lulus. Dan ketika video-video viral anak SMP atau SMA tidak bisa menjawab pertanyaan dasar matematika atau bahasa Indonesia itu bukan sepenuhnya salah muridnya. Sistem yang meluluskan mereka tanpa standar yang jelas ikut bertanggung jawab. Ide Abdur kalau jadi Menteri Pendidikan: Kembalikan UN, tapi dengan satu perubahan besar: mata pelajaran yang diujikan dipilih sendiri oleh siswa berdasarkan minat dan tujuan mereka. Mau masuk MIPA UI? UN matematika, fisika, biologi. Mau masuk jurusan film IKJ? UN bahasa Indonesia, kesenian, sejarah. Mau fokus di bahasa? Pilih bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa asing pilihan. Logikanya: tidak semua orang butuh integral dan trigonometri di kehidupan nyata mereka. Memaksakan semua siswa lulus ujian matematika abstrak tidak membuat mereka lebih pintar hanya membuat lebih banyak yang merasa bodoh karena standar yang tidak relevan dengan tujuan hidup mereka. Yang penting adalah ada standar minimum yang harus dicapai di bidang yang memang relevan dengan pilihan siswa. Dan ada konsekuensi nyata kalau standar itu tidak terpenuhi bukan kelulusan otomatis. Gaji guru honorer kecil bukan karena pemerintah jahat atau tidak peduli. Itu adalah hasil dari sistem yang saling mengunci: profesi tidak dianggap keren, oversupply lulusan, tidak ada standar gaji minimum, dan pendanaan sekolah yang tidak mencukupi untuk bayar tenaga tambahan secara layak. Dan selama masalah akarnya tidak diselesaikan profesi guru tidak diprestiskan, seleksi masuk tidak diperketat, standar kompetensi tidak diperkuat menaikkan gaji saja tidak akan mengubah kualitas pendidikan. Karena seperti yang dibahas di episode Malaka Project kemarin: you cannot buy yourself out of a problem. Uang adalah alat. Tapi kalau kultur, mindset, dan sistem rekrutmennya tidak berubah anggarannya bisa berlipat ganda dan hasilnya tetap sama.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
5
32
75
5.3K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@don_gindo Invest 2M dg harapan dpt 6jt/hari. Anggap 1th = 300 hari => 1,8M Berarti hanya dlm 13,5bln sdh balik modal. Habis itu tinggal kipas2 aja dpt 150jt/bln Sdh jelas tahu bhw proyek ini blm beres di pelaksanaannya, ya buang IDEALISME itu. Survey ke bbrp dapur spy tahu.
Indonesia
0
0
1
16
K̶e̶y̶b̶o̶a̶r̶d̶ ̶W̶a̶r̶r̶i̶o̶r̶s
Niat Yana Karyana untuk mengabdikan masa pensiunnya lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru berujung pahit. Mantan dosen PNS ini harus menempuh jalur hukum setelah menemukan kejanggalan dalam kerja sama pengelolaan dapur di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Pengasih, Kulon Progo. Dalam konferensi pers di Yogyakarta, Senin (4/5/2026), Yana mengungkapkan telah melaporkan ketua yayasan yang menaunginya ke Polres Kulon Progo pada 23 April. Ia menegaskan, keterlibatannya di MBG bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan karena yakin program ini menyentuh masyarakat bawah. “Tabungan saya selama 30 tahun bekerja saya tumpahkan ke sini. Saya optimis karena manfaatnya besar,” ujarnya. Yana mengaku telah menginvestasikan hampir Rp2 miliar untuk membangun dapur, mulai dari sewa tempat, renovasi, hingga pengadaan alat modern. Namun, baru empat bulan berjalan, muncul kebijakan sepihak terkait dana insentif. Menurutnya, insentif Rp6 juta per hari yang seharusnya diterima justru dipotong 25 persen oleh pihak tertentu. Ia juga menyoroti kurangnya transparansi margin keuntungan yang dijanjikan yayasan. “Bayangkan, alat elektronik dipegang relawan yang belum terbiasa, ada yang rusak dalam seminggu. Kalau dananya terus dipotong sepihak, bagaimana