Afina
24.4K posts

Afina retweetledi
Afina retweetledi

INGAT NAMA MEREKA:
Andi Angga Prasadewa (Angga)
Rumah Zakat @rumahzakat — Kapal Josef
Bambang Noroyono (Abenk)
Republika @republikaonline — Kapal Bora Alize
Thoudy Badai Rifan Billah (Thoudy)
Republika — Kapal Ozgurluk
Andre Prasetyo Nugroho (Andre)
Tempo @tempodotco — Kapal Ozgurluk
Rahendro Herubowo (Heru)
inews @officialinews_ — Kapal Ozgurluk
SOS!
Sumber: Instagram @globalpeaceconvoy
Indonesia

Barusan diingfo temen, ternyata muralnya masih ada. wkwk gilee dah 10 tahun 😂😂



Urip & Resist 🍉@mmaryasir
2016 Nyoba bikin mural sendiri di ruang BEM UI. wkwk tpi pas ngecet dibantuin pengurus yg lain. Ga tau masih ada atau ga muralnya. Zaman sebelum BEM UI isinya ribut2 mulu tiap tahun sampe jadi mainan buzzer dan rezim.
Indonesia
Afina retweetledi

“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?”
Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: projectmultatuli.org/bencana-inform…
Indonesia
Afina retweetledi

Emang performative dia tu selama ini
Sedgrick@ctrl_sedgrick
when you start realizing your GOAT might be washed…
Indonesia
Afina retweetledi
Afina retweetledi

sejak 1965 sampai sekarang nasionalisme dijadikan topeng fasisme yg menggunakan demokrasi semu bagi kediktator militeris komprador kapitalis global
Nerv.@nervinette
Ada yg bilang nasionalisme hanyalah pendukung rejim yg sekarang wkwkw klo bukan penyembah rejim yg sekarang dianggep ga nasionalis ckckckckck separah itu rejim ini
Indonesia

Sekarang jadi makin kerasa kan, kalau membaca atau belajar itu emang bentuk perlawanan.
Meutia Faradilla@meutiafaradilla
Beneran kan. Of course he wouldn't say anything. He hates academician. He hates it to his bone. He doesn't care at all about our educational system. Not an ounce.
Indonesia
Afina retweetledi
Afina retweetledi

Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬

Indonesia






