alumni rsj🍉🇵🇸
771 posts

alumni rsj🍉🇵🇸
@_alumniRSJ
reguler poli jiwa🦈 researcher and lecturer. yes, I don't want to share my personal info. I made anon account on purpose.


Massa Aksi Kamisan: Prabowo-Gibran Sama Saja dengan Soeharto

A massive fire is burning in a gas pipeline following an explosion this morning in Gampong Blang Rubek, Lhoksukon District, North Aceh Regency, Aceh Province, Indonesia 🇮🇩 (May 22)


Salah satu instrumen untuk mencegah rupiah nyentuh 22.000 BI menaikkan suku bunga. Dari 4,75% menjadi 5,25%. Apa maksudnya ini? BI ingin agar swasta + investor mau tetap memegang dalam rupiah. Soalnya kalau suku bunga naik: - Imbal hasil/ return dari deposito, SBN, dan obligasi jadi lebih tinggi - Asing lebih tertarik taruh uangnya di Indo entah lewat deposito atau beli SBN/Obligasi - Walhasil permintaan rupiah jadi naik terhadap dollar. Asing jual dollar tapi beli rupiah. Cuman ada dampaknya menurut ekonom - Kredit jadi mahal, perusahaan yang punya utang, bunganya jadi lebih tinggi - Ngaruh ke cicilan dan KPR karena bunganya jadi lebih tinggi ( ini nih yang kena ke kita) - Risiko pertumbuhan ekonomi jadi melambat karena orang maupun perusahaan bisa kurangi konsumsi dan investasi. Btw ini belum tentu jadi obat mujarrab. Kata ekonom, kalau pasar masih belum percaya, suku bunga naik belum tentu buat mereka tertarik buat nyimpan dan beli aset dalam rupiah.





Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…

If men aren't allowed to have an opinion on abortion, then they shouldn't have to contribute to federal funding of breast cancer research