operasional bisa sehat,” keluhnya. Merasa haknya sebagai investor dikebiri, Yana melayangkan laporan resmi dengan Nomor: STTLP/59/IV/2026/SPKT/POLRES KULONPROGO/POLDA DI YOGYAKARTA. Laporan itu menyoroti lima poin utama, termasuk perubahan sepihak kesepakatan kerja sama dan pemotongan insentif. Kasi Humas Polres Kulon Progo, Iptu Sarjoko, membenarkan laporan tersebut. “Untuk sekarang masih kami dalami dan tahap penyelidikan,” ujarnya singkat. Kasus ini menjadi gambaran betapa idealisme bisa berbenturan dengan praktik yang tidak transparan, bahkan dalam program sosial yang seharusnya membawa manfaat bagi masyarakat. Sumber: TribunJogja.com
K̶e̶y̶b̶o̶a̶r̶d̶ ̶W̶a̶r̶r̶i̶o̶r̶s tweet media
Indonesia
31
108
169
12.5K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@LambeSahamjja Bu @NDeyang klo ada boraks (racun) pd MBG gini gmn? Anak2 n ortu ya trauma lho. Pls hrs ada Dapur SPPG yg dituntut pidana. Jgn cuma dikasih peringatan. Sampe gk sih berita2 gini ke presiden?
Indonesia
0
0
1
171
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, lu pada tau gak ada kasus keracunan MBG yang baru terkonfirmasi dan ini bukan keracunan biasa yang bisa diselesaikan dengan minta maaf lalu lanjut? 162 siswa dari PAUD sampai SMP di Air Asuk Kepulauan Anambas tumbang serentak pada 15 April 2026. Bukan karena sakit perut biasa. Bukan karena makanannya basi. Tapi karena di dalam makanan yang dikirim negara ke mulut anak-anak itu ditemukan boraks dengan kadar 100 hingga 5.000 miligram per liter ditambah dua bakteri berbahaya sekaligus E. coli dan Bacillus cereus. Tiga kontaminan. Satu menu. Ratusan anak. yang paling gila ada boraks sekali lagi boraks Mari kita bicara soal boraks dulu karena ini yang paling serius dan paling tidak bisa dimaafkan. Boraks adalah bahan kimia industri. Dia dipakai untuk membuat deterjen keramik dan pupuk. Di Indonesia penggunaannya dalam makanan dilarang keras berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan sejak puluhan tahun lalu. Bukan dilarang karena sedikit berbahaya dilarang karena konsumsi berulang menyebabkan kerusakan ginjal kerusakan hati gangguan sistem saraf dan pada anak-anak yang tubuhnya masih berkembang efeknya jauh lebih destruktif dari pada orang dewasa. Kadar yang ditemukan di makanan MBG Anambas adalah 100 sampai 5.000 miligram per liter. Untuk konteks ambang batas yang mulai menunjukkan gejala toksisitas pada manusia dewasa adalah sekitar 5.000 miligram total. Anak-anak PAUD yang beratnya mungkin 15 kilogram jauh lebih rentan dari angka itu. Dan yang membuat ini lebih mengkhawatirkan boraks tidak muncul secara alami di telur kecap tempe goreng atau tumis sawi wortel buncis. Ketua Tim Investigasi BGN Arie Karimah Muhammad sendiri menegaskan bahan-bahan seperti telur tempe dan sayuran tidak membutuhkan pengawet kimia apapun. Tidak ada alasan teknis yang sah untuk boraks ada di sana. Artinya hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Seseorang di dalam dapur SPPG Air Asuk secara sadar dan sengaja memasukkan boraks ke dalam makanan yang akan dimakan anak-anak. Kemungkinan besar untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal lebih menarik dan lebih tahan lama sambil menekan biaya produksi serendah mungkin. Memotong biaya dari anggaran yang sudah dikucurkan negara dengan cara meracuni anak-anak yang seharusnya dilindungi. Sekarang soal E. coli dan Bacillus cereus karena keduanya bercerita tentang kegagalan yang berbeda dan sama-sama sistemik. E. coli ditemukan di sampel makanan yang diuji BPOM. E. coli adalah bakteri yang hidup di usus besar manusia dan hewan. Kehadirannya dalam makanan