Diandra Margan Partamarga

2K posts

Diandra Margan Partamarga

Diandra Margan Partamarga

@DPartamarga

Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan dimenangkan.

Katılım Kasım 2021
226 Takip Edilen10 Takipçiler
Mohamad Guntur Romli
Mohamad Guntur Romli@GunRomli·
Rupiah tembus 17.400 Gubernur BI bungkam, cuma lambai-lambaikan tangan. Naik mobil mewah. Reporter: Parrrrraaaah...
Indonesia
249
1K
2.6K
76.7K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
hilma
hilma@galaxctvs·
Setuju banget sama Raditya Dika: “Kita tidak sepenting itu untuk orang lain. Berhenti memikirkan hal yang di luar kuasa kita. Pendapat orang soal kita itu di luar kuasa kita, nggak usah dipikirin.” Jadi, lakuin apa yang kamu suka karena yang ngejalanin hidup itu kamu ✨
Indonesia
119
4.3K
9K
174.1K
Rumail Abbas (ꦫꦸꦩꦻꦭ꧀ ꦄꦧ꧀ꦧꦱ꧀)
Instagram Ahmad Dhani Sama seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina (benar ya nulisnya?), saya tidak nonton pernikahan anak Ahmad Dhani dan Maia Estianty (dua idola saya di waktu kuliah). Tapi apa yang ditulis Dhani di Instagram-nya saya baca, dan langsung teringat dengan salinan putusan pengadilan agama Jaksel yang dulu pernah beredar di Twitter (masih bernama itu, belum X). Saya ulas di sini karena cukup mengernyitkan dahi ketika membaca tulisan Dhani itu. "Kok, beda dengan yang saya baca dulu?" Saya urai sejauh bacaan saya, apakah "pengakuan" Dhani ini sesuai dengan fakta hukum 2008 atau tidak? (Disclaimer: ini putusan tingkat pertama [PA], bukan putusan kasasi MA. Untuk amar di banding atau kasasi, saya belum pegang berkasnya) 1. "Maia ditalak 3" Talak satu bain sughra, bukan talak tiga. Dan ini bukan Dhani yang menjatuhkan, melainkan putusan pengadilan atas gugatan cerai Maia. Dhani justru menolak perceraian. 2. "Maia selingkuh dengan pemilik TV swasta, diakui tertulis dan ditandatangani" Tidak ada di dokumen. Majelis menyatakan tegas (kutipan langsung): "...tidak ada yang mengarah kepada terjadinya nusyuz Penggugat kepada Tergugat." 3. Narasi "suami selingkuh dengan orang ketiga" disebut drama palsu Maia Tamara Geraldine bersaksi di bawah sumpah mendengar langsung pengakuan perempuan yang mengaku dinikahi siri Dhani, di rumah Melly Goeslaw, sekitar 2006. Menurut kesaksian Tamara, Dhani pernah mengirim SMS ke perempuan itu mengakui "memang enak punya dua isteri". Setelah pengakuan itu, Tamara menerima teror dari Dhani. Majelis tidak memutus sah-tidaknya nikah siri, tapi mencatat isu ini nyata-nyata memicu kehancuran rumah tangga. 4. "Laporan KDRT palsu" Maia melapor ke Polda Metro Jaya 20 April 2007 (bukti P.22). Tiga saksi di bawah sumpah (ayah, ibu, pembantu Maia) menerangkan: barang Maia dikeluarkan dari rumah, pakaian dikirim ke Surabaya, kamar dibongkar, lemari dijebol, baju dirobek, sepatu dibuang. Banyak hal terjadi saat Maia umrah. Dhani tidak membantah peristiwanya. Pengakuannya sendiri: itu cara "memberi pelajaran" karena Maia tidak menuruti perintahnya. Tidak ada temuan majelis bahwa laporan itu palsu. 5. "MA hanya mengabulkan permohonan cerai saja, hak asuh tidak dikabulkan" Putusan PA Jaksel mengabulkan: cerai (talak satu bain sughra), hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa, Dhani wajib serahkan anak, nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan, sita marital atas tujuh aset sah, harta bersama dibagi dua. NB: HAK ASUH Oiya, ini tidak ada di Instragam, tapi ada di PA (bahkan saya juga kaget karena dulu gak baca sampai sana): Maia dituduh memakai narkoba oleh saksi-saksi yang dihadirkan Dhani. Awalnya Maia menggugat agar tiga anaknya (Al, El, dan Dul) ditetapkan dalam asuhannya. Dhani menolak keras dan menghadirkan sembilan saksi yang menggambarkan Maia tidak layak mengasuh. Salah satunya: Maia adalah pemakai narkoba. Beberapa saksi yang dihadirkan Dhani bahkan mengaku ikut memakai narkoba bersama Maia. Kemudian, Maia mengajukan hasil tes lab dari RS Azra Bogor dan RS Marzoeki Mahdi Bogor, dan keduanya membuktikan bahwa Maia negatif narkoba. Majelis menerima bukti ini. Maia juga dituduh mengabaikan anak. Namun Maia mengajukan 14 rapor sekolah anak (2006-2008) yang ditandatangani sendiri sebagai bukti keterlibatan. Plus, ijazah S1 FISIP UI sebagai bukti kapasitas mendidik. Amar putusan: hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa. Dan Dhani dihukum menyerahkan anak, dan wajib memberi nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan. Saya akan lampirkan berkasnya di reply, silakan baca sendiri. Dan sila koreksi jika ada kekeliruan.
Rumail Abbas (ꦫꦸꦩꦻꦭ꧀ ꦄꦧ꧀ꦧꦱ꧀) tweet mediaRumail Abbas (ꦫꦸꦩꦻꦭ꧀ ꦄꦧ꧀ꦧꦱ꧀) tweet media
Indonesia
657
5K
30.8K
2.5M
Diandra Margan Partamarga retweetledi
Adhin
Adhin@adnardn·
AHY yg dulu baru keluar dari angkatan terus jadi Cagub Jakarta, kalah jauh secara public speaking. Karena lawannya berat banget. Ada pak Ahok yg taktis, ada pak Anies yg retorik. Sejak jadi menko, improve banget. Entah kualitas AHY yg meningkat, atau kualitas menteri lain yg 📉
Fauzan Muhajir 𝕏@fauzanmuhajir