Karena ramai sekali di linimasa... Saya coba menonton jawaban Prof. Stella Christie, khususnya soal Market Value di kalangan teman-teman @direktoridosen Q: Seandainya Prof Stella dikasih wewenang untuk membuat kebijakan yang seluas-luasnya. Apa yang pertama kali diubah atau dibikin, diperbarui based on your background? Kalau tidak ada obstacle soal anggaran, enggak ada birokrasi lah. Seorang peneliti itu ada kegeraman individu karena kita sudah tahu knowledge-nya, tapi praktiknya tidak begitu A: Wah ini bisa panjang. Tapi saya kasih yang pendek ya, yang paling penting. Talent Development. Dan saya akan bahkan khusus untuk universitas kita. Kita belum sepenuhnya menghargai secara tepat betapa pentingnya talent kita di Universitas. Artinya pada saat ini, ada suatu problem yang jarang diketahui oleh publik, yaitu begitu sulitnya seorang dosen pindah dari suatu PTN ke PTN lainnya. Dan ini tidak terjadi di negara yang saya sudah lama, seperti di Amerika Serikat maupun di Tiongkok dan saya sangat tahu tentang iklim Eropa. Kalau di tempat-tempat lain, masing-masing individu dosen itu mempunyai kekuatan karena dialah yang menghasilkan hasil riset, dialah yang sungguh-sungguh dicari oleh universitas. Jadi kalau seorang yang sangat mampu, yang sangat berhasil meritokrasi ini, nanti akan dicari oleh Universitas lain, ditawarkan gaji yang lebih tinggi. Di sini susah, karena kita pakai sistem PNS yang semuanya sama rata gitu. Kita harus memberikan market value kepada talent kita terutama di akademia. Tentu saja banyak yang kita bisa ubah. Tapi kalau di swasta, ini sudah market value. Di akademia, di Indonesia, kita belum. Dan ini luar biasa, menjadi impediment kita untuk menghasilkan industri dan perekonomian berbasis sains dan teknologi. Karena kalau kita tidak mempunyai market value terhadap talent kita, terhadap dosen-dosen kita... mereka tidak akan berlomba-lomba menghasilkan pemikiran dan inovasi yang paling baik. Saya gampang saja. Kalau kita tanya, apakah kita punya startup industry yang berbasis teknologi di Indonesia. Tidak ada. Korea punya Samsung. China punya ya sudah tidak disebut lagi, punya banyak banget, Huawei. Tentu saja industri paling maju pada saat ini, paling masif dan banyak uang adalah industri AI, berbasis teknologi. Semua itu berbasis riset. Kita tidak punya itu, atau masih sangat sedikit. Karena kita tidak punya riset yang kompetitif. Kenapa kita risetnya tidak kompetitif, bukan karena dosen-dosen kita tidak mampu, mereka sangat mampu. Tetapi mereka tidak punya insentif untuk menghasilkan yang paling kompetitif karena mereka bahkan untuk bisa dipindah dari satu universitas ke universitas lain itu pun sulit. Jadi ekosistem... beberapa sudah saya mulai, insentif untuk melakukan riset yang terbaik. Insentif finansial kepada orangnya. Kemampuan ini sebagai di-market value. Jadi apa yang mereka kerjakan itu harusnya di-value oleh market dengan sekian. Kita harus bisa berani menginvestasikan, mendatangkan, atau memberikan gaji dan remunerasi yang setara dengan yang dihasilkan. Secara gampang adalah kita belum menghasilkan sesuatu yang kompetisi berdasarkan kualitas di universitas kita. Q: Jadi poinnya adalah memberikan apresiasi by market. Jadi setiap individu itu didorong untuk bisa menghasilkan riset berkualitas dengan insentif yang lebih baik gitu. Jadi itu misinya Prof Stella sekarang. A: Ya itu misi saya. Udah satu yang sudah saya kerjakan. Saya berhasil mengubah, tentu saja dibantu oleh seluruh teman-teman di Kementerian, berhasil mengubah regulasi. Tadinya kita tidak diperbolehkan untuk memberikan insentif finansial bagi dosen-dosen yang memenangkan riset grant funding dari Kementerian. Sejak Januari tahun ini, itu sudah diubah dan teman-teman kita yang berhasil memenang riset grant, mereka mendapatkan insentif finansial langsung kepada dirinya. to the pocket Q: Jadi sekarang dosen, penghasilannya mungkin harusnya lebih baik. Dosen yang berprestasi A: Yes, dosen yang berprestasi. Ini mungkin saya mungkin bicara blak-blakan. Banyak keluhan, mungkin kemarin juga kita lihat ada di koran, berita di PTS Perguruan Tinggi Swasta bahwa gaji-gaji dosen ini miris ya. Yang akan saya bicarakan ini mungkin akan dapat banyak hujatan. Tapi begini, saya sangat mengerti kemirisan ini. Tetapi, terus terang teman-teman, kita tidak bisa menyelesaikan kemirisan gaji ini hanya dengan menetapkan misalnya batas... oke, harus setidaknya sekian. Karena, ini berarti kita lagi-lagi tidak memakai market value. Kita harus... perguruan tinggi kita harus berkompetisi. Dan gaji dan remunerasi itu harus berdasarkan kualitas dan kompetisi. Jadi, bukannya saya tidak prihatin. Sangat prihatin. Tetapi yang kita ingin lakukan adalah bagaimana membentuk ekosistem agar remunerasinya itu lebih tinggi dan setara dengan kualitas yang dihasilkan. Dan jangan sampai ada satu yang tidak pernah tersebut, tetapi saya ingin menyebutkannya. Di Indonesia ini, kita berpikir akademia, universitas, perguruan tinggi itu adalah suatu yang notabene-nya harus dikerjakan tanpa kompetisi. Jadi harus disediakan anggarannya, semuanya harus mendapatkan, terbagi-bagi. Dan tidak sama dengan persaingan industri, persaingan di swasta. Itu adalah suatu pemikiran yang menurut saya, sama sekali salah. Kemajuan sains dan teknologi di semua negara itu karena kompetisi. Dan inilah yang harus kita akui. Dan kalau kita mau menjadi bangsa maju, kita harus bersama-sama untuk 'ayo, kita mau berkompetisi'. Jangan takut kompetisi. Dan jangan berharap dan jangan memikirkan bahwa karena itu di Perguruan Tinggi, tidak perlu kompetisi.


Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok

what opinion about men do you have that makes people feel like this???

Hot take:













