EKASAPTA
2K posts







Rupiah Ditutup di Level 17.845 per Dollar AS pada Perdagangan Hari Ini Baca di money.kompas.com/read/2026/05/2…








Hercules tidak menyangka akan langsung bertemu lawan tamgguh seperti Muhammadiyah😁.. Gak usah keliatan panik lha Hercules tinggal ente buktikan saja di pengadilan ☺️





Ada apa dengan negeri ini? Sebuah film dokumenter yang memperlihatkan keindahan alam Papua serta kegelisahan atas ancaman eksploitasi lingkungan—justru dilarang diputar di puluhan tempat. Para pejabat ramai-ramai mengecam, seolah sebuah film dokumenter adalah ancaman besar bagi negara. Padahal film itu tidak mengajarkan kekerasan, tidak menyerukan pemberontakan, tapi kegelisahan melihat hutan yang perlahan hilang. ISemakin keras sebuah karya dibungkam, semakin besar publik ingin tahu apa yang sebenarnya ditakuti. Demokrasi seharusnya cukup dewasa untuk menerima kritik, kegelisahan, dan pandangan berbeda tentang pembangunan. Sebab ketika film dokumenter tentang kerusakan alam saja dianggap berbahaya, publik bertanya: yang sedang dijaga sebenarnya stabilitas negara, atau kenyamanan kekuasaan?


Sungguh ironis, di negeri yg hutan-hutannya masih luas & sumber dayanya melimpah, segelintir aktivis & pembuat film memilih menjadikan Papua sbg panggung drama “kolonialisme modern” yg mereka ciptakan sendiri. Film dokumenter yg dikemas indah dgn gambar hutan hijau & air mata masyarakat adat itu bukanlah kegelisahan murni; itu adalah narasi selektif yg sengaja membingkai pembangunan sbg kejahatan, sementara mengabaikan realitas bahwa Papua bukanlah surga perawan yg tak tersentuh, melainkan bagian integral dari Republik yg selama ini justru dibiarkan tertinggal dalam kemiskinan, konflik senjata, dan ketergantungan. Mereka menangis soal “eksploitasi” lahan untuk food estate & perkebunan, seolah proyek strategis nasional untuk ketahanan pangan bangsa adalah dosa besar. Padahal, di balik romansa hutan & pesta babi adat, tersembunyi ketidakmampuan membangun kesejahteraan yg sesungguhnya: di mana masyarakat adat tetap terjebak dalam siklus tradisi yg indah tapi tak kunjung membawa kemajuan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Apakah lebih “manusiawi” membiarkan jutaan hektar tanah tidur, sementara rakyat Indonesia kelaparan & impor pangan terus mengalir? Atau justru itu bentuk kemalasan intelektual yg dibungkus jubah lingkungan? Pembubaran nobar di beberapa tempat bukanlah “pembungkaman demokrasi” yg dramatis, melainkan reaksi wajar terhadap provokasi yg berpotensi memicu gesekan di wilayah rawan. Film ini bukan kritik netral; ia adalah alat narasi yg memainkan simpati selektif, mengabaikan bagaimana investasi & infrastruktur justru membuka akses bagi orang Papua sendiri untuk keluar dari isolasi. Yg mereka takutkan bukan hilangnya hutan, tapi hilangnya narasi korban yg selama ini menjadi komoditas politik & dana asing. Semakin dibesar-besarkan “ancaman” ini, semakin jelas: ini bukan soal alam Papua, melainkan soal siapa yg berhak menentukan masa depan negeri ini, rakyat & pemerintah yg bertanggung jawab atas 270 juta jiwa, atau segelintir aktivis yg romantisasi “tanah kosong” demi citra moral tinggi. Demokrasi memang dewasa, tapi bukan berarti naif. Ia tak boleh tunduk pada narasi yg memecah belah dgn mengorbankan kepentingan nasional di altar romantisme primitif. Papua butuh pembangunan yg adil, bukan film yg menjual kegelisahan sbg kebenaran tunggal.








Prabowo Terima Tawaran AS, Bandara Kertajati Akan Jadi Bengkel Hercules Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertahanan RI menerima tawaran Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth dengan menjadikan Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) Pesawat Angkut Berat C-130 Hercules... Kalo di negara lain, itu namanya Pangkalan Militer, bukan Bengkel Pesawat... Hercules itu identik dengan pesawat militer, artinya kalo Bandara Kertajati dijadikan bengkel Hercules AS dsb, maka Bandara tsb resmi menjadi Pangkalan Militer AS di Indonesia... 🤔





🚨: The 2026 “Super El Niño” is projected to be the strongest in 150 years





