Ⓩ
40K posts

Sabitlenmiş Tweet
Ⓩ retweetledi
Ⓩ retweetledi
Ⓩ retweetledi
Ⓩ retweetledi

🚨 Spending just 5 to 10 minutes a day in this meditative pose does more than open your hips. It can ease lower back tension, support digestion, and calm a busy mind.
Research shows that gentle stillness paired with slow breathing helps lower stress hormones and guides the body into a relaxed, focused state.
It is a small daily habit, but one that can help reset your nervous system and bring real calm.

English

Ⓩ retweetledi

Tweet kayak gini saja jadi masalah . Ngerinyaaa 😹
SobatHAPE@SobatHAPE
Himbauan kepada para perempuan di X. Foto selfie kalian bisa berubah jadi nsfw saat ini gara gara bantuan grok. Ada baiknya untuk menghapus foto-foto terlebih dahulu. Grok bego
Indonesia
Ⓩ retweetledi

Dokter jarang banget bilang hal ini :
1. Cemas – Magnesium, B6, Omega-3
2. Susah tidur – Magnesium, B12, Vitamin D
3. Otak terasa “berkabut” – B1, B12, Omega-3
4. Libido rendah – Zinc, Vitamin D, B3
5. PMS – B6, Magnesium, Vitamin E
6. Sembelit – Magnesium, Vitamin C, Serat
7. Kedutan mata – Magnesium, B12, Kalium
8. Mudah marah – B1, B6, Magnesium
9. Ngidam gula – Chromium, Magnesium, Zinc
10. Depresi – Vitamin D, B12, Omega-3

Indonesia
Ⓩ retweetledi

"Pendidikan harus setara"
Ini keliru. Bagaimana pendidikan bisa setara kalau anaknya tidak setara?
Ada anak yang mau belajar. Ada anak yang tidak mau belajar.
Keduanya lalu diberi guru yang sama persis dengan cara mengajar yang sama persis.
Ya gagal lah???
Dongo???
Harusnya tiap anak mendapat guru yang memang cocok dengan akhlak, kompetensi, kebutuhan si anak. Tentu gurunya harus dilatih dan digaji layak untuk bisa melakukan semua itu. Kalau anaknya tertinggal, berarti harus digeber. Jangan disetarakan.
Tapi malah disetarakan. Akibatnya, malah muncul masalah baru yang sebelumnya tidak ada: Anak yang tidak mau belajar kemudian bergerombol lalu membully, memukul, dan mengucilkan anak-anak rajin yang mau belajar.
Yang pintar jadi bodoh. Yang bodoh tetap bodoh.
Tentu, "pembullyan dan penghancuran anak rajin" ini hanya berlaku untuk anak rajin yang miskin. Anak rajin kaya sih tinggal pindah dari sekolah negeri ke sekolah swasta elite yang bagus. Anak rajin miskin, idk, disuruh mati aja kali.
Coba cek kehidupan pribadi pengusung ideologi "kesetaraan" yang sloppy dan asal-asalan ini. Apakah mereka rela memasukkan anak mereka sendiri ke sekolah negeri? Atau apakah paradigma ini tajam ke bawah dan tumpul ke atas?
---
Bayangkan ada 2 orang, tinggi dan pendek, ingin melihat pertandingan bola dari balik pagar.
Di sini, selalu muncul fenomena aneh: para golongan yang fetish mengejar kesetaraan akan hampir pasti mengambil jalan pintas yang iseng dan gila dan sadis, yaitu memotong kaki orang yang tinggi dengan gergaji. Orang yang pendek dibiarkan.
Yang pendek tetap pendek. Yang tinggi jadi pendek, karena kakinya dipotong. Semua orang pun setara. Hore.
Ternyata, ideologi kegilaan massal potong kaki semacam itu bukanlah sesuatu yang asli dari Indonesia, melainkan merupakan suatu virus ideologi asing baru, berbahaya, dan menular yang muncul dan diimpor dari Barat.
Di Barat, wabah virus kegilaannya sudah jauh lebih gila. Misal, di California, anak SMP dilarang belajar aljabar karena "ada kalangan anak yang matematikanya masih sangat ketinggalan".
Apakah anak-anak tertinggal itu lalu digembleng dengan efektif agar bisa mengejar? Jawabannya tidak, karena para elite penguasa California itu tidak mampu membantu mereka, karena para elite itu bodoh dan tidak kompeten. Ketika dihadapkan dengan anak-anak tertinggal, para elite itu bingung, gagal, menyerah, lalu malah pindah memotongi kaki anak-anak yang sudah berhasil.
---
Jelas bahwa pendidikan tidak boleh disetarakan. Pendidikan harus sesuai kebutuhan.
Anak yang tidak mau belajar seharusnya dipisah, lalu secara khusus digembleng sampai menjadi anak yang mau belajar. Alasannya, karena mereka memang butuh itu. Ya harus dikasih dong.
Jangan malah semua dicampurkan jadi satu sekolah tanpa berpikir lalu dibiarkan. Bodoh. Jahat. Gila. Psikopat pemotong kaki.

Baru lvl 2, belum@CFALEVEL99
Dulu, sebelum ada zonasi, yang niat sekolah ngumpul sama yang niat. Itulah kenapa di sekolah favorit langka ada kasus kekerasan semacam ini. Kasus biasanya ada di sekolah "buangan". Sekarang semuanya nyampur. Guru ga bisa manage, ortu ga ada pilihan, maka anak yang jadi korban.
Indonesia
Ⓩ retweetledi
Ⓩ retweetledi
Ⓩ retweetledi
Ⓩ retweetledi
Ⓩ retweetledi










