PAMS🇵🇸

3.3K posts

PAMS🇵🇸 banner
PAMS🇵🇸

PAMS🇵🇸

@rilopams

perbuatan berteriak lebih besar daripada omongan

Indonesia Katılım Ağustos 2012
388 Takip Edilen197 Takipçiler
PAMS🇵🇸 retweetledi
herwin
herwin@bangherwin·
Bagus Muljadi, profesor termuda Indonesia yang kini mengajar di University of Nottingham, menyentil satu hal penting: pendidikan kita mahal, tapi arahnya murahan. Di luar negeri, kampus meringankan biaya dan memamerkan alumni sukses sebagai pertanggungjawaban moral. Di Indonesia, mahasiswa bayar mahal dulu. Soal masa depan, silakan cari sendiri.
Indonesia
179
5.7K
13.9K
607.1K
PAMS🇵🇸 retweetledi
🥤
🥤@TheImmortalKop·
Wirtz x Ekitike for the next 10 years
English
19
688
13.4K
203.4K
PAMS🇵🇸 retweetledi
astw
astw@astwsp·
Pernah denger ceramah seorang Muslim scholar dari UK yang membahas rasionalisasi perintah hijab dgn sudut pandang yg menurut gue jauh lebih presisi secara teologis. He said that it’s clear bahwa tujuan utama hijab bkn untuk membantu laki2 mengontrol hawa nafsunya.
Indonesia
214
10.9K
42.4K
1.6M
PAMS🇵🇸 retweetledi
skripsian era
skripsian era@zoroaslam·
psikolog gw ngomong hal yang sama anjirrrr "gak ada makhluk di muka bumi ini yang lebih sayang sama kamu kecuali diri kamu sendiri. ini nih (sambil nunjuk diri gw) dia gak berhenti berfungsi loh walaupun kamu lagi marah, kesel, sedih apapun itu. kamu sayangi dia juga ya—
Яizal do@afrkml

Kebayang gak? Seonggok daging ini terus berdetak & ga pernah berhenti/istirahat sedetik pun sejak kamu lahir hingga detik ini. Sudahkah kamu penuhi hak dia dg gak ngerokok, rutin olahraga, ga begadang, ngejaga makan, ga mager jalan kaki, dll? Sudahkah? 🥺