mengindikasikan satu hal dan hanya satu hal ada kontaminasi feses di suatu titik dalam proses produksi. Bisa dari tangan pekerja yang tidak mencuci tangan dengan benar. Bisa dari peralatan masak yang dicuci dengan air yang terkontaminasi. Bisa dari sumber air bersih yang digunakan untuk memasak yang ternyata tidak bersih sama sekali. Tapi apapun jalur masuknya E. coli di makanan anak sekolah adalah kegagalan higienitas yang fundamental dan tidak bisa dijelaskan dengan kecerobohan kecil. Bacillus cereus adalah bakteri yang berbeda karakternya dan justru karena itu lebih berbahaya dalam konteks seperti ini. Dia berkembang biak di makanan yang tidak disimpan pada suhu yang tepat khususnya makanan yang sudah matang lalu dibiarkan terlalu lama di suhu ruangan sebelum sampai ke tangan penerima. Yang membuatnya sangat berbahaya adalah toksin yang dihasilkannya tahan panas. Artinya bahkan kalau makanan dipanaskan ulang sebelum disajikan toksin itu tetap ada dan tetap bekerja merusak sistem pencernaan. Ini mengindikasikan ada masalah serius dalam rantai distribusi dari dapur ke sekolah makanan dikirim terlambat disimpan terlalu lama atau tidak dijaga suhunya selama perjalanan. Tiga kontaminan dari tiga sumber yang berbeda dalam satu paket makanan yang sama. Ini bukan tentang satu kecerobohan di satu titik. Ini adalah gambaran dari sebuah dapur yang gagal dari hampir semua dimensi secara bersamaan dari penggunaan bahan kimia ilegal dari higienitas dasar yang tidak terpenuhi dan dari sistem penyimpanan dan distribusi yang tidak memadai. Dan ada satu detail yang menurut gua adalah bagian paling menyayat hati dari seluruh cerita ini. 41 orang tua dan anggota keluarga ikut keracunan. Bukan karena mereka makan di kantin sekolah. Bukan karena mereka iseng mencicipi makanan anak. Tapi karena anak-anak mereka membawa pulang sisa makanan dan orang tua yang tidak mau menyia-nyiakan rezeki yang sudah ada di tangan memakan sisa itu di rumah. Orang tua yang hemat. Orang tua yang bersyukur anaknya dapat program makan gratis dari negara. Orang tua yang tidak punya kapasitas untuk tahu bahwa makanan yang dibawa pulang anaknya mengandung boraks dan dua jenis bakteri berbahaya. Dan justru kebaikan hati mereka untuk tidak membuang-buang makanan itulah yang membuat mereka ikut masuk rumah sakit bersama anak-anak mereka. Sekarang soal respons pemerintah. Dan ini adalah bagian yang menurut gua harus membuat semua orang marah dengan alasan yang sangat konkret. BGN men-suspend SPPG Air Asuk sementara. Meminta SPPG memperbarui Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi sebelum boleh beroperasi kembali. Menekankan perlunya peningkatan pengawasan. Tidak ada pengumuman proses hukum pidana terhadap siapapun yang terbukti memasukkan boraks ke makanan anak-anak. Ingat menggunakan boraks dalam makanan bukan hanya pelanggaran administratif. Ini adalah tindak pidana yang bisa dijerat dengan UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp10 miliar. Tapi sampai berita ini ditulis tidak ada satu pun nama yang disebut akan diproses secara pidana. Tidak ada audit nasional terhadap ribuan SPPG lain yang beroperasi di seluruh Indonesia. Kalau satu SPPG bisa beroperasi dengan boraks dan dua bakteri berbahaya tanpa ketahuan selama berminggu-minggu sebelum ada korban massal berapa SPPG lain yang kondisinya sama tapi belum ada yang keracunan parah cukup untuk memicu investigasi? Dan BPOM sendiri sudah mengakui bahwa mereka hanya sanggup mengecek lima dapur MBG secara nasional. Lima dapur. Alasannya adalah minim anggaran. Program yang dianggarkan Rp335 triliun di tahun 2026. Tapi lembaga