Dhoni Zustiyantoro

20.8K posts

Dhoni Zustiyantoro banner
Dhoni Zustiyantoro

Dhoni Zustiyantoro

@dhonizus

Academic labour, amateur runner.

Kota Semarang, Central Java Katılım Ağustos 2009
437 Takip Edilen604 Takipçiler
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Geger Riyanto
Geger Riyanto@gegerriy·
Publikasi baru tentang kenyataan pasca-konflik di Maluku. Saya menyoroti bagaimana narasi akhir zaman, yang dilecut oleh ketegangan tenurial, berbenturan dengan trauma kekerasan dua dekade silam. Ini memunculkan kontradiksi sehari-hari yang dipendam. tandfonline.com/eprint/IZI4NZI…
Indonesia
1
49
139
4.4K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Marcello Musto
Marcello Musto@MarMusto·
Marx published "The Poverty of Philosophy" - his first book on political economy - in 1847, when he was 29. The notes on his own copy demonstrate his self-critical spirit & how he continued to develop his ideas. He wrote it in French, so that his adversary Proudhon could read it. He wrote: "Economists say that feudalism is artificial while capitalism is natural. They resemble the theologians who think that every religion which is not theirs is an invention of men, while their own is an emanation from god. There has been history but there is no longer any".
Marcello Musto tweet media
English
29
575
3.1K
128.7K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
DrHS
DrHS@BuruhSiluman·
Cek kondisi dosenmu, mungkin uring2an karena tahu anggaran hibah dikti hanya 1 hari MBG
Indonesia
0
3
4
354
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Magdalene
Magdalene@magdaleneid·
Hari ini, 8 April 2026, Magdalene bersama Asosiasi Media Siber Indonesia (@AMSI_ID) telah melakukan konsultasi dengan Dewan Pers yang diwakili oleh Abdul Manan, Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers terkait pembatasan konten di akun Instagram kami. Berikut rangkumannya!
Magdalene tweet media
Indonesia
9
737
1.5K
27.9K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Ubud Writers & Readers Festival
Ubud Writers & Readers Festival@ubudwritersfest·
Kita akan diajak membedah struktur cerita agar lebih kuat dan berkesan. Peserta mengeksplorasi alur, memahami konflik utama dan konflik sampingan, serta membahas pilihan ending: terbuka, mengejutkan, atau pahit. Fokus pada analisis, contoh, dan diskusi.
Ubud Writers & Readers Festival tweet mediaUbud Writers & Readers Festival tweet media
Indonesia
1
1
1
118
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Ariel Heryanto
Ariel Heryanto@ariel_heryanto·
"cara negara melihat kekuasaan dan kedaulatan secara kaku, seolah harus selalu tampak kuat dan tidak boleh mengakui kelemahan. Inilah cerminan maskulinitas toksik." Tulisan hebat dari akademikus hebat Prof Evi Eliyanah theconversation.com/gaya-maskulin-…
Indonesia
7
283
690
14.4K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Geger Riyanto
Geger Riyanto@gegerriy·
Yang menulis, menyunting, mereview, dosen dan peneliti. Mereka juga yang merawat dan membesarkan jurnal. Tidak dapat sepeser pun. Kalau mau tulisannya bebas diakses, bayar puluhan juta. Penerbit? Layout dan proofread seadanya. Ratusan kampus bayar miliaran ke penerbit.
Jey@koucilok

@LiterasiFess Bahkan di tingkat university aja dosen-dosen ngebagiin pdf bajakan. Lu knp dah min? Bacaan itu buat semua kalangan manusia. Ga ada siapa yang lebih berhak.

Indonesia
6
467
1.8K
63.8K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
LBH JAKARTA
LBH JAKARTA@LBH_Jakarta·
Koalisi Selamatkan Pendidikan Indonesia bersama guru dan masyarakat sipil telah mengajukan permohon Judicial Review UU APBN 2026 di MK terkait penyelundupan kebijakan MBG yang menguras anggaran penyelenggaraan pendidikan nasional dan berdampak pada kesejahteraan guru & pendidikan
LBH JAKARTA tweet media
Indonesia
15
657
1K
16K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Routledge Books
Routledge Books@routledgebooks·
📚 In celebration of World Book Day, we're spotlighting one of our open access books. The first of its kind, this book offers a unique study of awkwardness, not just as an emotion, but as a cultural phenomenon. 🔗 Available open access: spr.ly/6013hCuDR
Routledge Books tweet media
English
1
66
259
13.8K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Zainal Arifin Mochtar
Zainal Arifin Mochtar@zainalamochtar·
Saya kutipkan perkataan Ali bin Abi Thalib di Nahjul Balagha, ""Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya." Sampai ketemu malam nanti di Mesjid @jogokariyan
Indonesia
56
615
3K
72.4K
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Nabiyla Risfa Izzati
Nabiyla Risfa Izzati@nabiylarisfa·
Disagree. Dikotomi common law vs civil law dalam belajar hukum sudah lama nggak relevan. Toh ketika kita belajar hukum ke negara lain, yang dipelajari bukan hukum dan sistem hukum di negara itu per se, tapi teorinya; asasnya; logicnya; dinamikanya; dsb.
logika sederhana@nalar_logis

Ada baiknya @LPDP_RI kedepan mengurangi porsi belajar HUKUM ke amerika Alasannya sederhana, sistem hukum kita dan amerika berbeda secara fundamental Kita : - Civil Law (Eropa Continental) - Pemutus : Hakim - Acuan Utama : Peraturan Perundangan Amerika : - Common Law (Anglo Saxon) - Pemutus : Juri - Acuan Utama : Yurisprudensi Kalau mau ya dikirim ke negara-negara eropa yg juga bersistem Civil Law (Eropa Continental) Belajar ke negara Common Law untuk perbandingan tentu boleh-boleh saja namun sebaiknya pada yg pasti-pasti saja karena ini soal tanggung jawab dana publik

Indonesia
7
105
534
26.8K
Dhoni Zustiyantoro
Dhoni Zustiyantoro@dhonizus·
An editorial firewall should prevent owners, advertisers, and sponsors from influencing news content, yet Krisdinanto argues it often erodes gradually through routine compromises rather than outright censorship. tandfonline.com/eprint/KHHMJFZ…
English
0
0
1
37
Dhoni Zustiyantoro retweetledi
Hellena Yoranita Souisa, PhD
Hellena Yoranita Souisa, PhD@sweethellena·
MBG ini memang proyek yang mengada-ada. Ia tidak bergizi, tidak gratis, tidak tepat sasaran, tidak mencerdaskan, tidak adil, dan hanya memperkaya sekelompok orang. Padahal masih banyak yang lebih urgent yang harus dilakukan oleh pemerintah.
Indonesia
356
18.5K
37.8K
530.3K
Dhoni Zustiyantoro
Dhoni Zustiyantoro@dhonizus·
Saya berupaya khusnudzon, tapi tetap saja tak menemukan jawaban masuk akal atas keputusan-keputusan pemerintahan akhir-akhir ini, termasuk yang satu ini: petugas SPPG jadi ASN, sedangkan guru (honorer) tak mendapat perhatian layak. bbc.com/indonesia/arti…
Indonesia
0
0
1
92