Indonesia
200
22.6K
89K
2.2M
PAMS🇵🇸 retweetledi
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi@ismailfahmi·
Mens Rea: Ketika Komedi Menjadi Cermin Politik, dan Publik Terbelah oleh Etika Drone Emprit Notes Keberhasilan Mens Rea memuncaki daftar tontonan Netflix Indonesia bukan sekadar pencapaian industri hiburan. Ia adalah penanda penting bahwa kritik politik—yang disampaikan secara terbuka, satir, dan tanpa sensor—masih memiliki tempat besar di ruang publik Indonesia. Namun, data percakapan digital menunjukkan bahwa penerimaan itu tidak datang tanpa friksi. Dalam rentang sebelas hari, Mens Rea memicu hampir 20 ribu percakapan lintas media sosial dan hampir 1.000 pemberitaan media online, dengan total interaksi mencapai lebih dari 117 juta. Skala ini menempatkan Mens Rea bukan sekadar sebagai tontonan, tetapi sebagai peristiwa sosial-politik. Dua Dunia yang Berbeda “Media Sosial vs Media Berita” Data menunjukkan kontras yang tajam antara cara publik dan media arus utama merespons Mens Rea. Di media sosial, sentimen positif mendominasi—sekitar dua pertiga percakapan bernada dukungan. Publik memuji keberanian Pandji menyebut pejabat, institusi hukum, dan praktik kekuasaan secara gamblang. Banyak yang menyebut materinya “kena”, relevan, dan mewakili keresahan kolektif rakyat kecil: soal pajak, gaji pejabat, aparat bersenjata, hingga relasi rakyat–presiden. Sebaliknya, media online cenderung lebih negatif. Lebih dari separuh pemberitaan bernada kritik, dengan fokus pada kontroversi: isu body shaming, etika komedi, dan potensi pelanggaran hukum. Alih-alih membedah substansi kritik politiknya, framing media lebih banyak menyorot konflik antartokoh—Pandji versus Tompi, Pandji versus Deolipa, atau Pandji versus “etika publik”. Kesenjangan ini penting: ia menunjukkan bahwa apa yang dianggap relevan oleh netizen tidak selalu sama dengan apa yang dianggap “layak diberitakan” oleh media. Lanskap Percakapan Lintas Platform Meski membahas objek yang sama—Mens Rea dan Pandji Pragiwaksono—setiap platform media sosial menunjukkan karakter emosi, fokus isu, dan dinamika konflik yang berbeda. Ini penting, karena publik Indonesia hari ini tidak lagi membentuk opini di satu ruang tunggal, melainkan di banyak “ruang gema” dengan logika yang berbeda. Twitter / X: Arena Politik, Polarisasi, dan Perang Narasi Twitter/X menjadi ruang paling politis dan paling terpolarisasi. Sentimen positif memang dominan—sekitar 63%—namun X juga menjadi tempat utama lahirnya narasi tandingan dan serangan langsung. Topik utama di X berputar pada: · Kritik terhadap negara, aparat, dan politik dinasti. · Isu kebebasan berekspresi dan kekhawatiran kriminalisasi. · Tuduhan body shaming terhadap fisik Gibran. · Narasi seragam seperti “Pandji Darurat Ide”dan “Pandji Rusak Komedi”. X juga menjadi platform pertama di mana publik mendeteksi pola mobilisasi akun, yang kemudian justru dibaca sebagai bukti bahwa materi Pandji “mengganggu kenyamanan kekuasaan”. Di sini, Mens Rea diposisikan bukan sekadar komedi, melainkan tindakan politik simbolik. Facebook: Dukungan Emosional dan Validasi Kolektif Facebook menampilkan wajah publik yang lebih afirmatif dan emosional, dengan sentimen positif mencapai lebih dari 70% dan sentimen negatif relatif kecil. Topik yang dominan di Facebook antara lain: · Apresiasi keberanian Pandji menyebut pejabat secara terbuka. · Kebanggaan atas capaian Mens Rea sebagai tayangan nomor satu Netflix. · Persepsi bahwa materi Pandji “mewakili suara rakyat biasa”. · Komedi sebagai pendidikan politik informal. Isu body shaming memang muncul, tetapi tidak menjadi pusat percakapan. Facebook lebih berfungsi sebagai ruang validasi kolektif, tempat publik saling menguatkan bahwa kritik seperti ini “wajar dan perlu” dalam demokrasi. Instagram: Popularitas, Visual, dan Simbol Keberhasilan Di Instagram, sentimen positif juga berada di kisaran 70%, namun nuansanya berbeda. Percakapan lebih berfokus pada simbol keberhasilan dan popularitas, bukan konflik argumentatif. Topik utama di Instagram meliputi: · Mens Rea sebagai TV Show No.1 Netflix Indonesia. · Potongan video stand-up yang dianggap “kena” dan mudah dibagikan. · Pandji sebagai figur publik yang “berani dan konsisten”. · Kesadaran politik ringan, terutama di kalangan penonton muda. Isu kontroversi muncul, tetapi cenderung sekilas dan kalah oleh narasi keberhasilan. Instagram memperkuat Mens Rea sebagai fenomena budaya populer, bukan sekadar polemik politik. YouTube: Ruang Penjelasan, Narasi Panjang, dan Konteks YouTube menjadi ruang penalaran yang lebih panjang dan reflektif, dengan sentimen positif sekitar 68%. Di sini, publik tidak hanya bereaksi, tetapi mencoba memahami konteks. Topik yang menonjol di YouTube: · Penjelasan ulang materi Mens Rea dan konteks kritik politiknya. · Diskusi soal klaim “intel” dan potensi intimidasi aparat. · Respons tokoh publik seperti Dedi Mulyadi yang dinilai sportif. · Perdebatan etika komedi, namun dengan argumen yang lebih panjang. YouTube berfungsi sebagai ruang rekonstruksi makna, tempat publik mencoba memilah mana satire, mana fakta, dan mana provokasi. TikTok: Viralitas, Potongan