yang bertugas mengawasi keamanan pangan di program itu tidak punya cukup anggaran untuk mengecek lebih dari lima dapur dari ribuan yang beroperasi. Dan ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih besar lagi. Kasus Anambas bukan kasus pertama dan bukan kasus yang paling banyak korbannya. Secara nasional kasus keracunan MBG sudah lebih dari 6.000 kasus dari berbagai daerah sejak program ini berjalan. Dari Sumatera sampai Jawa sampai Sulawesi. Di sekolah-sekolah yang mestinya jadi tempat anak-anak tumbuh dengan aman. 6.000 kasus keracunan. Dan baru di Anambas ada hasil lab yang mengkonfirmasi boraks digunakan secara sengaja. Pertanyaannya adalah dari 6.000 kasus sebelumnya berapa yang juga melibatkan boraks tapi tidak pernah diuji labnya karena tidak ada anggaran? Berapa yang cukup ringan sehingga orang tuanya hanya berpikir anaknya masuk angin lalu tidak pernah dilaporkan? Berapa yang tidak pernah masuk data karena tidak ada media yang meliput? program senilai Rp335 triliun dengan niat mulia memberantas stunting dan memastikan anak Indonesia tumbuh sehat harus bisa menjamin satu hal paling dasar yang bahkan tidak perlu standar tinggi untuk dipenuhi. Makanan yang dikirim ke mulut anak-anak tidak boleh mengandung racun. Bukan standar internasional. Bukan sertifikasi ISO. Hanya satu syarat jangan ada boraks di dalam telur kecap dan tempe goreng yang dimakan anak PAUD. Dan syarat sepedas itu ternyata tidak terpenuhi. Di program yang diklaim akan mengubah generasi Indonesia. Di negara yang Menkeu-nya baru saja bilang kita sedang survival mode tidak boleh bikin stupid mistake lagi. Suspend tiga hari dan perbarui sertifikasi bukan jawaban yang proporsional untuk 162 anak yang keracunan boraks. Yang proporsional adalah proses pidana yang nyata transparansi penuh tentang kondisi semua SPPG di seluruh Indonesia dan pertanggungjawaban yang konkret dari siapapun yang membuat keputusan untuk meloloskan SPPG beroperasi tanpa pengawasan yang memadai sejak awal.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
135
764
1.1K
29.8K
Novri S
Novri S@Novri_ta·
di dalam makanan yang dikirim negara ke mulut anak-anak itu ditemukan boraks dengan kadar 100 hingga 5.000 mg per liter ditambah dua bakteri berbahaya sekaligus E. coli dan Bacillus cereus. Tiga kontaminan. Satu menu. Ratusan anak. yang paling gila ada boraks sekali lagi boraks
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, lu pada tau gak ada kasus keracunan MBG yang baru terkonfirmasi dan ini bukan keracunan biasa yang bisa diselesaikan dengan minta maaf lalu lanjut? 162 siswa dari PAUD sampai SMP di Air Asuk Kepulauan Anambas tumbang serentak pada 15 April 2026. Bukan karena sakit perut biasa. Bukan karena makanannya basi. Tapi karena di dalam makanan yang dikirim negara ke mulut anak-anak itu ditemukan boraks dengan kadar 100 hingga 5.000 miligram per liter ditambah dua bakteri berbahaya sekaligus E. coli dan Bacillus cereus. Tiga kontaminan. Satu menu. Ratusan anak. yang paling gila ada boraks sekali lagi boraks Mari kita bicara soal boraks dulu karena ini yang paling serius dan paling tidak bisa dimaafkan. Boraks adalah bahan kimia industri. Dia dipakai untuk membuat deterjen keramik dan pupuk. Di Indonesia penggunaannya dalam makanan dilarang keras berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan sejak puluhan tahun lalu. Bukan dilarang karena sedikit berbahaya dilarang karena konsumsi berulang menyebabkan kerusakan ginjal kerusakan hati gangguan sistem saraf dan pada anak-anak yang tubuhnya masih berkembang efeknya jauh lebih destruktif dari pada orang dewasa. Kadar yang