Ben Tedja
4K posts

Ben Tedja
@bentedja
A burger lover 🍔! Interest in eclecticism, religions, western esotericism and the last but not the least, Kejawen. Cogito, ergo sum.
ÜT: -6.2711918,106.7030138 Se unió Mart 2009
753 Siguiendo170 Seguidores
Ben Tedja retuiteado
Ben Tedja retuiteado

@LambeSahamjja Tanggal merah jgn dihapus kak, lumayan buat istirahat budak2 korporat. Pas libur aja masih kerja, kerja dari rumahh.. 😪🥵
Indonesia

@kforkinsley Iyah kakak. Sama kaya punya saya tapi tali jamnya sudah rusak dan sudah diganti.

Indonesia

suami gue beli jam tangan LAGI 😭😭
Terus berkedok, ini jam legend… emang iya?!😭


irbahsalss@kforkinsley
Pesona jam tangan 50ribuan : Skmei
Indonesia

@sharpandshark Setuju banget. Dengan bekerja sebaik-baiknya, berikan pelayanan sebaik2nya, itu merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME atas pekerjaan yang diperoleh. 🙏🙏
Indonesia
Ben Tedja retuiteado

Banyak yang Antre di Posisimu: Untuk setiap satu posisi yang kita tempati, ada ratusan bahkan ribuan orang yang menaruh lamaran namun berakhir dengan penolakan. Kamu adalah orang yang terpilih ‼️
Quote:
"Jangan membenci pekerjaan yang memberimu makan, hanya karena kamu belum mendapatkan pekerjaan yang memberimu kemewahan."
Pesan untuk Kita Semua❗❗
Hargailah pekerjaanmu sekarang. Berikan performa terbaikmu, bukan hanya karena tuntutan perusahaan, tapi sebagai bentuk syukur kepada Tuhan bahwa kamu tidak sedang berada di posisi mereka yang harus menangis tersedu-sedu karena tidak tahu besok harus makan apa.
Jika hari ini terasa berat, ingatlah: Lelahnya bekerja masih jauh lebih baik daripada lelahnya mencari kerja. Lelah karena tugas yang menumpuk jauh lebih ringan daripada lelah karena ketidakpastian masa depan.
Mari kita jaga amanah ini, kerjakan dengan baik semaksimal mungkin dengan profesional, dan selalu selipkan doa bagi mereka yang masih berjuang di luar sana agar segera mendapatkan jalan keluar.
Indonesia
Ben Tedja retuiteado
Ben Tedja retuiteado
Ben Tedja retuiteado
Ben Tedja retuiteado

Moses asked God for two things.
God said no to both.
Then Moses died.
Fifteen hundred years later, on a mountain in Galilee, God answered both prayers in front of three terrified fishermen.
Most Christians read this story every year and miss it completely.
Here is what they miss.
Prayer one. Moses asked to see God's face.
"And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live." (Exodus 33:20)
No.
Prayer two. Moses asked to cross into the Promised Land.
"Get thee up into the top of Pisgah... but thou shalt not go over this Jordan." (Deuteronomy 3:27)
No.
Moses dies on the mountain. Buried by God Himself. End of story.
Except it wasn't.
The Mount of Transfiguration. Christ pulls back the veil. His face shines as the sun. And who shows up standing next to Him?
Moses.
"And, behold, there appeared unto them Moses and Elias talking with him." (Matthew 17:3)
In the Promised Land. Looking at the face of God in the flesh.
Both prayers. Granted.
Not on Moses's timeline. Not through Moses's law. Through the Son.
The no was not rejection. It was redirection.
Every prayer God seems to deny, He is answering through Christ. The Mount of Transfiguration is the receipt.
The face. The land. The healing. The marriage. The vindication.
He is not closing the door.
He is telling you which door.
Through Christ. Or not at all.
Moses found out.
So will you.
Full piece on Substack ↓
[deadhidden.substack.com link]

English
Ben Tedja retuiteado

@gofigoofer @mx00711 @Cl0pidogrel @Valhallaah @OneLove4Human @iphone7decoco @risalahkalbu @Nabatik27 @A28422Syah @JLion555 @agama_nusantara @Kappa_2023 @Aristotel777 @_IloveIsrael @LurahYudea @sakkusaitna @mistroad_1 @nurmannurakhmad Lagipula bagaimana cara anda menghitung Tuhan dan berjumlah satu? Pernah ketemu dan lihat fisik-Nya?
Indonesia

@mx00711 @Cl0pidogrel @Valhallaah @OneLove4Human @iphone7decoco @risalahkalbu @Nabatik27 @A28422Syah @JLion555 @agama_nusantara @Kappa_2023 @Aristotel777 @_IloveIsrael @LurahYudea @sakkusaitna @mistroad_1 @nurmannurakhmad Ok. Aku siap mendengarkan penjelasan pendeta embuh.. tentang trinitas..
Indonesia

baru tahu ternyata begitu ya?
yg kristen juga begitu kah?
@agama_nusantara @Kappa_2023 @iphone7decoco @Aristotel777 @OneLove4Human @JLion555 @_IloveIsrael @LurahYudea @sakkusaitna @mistroad_1 @Valhallaah
Spear of Destiny@Cl0pidogrel
Menurut akun @gofigoofer yahudi adalah Muslim yg murtad 🤣 Jadi semua orang yahudi dulu nya syahadat 🙈 Hadooh 😛
Indonesia

@ybaindonesia Setuju sih. Maafkan dia sebab dia tidak tahu apa yang telah ia perbuat. 🥲🤣
Indonesia