Konten, dan Emosi Instan TikTok menunjukkan sentimen positif paling rendah dibanding platform lain—sekitar 57%—namun tetap dominan. Negativitas di TikTok relatif lebih tinggi karena logika platform yang mengutamakan konten singkat dan sensasional. Topik yang paling sering muncul di TikTok: · Potongan cerita soal “intel” yang menyusup. · Roasting terhadap Gibran sebagai hookrasa ingin tahu. · Klip-klip sindiran terhadap figur publik lain. · Amplifikasi kritik dr. Tompi secara masif. Di TikTok, konteks sering tereduksi. Akibatnya, isu body shaming dan kontroversi lebih mudah membesar. Platform ini menjadi ruang eskalasi emosi, bukan pendalaman argumen. Satu Kesimpulan Penting dari Lintas Platform Jika dilihat secara keseluruhan, data lintas platform menunjukkan satu pola konsisten. Dukungan publik terhadap kritik politik Pandji tetap dominan, tetapi bentuk, kedalaman, dan titik konflik sangat dipengaruhi oleh karakter platform. · X adalah arena konflik ideologis. · Facebook ruang dukungan emosional. · Instagram panggung legitimasi popularitas. · YouTube tempat pencarian makna. · TikTok mesin viral yang mempercepat polarisasi. Perbedaan ini penting untuk dibaca, karena ia menjelaskan mengapa satu karya yang sama bisa sekaligus dianggap berani, melanggar etika, mendidik, dan berbahaya—tergantung di ruang mana ia diperdebatkan. Narasi Seragam dan Dugaan Mobilisasi Salah satu temuan menarik adalah munculnya narasi yang relatif seragam di media sosial, seperti “Pandji Darurat Ide” atau “Pandji Rusak Komedi”. Pola bahasa, timing, dan akun penyebarnya memunculkan kecurigaan sebagian netizen akan adanya mobilisasi narasi tandingan—fenomena yang justru memperkuat persepsi bahwa materi Mens Rea menyentuh titik sensitif kekuasaan. Alih-alih meredam diskusi, narasi ini memicu respons sarkastis: bahwa Mens Rea “membuka lapangan kerja baru” bagi buzzer politik. Dalam konteks ini, serangan balik justru dibaca sebagai validasi relevansi kritik, bukan pelemahannya. Emosi Publik “Antara Tawa, Cemas, dan Harapan” Analisis emosi menunjukkan spektrum yang kompleks. Ada joy dan surprise—tawa, kekagetan karena materi tayang utuh tanpa sensor, serta kebanggaan melihat karya lokal memimpin Netflix. Namun ada pula anticipation dan kecemasan: doa agar Pandji aman, kekhawatiran soal kriminalisasi, hingga cerita tentang dugaan intel di lokasi pertunjukan yang memperluas diskusi ke isu kebebasan berekspresi. Di sini, Mens Rea berhenti menjadi soal lucu atau tidak lucu. Ia berubah menjadi ujian publik: sejauh mana kritik terhadap negara boleh disampaikan, dan risiko apa yang harus ditanggung oleh penyampainya. Apa yang Sebenarnya Diharapkan Publik? Jika dirangkum, harapan publik yang muncul bukanlah komedi yang “aman” atau steril dari konflik. Data justru menunjukkan publik menginginkan: · Kritik yang jujur dan berani, meski tidak selalu nyaman. · Komedi yang mendidik secara politik, bukan sekadar hiburan kosong. · Ruang ekspresi yang tidak langsung dikriminalisasi saat menyentuh kekuasaan. Namun publik juga memberi sinyal batas: kritik kebijakan dan kekuasaan dianggap sah, tetapi wilayah tubuh, identitas, dan kondisi medis tetap menjadi medan sensitif yang bisa menggeser simpati. Komedi sebagai Indikator Demokrasi Mens Rea memperlihatkan bahwa di Indonesia hari ini, komedi bisa menjadi indikator kesehatan demokrasi. Bukan karena semua orang setuju, melainkan karena publik masih mau berdebat—tentang etika, tentang kekuasaan, tentang batas kebebasan. Perbedaan sentimen antara media sosial dan media berita, polarisasi narasi, hingga munculnya dugaan mobilisasi kontra-narasi, semuanya menunjukkan satu hal: yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar selera humor, tetapi ruang kritik itu sendiri. Dan mungkin pertanyaan paling thought-provoking dari seluruh data ini bukanlah “apakah Pandji melanggar etika?”, melainkan: mengapa sebuah pertunjukan komedi bisa membuat begitu banyak pihak merasa perlu bereaksi, membantah, bahkan mengingatkan soal hukum?
Ismail Fahmi tweet mediaIsmail Fahmi tweet mediaIsmail Fahmi tweet media
Indonesia
76
990
2.4K
250.2K
PAMS🇵🇸 retweetledi
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing@Dospemz·
Secara teori, dana MBG bukan uang baru, melainkan hasil re-alokasi belanja rumah tangga. Daya beli yang sebelumnya beredar di ekonomi mikro dipindahkan ke skema terpusat. Uangnya memang tidak hilang, tetapi pola sirkulasinya berubah. Mengapa demikian? Di Indonesia terdapat sekitar 149 ribu sekolah dasar. Artinya, ada 149 ribu simpul ekonomi lokal yang berputar setiap hari. Di sekitarnya hidup ibu kantin, pedagang kecil, pemasok bahan, hingga pekerja informal yang bergantung pada belanja harian siswa dan guru. Ketika MBG diberlakukan, arus belanja ini dialihkan dan ripple effect pun mulai terasa. Omzet pedagang sekolah menurun, permintaan ke pemasok lokal melemah, dan arus kas harian semakin tertekan. Daya beli keluarga ikut tergerus, ketergantungan pada utang harian meningkat, dan pada titik tertentu muncul kelompok rentan baru dari pelaku ekonomi informal yang sebelumnya masih bisa bertahan dari perputaran harian.
Tanyarl 💚@tanyakanrl