ditemukan di makanan MBG Anambas adalah 100 sampai 5.000 miligram per liter. Untuk konteks ambang batas yang mulai menunjukkan gejala toksisitas pada manusia dewasa adalah sekitar 5.000 miligram total. Anak-anak PAUD yang beratnya mungkin 15 kilogram jauh lebih rentan dari angka itu. Dan yang membuat ini lebih mengkhawatirkan boraks tidak muncul secara alami di telur kecap tempe goreng atau tumis sawi wortel buncis. Ketua Tim Investigasi BGN Arie Karimah Muhammad sendiri menegaskan bahan-bahan seperti telur tempe dan sayuran tidak membutuhkan pengawet kimia apapun. Tidak ada alasan teknis yang sah untuk boraks ada di sana. Artinya hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Seseorang di dalam dapur SPPG Air Asuk secara sadar dan sengaja memasukkan boraks ke dalam makanan yang akan dimakan anak-anak. Kemungkinan besar untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal lebih menarik dan lebih tahan lama sambil menekan biaya produksi serendah mungkin. Memotong biaya dari anggaran yang sudah dikucurkan negara dengan cara meracuni anak-anak yang seharusnya dilindungi. Sekarang soal E. coli dan Bacillus cereus karena keduanya bercerita tentang kegagalan yang berbeda dan sama-sama sistemik. E. coli ditemukan di sampel makanan yang diuji BPOM. E. coli adalah bakteri yang hidup di usus besar manusia dan hewan. Kehadirannya dalam makanan mengindikasikan satu hal dan hanya satu hal ada kontaminasi feses di suatu titik dalam proses produksi. Bisa dari tangan pekerja yang tidak mencuci tangan dengan benar. Bisa dari peralatan masak yang dicuci dengan air yang terkontaminasi. Bisa dari sumber air bersih yang digunakan untuk memasak yang ternyata tidak bersih sama sekali. Tapi apapun jalur masuknya E. coli di makanan anak sekolah adalah kegagalan higienitas yang fundamental dan tidak bisa dijelaskan dengan kecerobohan kecil. Bacillus cereus adalah bakteri yang berbeda karakternya dan justru karena itu lebih berbahaya dalam konteks seperti ini. Dia berkembang biak di makanan yang tidak disimpan pada suhu yang tepat khususnya makanan yang sudah matang lalu dibiarkan terlalu lama di suhu ruangan sebelum sampai ke tangan penerima. Yang membuatnya sangat berbahaya adalah toksin yang dihasilkannya tahan panas. Artinya bahkan kalau makanan dipanaskan ulang sebelum disajikan toksin itu tetap ada dan tetap bekerja merusak sistem pencernaan. Ini mengindikasikan ada masalah serius dalam rantai distribusi dari dapur ke sekolah makanan dikirim terlambat disimpan terlalu lama atau tidak dijaga suhunya selama perjalanan. Tiga kontaminan dari tiga sumber yang berbeda dalam satu paket makanan yang sama. Ini bukan tentang satu kecerobohan di satu titik. Ini adalah gambaran dari sebuah dapur yang gagal dari hampir semua dimensi secara bersamaan dari penggunaan bahan kimia ilegal dari higienitas dasar yang tidak terpenuhi dan dari sistem penyimpanan dan distribusi yang tidak memadai. Dan ada satu detail yang menurut gua adalah bagian paling menyayat hati dari seluruh cerita ini. 41 orang tua dan anggota keluarga ikut keracunan. Bukan karena mereka makan di kantin sekolah. Bukan karena mereka iseng mencicipi makanan anak. Tapi karena anak-anak mereka membawa pulang sisa makanan dan orang tua yang tidak mau menyia-nyiakan rezeki yang sudah ada di tangan memakan sisa itu di rumah. Orang tua yang hemat. Orang tua yang bersyukur anaknya dapat program makan gratis dari negara. Orang tua yang tidak punya kapasitas untuk tahu bahwa makanan yang dibawa pulang anaknya mengandung boraks dan dua jenis bakteri berbahaya. Dan justru kebaikan hati mereka untuk tidak membuang-buang