




Isman HS
108.8K posts

@ismanhs
Weaving stories and laughters IG: @ismanhs FB: https://t.co/M7xipe2Gsd CP: Angel ([email protected])








tbh gue ga nyangka akun yg tiap hari share berita palsu bisa ngasih jawaban panjang lebar seperti ini well gue jawab ya 1. Mas, justru yang bikin strawman itu balasan mas sendiri. Saya tidak bilang semua orang yang pilih GoRide Hemat adalah “musuh” atau tidak peduli driver. Saya soroti hipokrisinya segmen orang yang suka posting “kasihan driver Gojek, harus sejahtera”, tapi setiap hari pilih opsi termurah + promo gila-gilaan, lalu gak pernah kasih tips. Itu fakta perilaku yang observable, bukan musuh fiktif. 2. Ya, Gojek (dan Grab) memang ambil komisi besar dulu (sekitar 20%), dan mereka desain promo + tarif hemat supaya volume naik & dominasi pasar. Itu benar. Tapi konsumen bukan korban pasif. Konsumen yang terus pilih yang termurah memberi sinyal pasar bahwa tarif rendah itu oke. Dengan kata lain ya pada dasarnya customer suka dengan praktik eksploitasi ini. 3. Mas bilang solusinya bukan tips atau pilih yang mahal, tapi “ganti status mitra jadi pekerja + jaminan sosial”. Itu klasik kiri-utopis Kalau driver jadi karyawan tetap, Gojek harus bayar UMR, BPJS full, cuti, dll. Biayanya naik drastis, tarif ke penumpang harus naik (atau perusahaan rugi & kurangi armada). Siapa yang bayar? Tetap penumpang. 4. Mau driver sejahtera = harus ada yang bayar lebih. Entah lewat tarif naik, tips, atau pilih opsi premium. Menyalahkan “korporasi saja” sambil tetap pilih opsi hemat tiap hari itu tidak rasional. 5. Kalau mas betul-betul peduli kesejahteraan driver, dukung tarif yang lebih masuk akal + komisi rendah + insentif transparan. Bukan narasi “semua salah platform, penumpang cuma korban”. Itu juga simplifikasi berlebihan. Market bukan charity