💚 maaf ya ngeluh, tapi sender udah bingung untuk bagaimana caranya survive di ekonomi sekarang, ini jauh lebih parah dari waktu c word..

Indonesia
171
3.4K
6.1K
317.5K
A. Ainur Rohman
A. Ainur Rohman@ainurohman·
Sebelum SEA Games 2025, dua pelari jarak jauh terbaik Indonesia Robi Syianturi dan Odekta Naibaho berlatih di Eldoret, Kenya. Latihan yg sangat2 berat. Sehari bisa lima sesi yang dimulai sejak pukul 06.00. dengan total jarak lebih kurang 43km. Ketinggian Eldoret mencapai 2.500 mdpl, lebih tinggi 1.000 mdpl ketimbang tempat latihan reguler di Pangalengan, Bandung. Jadi oksigen lebih tipis. Berat banget. Tetapi efeknya kemampuan paru2 dan peredaran darah Robi dan Odekta meningkat. Hasilnya, tadi malam, Robi dan Odekta sukses kawin emas maraton di SEA Games 2025 Thailand dengan jarak yg signifikan dari peraih perak. Padahal maraton tahun ini diadakan malam hari yg sempat membuat Robi khawatir berlari dalam tingkat kelembaban lebih tinggi dan rebutan oksigen dgn pohon2. 🎥: Robi Syianturi/IG
Indonesia
95
871
3.1K
137.5K
PAMS🇵🇸 retweetledi
Zulfikar Akbar
Zulfikar Akbar@zoelfick·
Menutup diri dari dunia, sambil menelanjangi diri sendiri di muka dunia. Negara kita ini memang terlalu luar biasa.
Indonesia
96
4.2K
7.2K
520.7K
PAMS🇵🇸 retweetledi
jek
jek@jek___·
masih belum bisa nyerna itu anggota DPR yang ngatain warga sipil "baru bangun 1 posko udah ngerasa si paling aceh" bukannya makasih karena warga udah bantu kerjaan pemerintah, malah ngatain, rakyat dianggap saingan. bajingaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan
Indonesia
341
16.1K
27.7K
452.1K
PAMS🇵🇸 retweetledi
𝐄𝐧𝐢𝐠𝐦𝐚
𝐄𝐧𝐢𝐠𝐦𝐚@AboutManID·
Satu juta. Angka itu bukan statistik. Itu adalah 1.057.482 tatapan kosong di tenda pengungsian, bau basah dari pakaian yang tak sempat diselamatkan, dan 961 kursi kosong di meja makan yang takkan pernah terisi lagi. ​Kau tahu apa yang paling menjijikkan dari data 961 nyawa melayang dan hampir seribu orang hilang ini? Estimasi biaya pemulihan. ​BNPB bilang, butuh Rp51,82 triliun untuk memulihkan Aceh, Sumbar, dan Sumut. Bayangkan. Kerugian yang disebabkan oleh kelalaian sistematis pembalakan liar, tata ruang abal-abal, dan penegakan hukum tumpul terhadap korporasi perusak kini harus ditanggung negara. Uang kita. ​Pejabat datang, pasang wajah prihatin di depan kamera, bilang "Indonesia Mampu Atasi Musibah". Mereka memastikan APBN cukup (Kata Mensesneg 3 Des 2025). Tentu saja cukup! Anggaran untuk event pencitraan, studi banding, atau food security project yang tiba-tiba muncul, angkanya jauh lebih berani. ​Lihat kontrasnya: ​Biaya pemulihan: Rp51,82 Triliun. ​Bantuan yang diserahkan Menag tahap awal: Rp155 Miliar (fakta, 2 Des 2025) – mayoritas dari donasi Baznas dan lembaga lain, bukan murni kucuran APBN Penuh. ​Korban meninggal hampir 1.000 jiwa, tapi Pemerintah Pusat TIDAK MAU menetapkan status Bencana Nasional (fakta, dikritik ekonom karena membatasi ruang fiskal darurat - 1 Des 2025). Kenapa? Karena menetapkan Bencana Nasional berarti pejabat harus kerja, bukan pencitraan. Itu berarti membuka dompet sebesar-besarnya, bukan sekadar mengirim 3-4 pesawat Hercules berisi mi instan. ​Sementara anak-anak di pengungsian merindukan satu piring nasi hangat, elite di Jakarta sibuk berdebat: Apakah lebih penting kerja lapangan atau administrasi? (fakta, alasan belum ditetapkan Bencana Nasional - 3 Des 2025). ​Jutaan nyawa terancam. Ribuan hilang. Puluhan triliun rupiah ludes karena keserakahan yang dilegalkan. Dan kita, yang kehilangan saudara, hanya bisa melihat mereka beradu argumen di podium. ​Kita menabur kemanusiaan, yang kita tuai hanya lip service dan angka kerugian yang membengkak.
Kitabisa - Aplikasi Warga Bantu Warga@kitabisacom