makanan itulah yang membuat mereka ikut masuk rumah sakit bersama anak-anak mereka. Sekarang soal respons pemerintah. Dan ini adalah bagian yang menurut gua harus membuat semua orang marah dengan alasan yang sangat konkret. BGN men-suspend SPPG Air Asuk sementara. Meminta SPPG memperbarui Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi sebelum boleh beroperasi kembali. Menekankan perlunya peningkatan pengawasan. Tidak ada pengumuman proses hukum pidana terhadap siapapun yang terbukti memasukkan boraks ke makanan anak-anak. Ingat menggunakan boraks dalam makanan bukan hanya pelanggaran administratif. Ini adalah tindak pidana yang bisa dijerat dengan UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp10 miliar. Tapi sampai berita ini ditulis tidak ada satu pun nama yang disebut akan diproses secara pidana. Tidak ada audit nasional terhadap ribuan SPPG lain yang beroperasi di seluruh Indonesia. Kalau satu SPPG bisa beroperasi dengan boraks dan dua bakteri berbahaya tanpa ketahuan selama berminggu-minggu sebelum ada korban massal berapa SPPG lain yang kondisinya sama tapi belum ada yang keracunan parah cukup untuk memicu investigasi? Dan BPOM sendiri sudah mengakui bahwa mereka hanya sanggup mengecek lima dapur MBG secara nasional. Lima dapur. Alasannya adalah minim anggaran. Program yang dianggarkan Rp335 triliun di tahun 2026. Tapi lembaga yang bertugas mengawasi keamanan pangan di program itu tidak punya cukup anggaran untuk mengecek lebih dari lima dapur dari ribuan yang beroperasi. Dan ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih besar lagi. Kasus Anambas bukan kasus pertama dan bukan kasus yang paling banyak korbannya. Secara nasional kasus keracunan MBG sudah lebih dari 6.000 kasus dari berbagai daerah sejak program ini berjalan. Dari Sumatera sampai Jawa sampai Sulawesi. Di sekolah-sekolah yang mestinya jadi tempat anak-anak tumbuh dengan aman. 6.000 kasus keracunan. Dan baru di Anambas ada hasil lab yang mengkonfirmasi boraks digunakan secara sengaja. Pertanyaannya adalah dari 6.000 kasus sebelumnya berapa yang juga melibatkan boraks tapi tidak pernah diuji labnya karena tidak ada anggaran? Berapa yang cukup ringan sehingga orang tuanya hanya berpikir anaknya masuk angin lalu tidak pernah dilaporkan? Berapa yang tidak pernah masuk data karena tidak ada media yang meliput? program senilai Rp335 triliun dengan niat mulia memberantas stunting dan memastikan anak Indonesia tumbuh sehat harus bisa menjamin satu hal paling dasar yang bahkan tidak perlu standar tinggi untuk dipenuhi. Makanan yang dikirim ke mulut anak-anak tidak boleh mengandung racun. Bukan standar internasional. Bukan sertifikasi ISO. Hanya satu syarat jangan ada boraks di dalam telur kecap dan tempe goreng yang dimakan anak PAUD. Dan syarat sepedas itu ternyata tidak terpenuhi. Di program yang diklaim akan mengubah generasi Indonesia. Di negara yang Menkeu-nya baru saja bilang kita sedang survival mode tidak boleh bikin stupid mistake lagi. Suspend tiga hari dan perbarui sertifikasi bukan jawaban yang proporsional untuk 162 anak yang keracunan boraks. Yang proporsional adalah proses pidana yang nyata transparansi penuh tentang kondisi semua SPPG di seluruh Indonesia dan pertanggungjawaban yang konkret dari siapapun yang membuat keputusan untuk meloloskan SPPG beroperasi tanpa pengawasan yang memadai sejak awal.

Indonesia
0
0
1
47
Novri S
Novri S@Novri_ta·
@Dara_Cega Klo benar anggaran2 tsb berarti dia ini orang MISKIN. Kok gitu? Lah semua2 dibebankan ke negara. Pingin ini itu, bukannya beli tp pake anggaran negara. Miskin kok sombong
Indonesia
0
0
0
155