Life is too short
9.6K posts












Pada 1988, Kepala Staf Umum ABRI yang baru menjabat, Soedibjo Rahardjo, diminta menghadap Tutut Soeharto. Di pertemuan itu, Tutut menuntut permintaan mengejutkan. Tutut meminta seluruh bisnis senjata ABRI. Semuanya. Apabila ABRI membeli tank dari luar negeri, yang memegang pembeliannya harus perusahaan pengimporan milik Tutut. Tidak boleh ada kandidat lain di tender. Demikian untuk senapan mesin, bom, peluru, truk, logistik, dll. Seluruh industri ini harus diserahkan kepada Tutut. Semuanya, segalanya, seluruhnya sampai setiap baut dan sekrup. Hanya Tutut seorang yang boleh memproduksi atau mengimpornya. Apabila ABRI punya pemasok lain termasuk pabrikan milik sendiri, pemasok itu harus segera dicampakkan dan diganti Tutut. Kesanggupan dan kompetensi Tutut untuk memasok seluruh senjata yang dibutuhkan seluruh ABRI akan dipikirkan nanti. Apakah Tutut tahu bagaimana cara memasukkan tank ke dalam kapal dan mengirimnya ke Indonesia, itu urusan nanti. Apakah Tutut punya kapal untuk melakukannya, itu nanti. Printilan kecil. Yang penting, Tutut seorang harus mendapat jaminan monopoli penuh terhadap seluruh industri alusista di seluruh ABRI. Tutur mencatut bahwa ini adalah arahan dari ayahnya, Soeharto. Skandal ini tercatat dalam buku otobiografi Laksamana Soedibjo yang berjudul "The Admiral". Soedibjo sendiri adalah orang Angkatan Laut pertama yang berhasil berprestasi menduduki jabatan setinggi itu di Mabes ABRI. Menurut Soedibjo, ia terkejut dengan keserakahan Tutut. Pasalnya, saat itu ada 350 perusahaan dan pabrik alusista berbeda yang menyuplai senjata ke ABRI. Ada yang besar, ada yang kecil rumahan. Perusahaan-perusahaan ini memperkerjakan banyak sekali purnawirawan ABRI. Apabila 350 perusahaan itu dicampakkan begitu saja oleh ABRI dan bangkrut, para purnawirawan itu akan kehilangan pekerjaan mereka. Tutut tidak peduli dan menuntut supaya nantinya, kontrak seluruh 350 perusahaan perusahaan itu tidak udah diperpanjang, tetapi diganti oleh bisnis-bisnis milik Tutut. Kelakuan Tutut yang secara terbuka serakah gila duit dan tanpa malu ini membuat Soedibjo panas. Soedibjo menghardik: "Anda masih kurang duit?" Tutut sepertinya terkejut bahwa seorang tentara dan Kepala Staf Umum ABRI menolak dijadikan anjing peliharaan patuh yang berjongkok apabila disuruh berjongkok. "Lho, jangan gitu dong," kata Tutut gugup dalam bahasa Jawa kepada Soedibjo. Soedibjo murka. "Kamu kaya harta tapi miskin akhlak," bentaknya dalam bahasa Inggris. Usaha Tutut untuk menguasai seluruh industri senjata ABRI pun kandas, untuk saat itu. Pada tahun 1992, Soedibjo dipindahkan ke luar negeri untuk menjadi duta besar. --- Pada tahun 1994, Indonesia mengimpor sebanyak 104 tank Scorpion dari Inggris. Jumlahnya sangat besar. Kejanggalannya membludak. Perampokannya fantastis. Tutut diseret ke depan Komisi I DPR pada tahun 2005 untuk diperiksa atas megakorupsi militer ini. Akan tetapi, pada akhirnya Tutut tak pernah ditangkap. Hari ini Tutut dan keluarga hidup santai bersama pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi keluarga Cendana yang ditumpuk dari berbagai sumber, seperti: - Berbagai kejanggalan """bisnis""" alusista tentara seperti 104 tank Scorpion, - Monopoli total terhadap seluruh dan semua proyek konstruksi jalan tol pada masa Orde Baru, - Proyek pembangunan pipa migas Pertamina se-Jawa yang harganya mahal tidak masuk akal secara misterius (Note: perampokan ini dilakukan di tengah-tengah krisis ekonomi tahun 1998 yaitu pada bulan Februari, ketika rakyat sedang miskin dan menganggur), - Uang cash dari Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) 1997 yang hilang dan tak pernah dikembalikan (Note: dana BLBI disuntikkan untuk menstabilkan ekonomi negara, tetapi malah dirampok sehingga krismon menjadi sangat ekstrem), - Uang cash titipan bank-bank milik negara sebanyak Rp 6 triliun yang hilang misterius ketika masuk 7 yayasan milik Soeharto (ternyata dicuri langsung oleh Soeharto pribadi dan dibagi-bagikan seperti angpao ke anak-anaknya), - dll.




