Dampak Dollar ke Rupiah bagi Rakyat Desa








Soeharto tak pernah diseret ke ruang sidang. Pada 3 Agustus 2000, Kejagung menetapkan Soeharto pribadi sebagai *terdakwa* korupsi Kasus 7 Yayasan. 7 yayasan itu harusnya mengelola uang yang dititipkan bank-bank milik negara. Eh, hampir Rp 6 triliun hilang dicuri Soeharto. Dalam dakwaan itu, yang mencuri bukan Tommy, bukan anak atau antek Soeharto, melainkan Soeharto pribadi sebagai ketua yayasan-yayasan itu. Oleh Jaksa Agung Marzuki Darusman dan timnya, Soeharto terbukti dan tertangkap basah dengan tangannya sendiri berbuat kriminal mencuri uang cash dari negara sebesar ~Rp 6 triliun. Fatal. Persidangan disiapkan dalam keadaan mencekam. Pasalnya, gedung Kejaksaan Agung baru saja dibom sejam setelah Tommy Soeharto diperiksa di atas kasus korupsi lain (tak ada hubungannya dengan Kasus 7 Yayasan). Pada 31 Agustus 2000, Soeharto tidak hadir dari persidangan dakwaannya karena "sakit". Yang hadir adalah bom. Bom besar itu ditaruh di sebuah bus di samping tempat persidangan tempat Soeharto seharusnya berada. Bom tersebut meledak. Pada 14 September 2000, Soeharto kembali bolos dari persidangan karena "sakit". Sehari sebelumnya, Bursa Efek di SCBD baru saja meledak oleh serangan bom teroris. 15 orang tewas tercabik menjadi potongan tubuh manusia yang gosong. Bergerak atas informasi yang dimilikinya, Presiden Gus Dur memerintahkan kepolisian untuk segera memeriksa Tommy Soeharto dan gerombolan preman FPI yang Tommy pelihara sebagai tersangka utama pengeboman Bom Bursa Efek. Keadaan negara sangat mencekam. Orang takut keluar rumah karena takut bom. Pegawai kejaksaan dan kehakiman lebih cemas lagi, mengingat mereka *sudah* dibom. Bagaimana kalau bom selanjutnya meledak di wajah mereka, atau wajah anak mereka? Seminggu kemudian pada 23 September 2000, tim dokter mengumumkan bahwa sebenarnya Soeharto yang mengaku-ngaku sakit sampai bolos sebenarnya sehat-sehat saja secara fisik. Hanya saja, ia berkelakuan "mengalami sakit mental" dan "syarafnya terganggu" selama diperiksa, sehingga tak layak disidang. Seminggu kemudian pada 28 September 2000, majelis hakim menyetop dakwaan terhadap Soeharto dan menghentikan persidangan. Soeharto berhasil lolos. 8 tahun kemudian, Soeharto mati. 2 tahun kemudian pada 2010, kehebohan melanda kasus penggugatan kerugian Yayasan Supersemar. Soeharto boleh saja mati, tetapi negara yang bank-bank BUMN nya dirampok Soeharto masih ada. Selama bertahun-tahun, negara menuntut uangnya kembali, misal sebanyak Rp 4.4 triliun dari Yayasan Supersemar. Ketika vonis hampir dijatuhkan, terjadi suatu trik sulap. Kertas dokumen putusan kasasi ternyata tidak sengaja mengalami salah ketik, sehingga salah satu paket ganti rugi yang harus dibayarkan Yayasan Supersemar bukan Rp 185 miliar, melainkan Rp 185 juta saja. Karena salah ketik. Ups. Akhirnya kesalahan ketik kecil ini berhasil diperbaiki 5 tahun kemudian. Selama 5 tahun itu, segala cara aksi legal dilancarkan untuk menunda putusan finalnya. Ternyata, yang harus membayar uangnya bukan keluarga Cendana sebagai ahli waris Soeharto yang saat masih presiden menguasai langsung yayasan-yayasan itu via jabatan formal, melainkan badan yayasan itu sendiri sebagai suatu entitas terpisah. Gerombolan keluarga Cendana membayar ganti rugi ke negara sebanyak nol rupiah. Pengacara keluarga Cendana, O.C. Kaligis, besorak menyombong: "Kami menang mutlak". Soeharto dan keluarganya bukan hanya lolos dari penjara, melainkan juga lolos dari harus mengembalikan Rp 4.4 triliun uang cash yang telah mereka curi lewat Yayasan Supersemar. Yang harus membayarnya malah orang lain. Sampai hari ini, uang cash 4.4 triliun rupiah yang dirampok Soeharto dari bank-bank milik negara masih disimpan dalam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset pribadi keluarga Cendana.

🚨 GUYS PLISS KAWAL, JURNALIS INI DAPAT SEBUAH ANCAMAN AKAN DI SIRAM AIR KERAS 🚨 Seorang jurnalis Mongabay Indonesia di Kalimantan Tengah bernama Budi Baskoro (BB) mendapat ancaman disiram air keras melalui pesan WhatsApp setelah mengunggah ajakan nobar (nonton bareng) film dokumenter “Pesta Babi”🧵




“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?” Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: projectmultatuli.org/bencana-inform…



Kalau yang nulis orang Indonesia bakal dicap antek asing nih. Nah, sekarang yang nulis dari luar beneran. Artinya, mata dunia semakin terbuka tentang situasi di Indonesia. Dan ini bukan hanya media Barat, sebelumnya Kamar Dagang China juga komplain ttg situasi Indonesia. Apa masih akan menggunakan narasi antiasing untuk delegitimasi kritik dan masukan? Khawatir rupiah bakal terus nyungsep.

