alumni rsj🍉🇵🇸

771 posts

alumni rsj🍉🇵🇸 banner
alumni rsj🍉🇵🇸

alumni rsj🍉🇵🇸

@_alumniRSJ

reguler poli jiwa🦈 researcher and lecturer. yes, I don't want to share my personal info. I made anon account on purpose.

Katılım Haziran 2024
120 Takip Edilen0 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
alumni rsj🍉🇵🇸
alumni rsj🍉🇵🇸@_alumniRSJ·
the hypocrisy when warganet ngomongin depresi dan su1c1d3. gembar-gembor orang depresi perlu di support, but when one showed/shared their depression story/behavior langsung "i don't wanna read any of that"
alumni rsj🍉🇵🇸 tweet mediaalumni rsj🍉🇵🇸 tweet media
English
1
0
0
690
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Iman Zanatul Haeri
Iman Zanatul Haeri@zanatul_91·
Hari ini, 20 Mei 2026 sebenarnya sedang terjadi 3 Peristiwa Besar: 1. Demo Guru di depan DPR-RI 2. Rapat Paripurna Presiden di DPR-RI 3. Sidang gugatan UU APBN 2026, menyoal MBG, keterangan Saksi dari perkara nomor 40.
Iman Zanatul Haeri tweet media
Indonesia
58
12.4K
24.1K
255.4K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Ahmad Siregar
Ahmad Siregar@akbarahmad2277·
Sejumlah guru honorer madrasah dari berbagai daerah demo di depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat pada Rabu (20/5/2026) pukul 13.00 WIB. Terjadi kemacetan yang cukup panjang sehingga terdapat pengalihan rute TJ pada koridor Koridor 9, Rute 1W, 3F, 9A, 10H, T31, S61 dan SH2. Gaji guru naik hampir 300%....eh cuma 3 detik kok...
Indonesia
167
14.6K
20.8K
2.1M
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Asura 🔥
Asura 🔥@Asura0599·
Lihat? Kelas menengah dijadiin tumbal buat menyalamtkan ekonomi RI 💀 Pas BI naikin suku bunga, bank-bank itu biasanya gercep naikin bunga kredit, tapi lelet banget kalau suruh naikin bunga tabungan. Buat kalian yang KPR atau cicilan kendaraannya udah masuk masa floating, siap-siap aja tagihan bulanan tiba-tiba bengkak. Niatnya nyelamatin mata uang negara, tapi yang jadi tameng hidupnya ya dompet kelas menengah. ​ PHK JALUR SUNYI? Perusahaan yang operasionalnya ngandelin utang bank bakal kelimpungan karena beban bunga membesar. Ujung-ujungnya bos-bos bakal milih jalur efisiensi. Mulai dari hiring freeze (stop rekrut orang baru), potong bonus, sampai yang paling horor yah layoff massal. Jadi, demi menahan Rupiah, pertumbuhan lapangan kerja yang dikorbankan. Seperti kata ekonom, ini bukan obat mujarab. Kalau asing trust issue sama pasar Indonesia dan tetep ogah naruh duitnya walau bunga udah tinggi, kita bakal kena combo double. Rupiah tetep nyungsep, cicilan terlanjur mahal, dan cari kerja makin susah karena ekonomi macet. Momen ini sering disebut sebagai jebakan stagflasi BTW.
Abul Muzaffar@abulmuzaffar10

Salah satu instrumen untuk mencegah rupiah nyentuh 22.000 BI menaikkan suku bunga. Dari 4,75% menjadi 5,25%. Apa maksudnya ini? BI ingin agar swasta + investor mau tetap memegang dalam rupiah. Soalnya kalau suku bunga naik: - Imbal hasil/ return dari deposito, SBN, dan obligasi jadi lebih tinggi - Asing lebih tertarik taruh uangnya di Indo entah lewat deposito atau beli SBN/Obligasi - Walhasil permintaan rupiah jadi naik terhadap dollar. Asing jual dollar tapi beli rupiah. Cuman ada dampaknya menurut ekonom - Kredit jadi mahal, perusahaan yang punya utang, bunganya jadi lebih tinggi - Ngaruh ke cicilan dan KPR karena bunganya jadi lebih tinggi ( ini nih yang kena ke kita) - Risiko pertumbuhan ekonomi jadi melambat karena orang maupun perusahaan bisa kurangi konsumsi dan investasi. Btw ini belum tentu jadi obat mujarrab. Kata ekonom, kalau pasar masih belum percaya, suku bunga naik belum tentu buat mereka tertarik buat nyimpan dan beli aset dalam rupiah.