"Dulu saya Buddhis hidup susah, sekarang pindah agama jadi sukses!"
Sering dengar testimoni seperti itu? Hati-hati terjebak dalam "Logic Fallacy". Hukum Karma tidak bekerja berdasarkan label di KTP-mu.
Sukses atau gagalnya hidupmu adalah hasil dari benih yang kamu tanam. Kalau pindah agama membuatmu lebih rajin dan positif, ya jelas hidupmu membaik. Tapi itu karena perubahan batinmu, bukan karena agama lamamu "salah"
Indonesia
Ben Tedja retuiteado

Pagi-pagi di bandara uda ada yg bikin gerah. Kejadiannya pas plg kampung gini lagi. MAU KAGET TAPI GA HERAN. Ada aja anomali.
Liat pejabat yg nge-treat tempat makan kek punya dia sendiri. Uda gitu pake seragam dinas lagi.
Ga mau ngantri. Negor org restonya gerak cepet. Padahal banyak org lain sebelum dia masih nunggu. Dan ini tuh dia uda rusuh padahal baru jeda 10 menit dia mesen.
Gw selak aja, 'Pak, antri. Tunggu giliran. Di kantor bapak PNS, disini Bapak warga biasa kaya kami semua.'
Dibalesnya as always, 'Anak sapa kamu'
Gw jawab, 'anak Tuhan pak'
Dia gedeg kali ya, jd-nya ngomel2 aja. Wkwkwkwkwk
Indonesia
Ben Tedja retuiteado

Tumbal Tragedi Bintaro 1987: Kisah Pilu Masinis Slamet Suradio yang Terbuang dan Menanti Keadilan
JAKARTA — Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 masih menyisakan luka mendalam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Insiden maut yang merenggut 139 nyawa dan melukai 254 orang tersebut selalu dikenang sebagai bencana kelam. Namun, di balik puing-puing besi lokomotif yang hancur, ada satu kepingan sejarah yang hingga kini dibiarkan usang dimakan waktu: kisah pilu Slamet Suradio, sang masinis KA-225 yang dituduh sebagai tersangka utama.
Selama puluhan tahun, publik disuguhi narasi bahwa Slamet adalah pihak yang paling bersalah. Namun, benarkah demikian?
Kesalahan Komunikasi dan Surat PTP yang Diabaikan
Hari itu, Slamet Suradio dituduh memberangkatkan kereta api tanpa seizin petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Narasi ini menyudutkannya seolah ia bertindak ceroboh dan melanggar aturan.
Faktanya, sebelum lokomotifnya melaju, Slamet telah mengantongi surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP). Dalam dunia perkeretaapian, surat tersebut adalah nyawa dan perintah; surat itu adalah izin resmi bahwa keretanya sah untuk diberangkatkan. Celakanya, terjadi kesalahan komunikasi fatal antara petugas PPKA Stasiun Sudimara dengan Stasiun Kebayoran. Kesalahan sistemik inilah yang pada akhirnya menempatkan dua kereta baja melaju di satu jalur yang sama, berujung pada tabrakan hebat yang tak terhindarkan.
Sepanjang perjalanan maut itu, Slamet mengaku tidak melihat satu pun rambu-rambu darurat yang mengisyaratkan perintah untuk menghentikan kereta.
Bertahan di Balik Kemudi: Mematahkan Stigma "Pengecut"
Selain dituduh berangkat tanpa izin, Slamet juga harus memikul fitnah keji bahwa ia melompat keluar dari lokomotif sesaat sebelum tabrakan terjadi demi menyelamatkan diri.
Kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Ketika jarak antara dua kereta sudah terlalu dekat, asisten masinis-lah yang melompat keluar. Sementara itu, Slamet Suradio memilih bertahan di dalam kabin lokomotif. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tuas rem darurat hingga tangannya tak lagi sanggup bertahan.
Saat benturan keras terjadi, tubuhnya terpental ke lantai lokomotif. Hantaman itu membuat tulang pinggulnya retak dan matanya terluka akibat pecahan kaca yang berserakan. Dalam kondisi kritis, berlumuran darah, dan menahan sakit yang luar biasa, ingatannya hanya tertuju pada satu hal: bukti kebenarannya. Ia meminta tolong kepada seseorang untuk memfotokopi surat PTP yang masih ada di dalam kantong seragamnya sebanyak mungkin. Di atas surat itu, bercak darah Slamet ikut tertoreh, menjadi saksi bisu tragedi tersebut.
Ketidakadilan di Meja Hijau
Namun, segala bukti dan pembelaan Slamet seolah menguap begitu saja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Fotokopi surat PTP yang telah ia perjuangkan tak berarti apa-apa di hadapan majelis hakim. Pengabdiannya selama 23 tahun sebagai masinis runtuh seketika.
Ia divonis sebagai terpidana. Tidak hanya itu, ada rentetan ketidakadilan lain yang menimpanya. Ia mengaku kerap dipaksa menandatangani dokumen-dokumen tak jelas asal-usulnya oleh oknum tertentu. Puncaknya, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai masinis tanpa diberikan pesangon sepeser pun.
Pengkhianatan dan Bertahan Hidup dari Sebatang Rokok
Kehancuran karier dan kebebasannya ternyata bukan satu-satunya cobaan. Di saat ia sangat membutuhkan dukungan moral, sang istri justru menggugat cerai dan memilih menikah dengan pria lain, meninggalkan Slamet sendiri meratapi nasibnya.
Kini, masa kejayaan sang masinis telah lama redup. Pria renta itu kini harus mengais rezeki dengan berjualan rokok eceran. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari tempat asalnya untuk berdagang. Hidupnya jauh dari kata layak. Pernah suatu ketika, ia tidak bisa pulang ke rumah selama dua bulan penuh karena sama sekali tidak memiliki ongkos. Untuk merebahkan tubuh rentanya, ia menjadikan musala sebagai tempat bernaung sehari-hari.
Indonesia

