🥀 Data Korban Bencana di Aceh, Sumbar, Sumut, hingga 8 Desember 2025 pukul 20.00 WIB 🥀 Total Korban - 961 orang meninggal dunia - 293 orang hilang - 5.000 orang luka-luka - 1.057.482 pengungsi Detail Korban per Wilayah Sebagai Berikut 📍 Aceh - 389 orang meninggal dunia - 62 orang hilang - 4.300 orang luka-luka 📍 Sumatera Barat - 234 orang meninggal dunia - 95 orang hilang - 113 orang luka-luka 📍 Sumatera Utara - 338 orang meninggal dunia - 136 orang hilang - 650 orang luka-luka Data mengutip BNPB pada 8 Desember 2025 pukul 20.00 WIB Deretan angka ini bukan sekadar statistik. Di balik tiap angkanya ada sosok manusia. Sosok yang dicinta keluarganya sepenuh hati. Sosok yang tak akan pernah terganti. Lukanya abadi 🥀

Indonesia
97
19.9K
33.9K
1.1M
PAMS🇵🇸
PAMS🇵🇸@rilopams·
today i walked... and captured this beautiful sunrise
PAMS🇵🇸 tweet media
English
0
0
0
7
PAMS🇵🇸 retweetledi
Volcaholic 🌋
Volcaholic 🌋@volcaholic1·
Don't look away! This is the aftermath of the catastrophic flooding in Aceh Tamiang Regency, Sumatra in Indonesia 🇮🇩 At least 744 dead, 551 missing, 1.1 million displaced across 50 districts and the animals, no figures available 😭
English
462
26.1K
59K
1.4M
PAMS🇵🇸
PAMS🇵🇸@rilopams·
📢 DIBUTUHKAN SEGERA! Yayasan Mitra MBG membuka lowongan untuk Ahli Akuntan. 📅 Periode pendaftaran: 1–7 Desember 2025 📍 Penempatan : Kota Batu Kirim CV ke: yayasanmalangmbg@gmail.com Subjek: Akuntan – Nama Lengkap Info: 0813-5966-6087
PAMS🇵🇸 tweet media
Indonesia
0
0
0
79