Indonesia
46
2.9K
6.2K
342.1K
alumni rsj🍉🇵🇸
alumni rsj🍉🇵🇸@_alumniRSJ·
@discord_support discord, please help. I cannot login to my account. I tried to submit a request but I need to login, I can't login. please help😭😭😭
alumni rsj🍉🇵🇸 tweet media
English
0
0
0
25
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
#intinyadeh The Economist bilang: "Prabowo Subianto is too spendthrift & too authoritarian, is eroding its finances & its democracy, a thuggish general, temperament is so mercurial, whatever Mr Prabowo’s intentions, dangers loom" gw translate buat para buzzer: "Prabowo Subianto terlalu boros & terlalu otoriter, menggerogoti keuangan & demokrasi, seorang jenderal preman, temperamennya tidak stabil & cogil, apa pun niat Prabowo, bahaya mengintai." Media lokal ga akan berani speak up kek gini.
The Economist@TheEconomist

Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…

English
48
8K
20.2K
448.6K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Historic Vids
Historic Vids@historyinmemes·
An IBM training manual from 1979.
Historic Vids tweet media
English
152
2.3K
17.4K
369.3K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
txt gajelas
txt gajelas@txtdarigajelas·
waduh
txt gajelas tweet media
English
177
5.7K
24.2K
375.8K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Gila. Ni orang baca aturan-aturan yang ngatur dosen-dosen di bawah kementerian dia gak sih? Baca alokasi anggaran? Banyak banget konteks yang hilang. Banyak kewajiban dosen selain riset yang terlewatkan. Kalau Wakil Menteri aja kaya gini, ya gak ada harapan.
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha

Karena ramai sekali di linimasa... Saya coba menonton jawaban Prof. Stella Christie, khususnya soal Market Value di kalangan teman-teman @direktoridosen Q: Seandainya Prof Stella dikasih wewenang untuk membuat kebijakan yang seluas-luasnya. Apa yang pertama kali diubah atau dibikin, diperbarui based on your background? Kalau tidak ada obstacle soal anggaran, enggak ada birokrasi lah. Seorang peneliti itu ada kegeraman individu karena kita sudah tahu knowledge-nya, tapi praktiknya tidak begitu A: Wah ini bisa panjang. Tapi saya kasih yang pendek ya, yang paling penting. Talent Development. Dan saya akan bahkan khusus untuk universitas kita. Kita belum sepenuhnya menghargai secara tepat betapa pentingnya talent kita di Universitas. Artinya pada saat ini, ada suatu problem yang jarang diketahui oleh publik, yaitu begitu sulitnya seorang dosen pindah dari suatu PTN ke PTN lainnya. Dan ini tidak terjadi di negara yang saya sudah lama, seperti di Amerika Serikat maupun di Tiongkok dan saya sangat tahu tentang iklim Eropa. Kalau di tempat-tempat lain, masing-masing individu dosen itu mempunyai kekuatan karena dialah yang menghasilkan hasil riset, dialah yang sungguh-sungguh dicari oleh universitas. Jadi kalau seorang yang sangat mampu, yang sangat berhasil meritokrasi ini, nanti akan dicari oleh Universitas lain, ditawarkan gaji yang lebih tinggi. Di sini susah, karena kita pakai sistem PNS yang semuanya sama rata gitu. Kita harus memberikan market value kepada talent kita terutama di akademia. Tentu saja banyak yang kita bisa ubah. Tapi kalau di swasta, ini sudah market value. Di akademia, di Indonesia, kita belum. Dan ini luar biasa, menjadi impediment kita untuk menghasilkan industri dan perekonomian berbasis sains dan teknologi. Karena kalau kita tidak mempunyai market value terhadap talent kita, terhadap dosen-dosen kita... mereka tidak akan berlomba-lomba menghasilkan pemikiran dan inovasi yang paling baik. Saya gampang saja. Kalau kita tanya, apakah kita punya startup industry yang berbasis teknologi di Indonesia. Tidak ada. Korea punya Samsung. China punya ya sudah tidak disebut lagi, punya banyak banget, Huawei. Tentu saja industri paling maju pada saat ini, paling masif dan banyak uang adalah industri AI, berbasis teknologi. Semua itu berbasis riset. Kita tidak punya itu, atau masih sangat sedikit. Karena kita tidak punya riset yang kompetitif. Kenapa kita risetnya tidak kompetitif, bukan karena dosen-dosen kita tidak mampu, mereka sangat mampu. Tetapi mereka tidak punya insentif untuk menghasilkan yang paling kompetitif karena mereka bahkan untuk bisa dipindah dari satu universitas ke universitas lain itu pun sulit. Jadi ekosistem... beberapa sudah saya mulai, insentif untuk melakukan riset yang terbaik. Insentif finansial kepada orangnya. Kemampuan ini sebagai di-market value. Jadi apa yang mereka kerjakan itu harusnya di-value oleh market dengan sekian. Kita harus bisa berani menginvestasikan, mendatangkan, atau memberikan gaji dan remunerasi yang setara dengan yang dihasilkan. Secara gampang adalah kita belum menghasilkan sesuatu yang kompetisi berdasarkan kualitas di universitas kita. Q: Jadi poinnya adalah memberikan apresiasi by market. Jadi setiap individu itu didorong untuk bisa menghasilkan riset berkualitas dengan insentif yang lebih baik gitu. Jadi itu misinya Prof Stella sekarang. A: Ya itu misi saya. Udah satu yang sudah saya kerjakan. Saya berhasil mengubah, tentu saja dibantu oleh seluruh teman-teman di Kementerian, berhasil mengubah regulasi. Tadinya kita tidak diperbolehkan untuk memberikan insentif finansial bagi dosen-dosen yang memenangkan riset grant funding dari Kementerian. Sejak Januari tahun ini, itu sudah diubah dan teman-teman kita yang berhasil memenang riset grant, mereka mendapatkan insentif finansial langsung kepada dirinya. to the pocket Q: Jadi sekarang dosen, penghasilannya mungkin harusnya lebih baik. Dosen yang berprestasi A: Yes, dosen yang berprestasi. Ini mungkin saya mungkin bicara blak-blakan. Banyak keluhan, mungkin kemarin juga kita lihat ada di koran, berita di PTS Perguruan Tinggi Swasta bahwa gaji-gaji dosen ini miris ya. Yang akan saya bicarakan ini mungkin akan dapat banyak hujatan. Tapi begini, saya sangat mengerti kemirisan ini. Tetapi, terus terang teman-teman, kita tidak bisa menyelesaikan kemirisan gaji ini hanya dengan menetapkan misalnya batas... oke, harus setidaknya sekian. Karena, ini berarti kita lagi-lagi tidak memakai market value. Kita harus... perguruan tinggi kita harus berkompetisi. Dan gaji dan remunerasi itu harus berdasarkan kualitas dan kompetisi. Jadi, bukannya saya tidak prihatin. Sangat prihatin. Tetapi yang kita ingin lakukan adalah bagaimana membentuk ekosistem agar remunerasinya itu lebih tinggi dan setara dengan kualitas yang dihasilkan. Dan jangan sampai ada satu yang tidak pernah tersebut, tetapi saya ingin menyebutkannya. Di Indonesia ini, kita berpikir akademia, universitas, perguruan tinggi itu adalah suatu yang notabene-nya harus dikerjakan tanpa kompetisi. Jadi harus disediakan anggarannya, semuanya harus mendapatkan, terbagi-bagi. Dan tidak sama dengan persaingan industri, persaingan di swasta. Itu adalah suatu pemikiran yang menurut saya, sama sekali salah. Kemajuan sains dan teknologi di semua negara itu karena kompetisi. Dan inilah yang harus kita akui. Dan kalau kita mau menjadi bangsa maju, kita harus bersama-sama untuk 'ayo, kita mau berkompetisi'. Jangan takut kompetisi. Dan jangan berharap dan jangan memikirkan bahwa karena itu di Perguruan Tinggi, tidak perlu kompetisi.

