justin
40.5K posts

justin
@jsticious_
manga, anime, and books | "zura janai, katsura da!" | https://t.co/rhzPUG7GhU





Kita atau lebih tepatnya saya, menginginkan karya sastra terjemahan dari negara-negara di luar sastra canon Eropa dan Amerika dan Asia Timur. Semisal Afrika dan Asia Selatan maupun Asia Barat. Seperti contoh buku di bawah, buku-buku bagus yg mungkin saya tidak akan tahu dan baca jika tidak diterbitkan penerbit yg memang kurasinya unik.



barusan ngobrol2 dengan teman2 KOMDIGI jadi mulai ngerti kisah di balik layar dari pembatasan umur & rating game ... kesimpulan saya, dari sisi platform mereka keberatan karena ada 70 jt anak Indonesia, ini bisa bikin rejeki platform jadi jeblok ..






Ada satu esai menarik dari Eka Kurniawan dan menjadi kegelisahan saya sebagai pembaca sastra terjemahan akhir-akhir ini. Kecendrungan raksasa kapital penerbitan melihat buku atau sastra hanya sebagai produk industrial hanya akan menciptakan suatu formula produksi. Formula produksi sastra yg "sejenis". Penerbit kapital besar yg menguasai distribusi dan percetakan akan menciptakan selera pembaca yg "sejenis" tanpa disadari oleh pembaca. Di sini pasar diciptakan, bukan cipta dipasarkan. Semakin masif penerbit kapital menciptakan selera pembaca, semakin sedikit ruang untuk sastra alternatif. Keanekaragaman bacaan juga terancam jika industri hanya dikuasai bacaan sejenis. Asian literature yg digadang-gadang penerbit Gramedia masuk ke dalam penerbit kapital yg menyeramgamkan selera pembaca. Asian Literature sungguh luas, berbeda dengan penerbit kapital lainnya, Mizan. Mizan masih menerbitkan sastra Asia dari beberapa negara tidak hanya Jepang dan Korea. Jika menyangkut penerbit kapital yg memang fokus menerbitkan keanekaragaman sastra dunia, salah satunya adalah Penerbit Obor. Obor menerbitkan beberapa sastra dunia bahkan dari negara tetangga kita.

Ada satu esai menarik dari Eka Kurniawan dan menjadi kegelisahan saya sebagai pembaca sastra terjemahan akhir-akhir ini. Kecendrungan raksasa kapital penerbitan melihat buku atau sastra hanya sebagai produk industrial hanya akan menciptakan suatu formula produksi. Formula produksi sastra yg "sejenis". Penerbit kapital besar yg menguasai distribusi dan percetakan akan menciptakan selera pembaca yg "sejenis" tanpa disadari oleh pembaca. Di sini pasar diciptakan, bukan cipta dipasarkan. Semakin masif penerbit kapital menciptakan selera pembaca, semakin sedikit ruang untuk sastra alternatif. Keanekaragaman bacaan juga terancam jika industri hanya dikuasai bacaan sejenis. Asian literature yg digadang-gadang penerbit Gramedia masuk ke dalam penerbit kapital yg menyeramgamkan selera pembaca. Asian Literature sungguh luas, berbeda dengan penerbit kapital lainnya, Mizan. Mizan masih menerbitkan sastra Asia dari beberapa negara tidak hanya Jepang dan Korea. Jika menyangkut penerbit kapital yg memang fokus menerbitkan keanekaragaman sastra dunia, salah satunya adalah Penerbit Obor. Obor menerbitkan beberapa sastra dunia bahkan dari negara tetangga kita.




penerbit G itu ada nerjemahin tulisannya penulis iran: Marjane Satrapi.