Indonesia
48
989
2.9K
69K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
@Ableh_Kusut Iya makanya ceritanya ngasih tau. Biar gak ada lagi. Cari karir yang lain aja.
Indonesia
2
1
138
9K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing@Dospemz·
Hey @Harvard, One of your graduates (Stella Christie) is out here arguing against salary floors for lecturers, claiming “competition” and “quality-based pay” are essential for university progress and national scientific advancement. Yet under the very same regime she serves, she fails to explain why MBG staff can earn far more than the lecturers who actually teach, research, and carry the university’s core academic mission. For Harvard, having an alumna publicly defend this kind of selective and hypocritical logic is honestly embarrassing. Thank you for your attention to this matter!
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen

Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok

English
120
6.4K
19.2K
578K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
k
k@alfkkifine·
“Men get raped too, you dumb bitch.” Yes. Yes they do. Men get raped too, and their pain is real. Their trauma matters. Their voices deserve to be heard, believed, and protected. They deserve support without shame, without mockery, and without being told to “man up” or stay silent. Survivors are survivors, regardless of gender. So if you care so much, are you actually standing up for them? Are you holding their rapists accountable? Are you reminding men that what they wore, what they drank, how old they were, or whether they froze in fear was never the cause of their assault? Are you telling them that rape happens for one reason only: because a rapist chose to rape? Or do men’s experiences only matter to you when you can weaponize them against women? Because real advocacy doesn’t show up only when women are speaking about violence. Real advocacy means fighting for all survivors, even when it doesn’t serve your argument. It means creating space for male survivors to speak without turning their trauma into a debate tactic. It means caring about justice more than scoring points. If the only time you mention male victims is to silence women, then you are not defending men. You are exploiting their trauma to dismiss someone else’s pain. Male survivors deserve better than that. And women do too.
k@alfkkifine

what opinion about men do you have that makes people feel like this???

English
172
3.9K
16.2K
904.4K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
goma
goma@soigomaa·
SA is the only crime that cannot be justified by any circumstances. Murder? It could be self defense. Cannibalism? It could be a result of extreme hunger or lack or resources. Theft? Could occur from desperation to feed a family. SA? There is no excuse. It's an act that causes lifelong trauma, driven solely by the perpetrators feeling and selfish desires.
Chaos@kizzriee

Hot take:

English
279
2.2K
15.9K
839K
alumni rsj🍉🇵🇸 retweetledi
Vivian
Vivian@suchnerve·
Katara really said “The solution to misogyny is violence” and she was RIGHT!
English
286
19K
152.7K
1.8M