Jujur aja, respon AHY menanggapi kejadian kereta Bekasi adalah respon terbaik dari pemerintah saat ini 👍 Empatinya hadir, tegasnya keluar, bijaknya ada. 11-12 sama SBY dalam merespon bencana.

Indonesia
99
1.2K
6.5K
216.3K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
ann
ann@annmithy·
ini salah satu statement dari bang Raditya Dika yang menurutku kena banget “aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang itu selama lamanya, dengan cara aku menganggap dia tidak ada. jadi yang lebih parah dari membenci orang adalah dengan menganggap dia tidak pernah ada wujudnya. ini lebih menyakitkan daripada dibenci, untuk dianggap tidak ada”
ann tweet media
Indonesia
170
8.1K
32K
1.2M
Diandra Margan Partamarga retweetledi
Ulish
Ulish@uliisshh·
Nonton podcast Raditya Dika, aku setuju sama kalimatnya kalo kita tuh gak sepenting itu di hidup orang lain, jadi chill aja.
Indonesia
121
14.1K
43.9K
649.7K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
Mateus — eu/acc 🇪🇺
Mateus — eu/acc 🇪🇺@im_Mateus_·
Former Singapore PM Lee Kuan Yew on the fundamental difference between American and Chinese society:** Why do America and China see the world so differently? Lee Kuan Yew argues it comes down to one thing: history. "The difference in the core philosophy between the American and the Chinese... it's a reflection of your history." He traces America's worldview back to its origins: "You came over in the Mayflower. You were seeking religious freedom so much so that you refused to allow it to be taught in the schools. You believed in the individual as the creator of all things." That belief in the individual shaped everything that followed: "You captured the wild west. I mean, on horseback. New town, main street, you be mayor, I'm sheriff, you're saloon keeper. We build a gold rush town or cattle or whatever it is." And then came extraordinary fortune: "You have been immensely fortunate and successful. Two world wars left Europe in a shambles and you emerged as the undamaged technological and industrial power." China's story, Lee explains, looks nothing like this. "China has a completely different and a checkered history. 4,000 to 5,000 years of ups and downs. Long periods when there was no governments, anarchy, warlords." He shares a personal moment that brought this reality home to him: "I once had a Chinese masseur when I was in Beijing working my game shoulder and we were talking and I said during the war, Japanese time, what currency did you use? So Japanese currency if it's in Japanese controlled areas or other currencies in other areas. So I said how many currencies are there? Two, three? Says 14 or 15 depending on which warlord's area you're in." So how did the Chinese people survive centuries of chaos, when the state itself kept collapsing? "Why have they survived in spite of anarchy, disaster, floods, famines? Because there was a social network independent of government that sustained them. The immediate family, the extended family, the clan. You owed them an obligation. You cannot turn them away. That's how they survived." This is the philosophical fork in the road. America placed the individual at the centre. China placed the family. Lee describes the system Singapore deliberately chose to preserve: "If we keep those family bonds, those traditional life raft systems not dependent on the state, which places the emphasis on family, extended family, and then the government, and not the individual at the expense of the family and the state, which is the American system." He acknowledges what the American system produces: "So you have Bill Gates or John Chambers of Cisco... you look up Forbes or Fortune or whatever and 50 of the best and the brightest and the wealthiest. That's your experience. That's not China's experience." But the goal in Asia is different: "Yes, we also now want to try and get our little Bill Gates going, but in the context of keeping our society solid so that we will survive as a people." He closes with a sharp reminder of why these two civilisations may never fully understand each other: "You have never been occupied. You have only had one civil war. So you will never understand what it is." The takeaway is uncomfortable but worth sitting with: a society's values aren't chosen in the abstract. They're forged by what that society had to survive. Individualism is a luxury of stability. Family-first collectivism is the inheritance of centuries of collapse.
English
103
639
2.7K
185.1K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
Ulil Abshar-Abdalla
Ulil Abshar-Abdalla@ulil·
Gagasan menarik. Lepas seseorang setuju atau tidak pada gagasan Prof. Stella ini, adanya orang2 yg berani melakukan terobosan gagasan dan kebijakan yg bisa berdampak perbaikan seperti dia ini, amat penting.
Indonesia
1
9
31
4.5K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
Ferry Koto
Ferry Koto@ferrykoto·
Selamat untuk kamerad Jumhur, anak Abah militan di Pilpres yang menjabat co-captain AMIN sebagai Menteri LH di Kabinet Presiden @prabowo Gibran Loyal ya ke Presiden dan Wapres. Jangan dua kaki. Mengabdi yg benar, kerja benar, jangan perkaya diri.
Indonesia
50
31
158
57.6K
Diandra Margan Partamarga
Diandra Margan Partamarga@DPartamarga·
@anasurbaningrum Kalau tidak berangkat dari Partai, berarti kaderisasi partai "GAGAL". Bikin aturan sistem supaya orang baik, punter dan berintegritas mau masuk partai. Saya sekarang udah 7 tahun di Belanda, semua jabatan publik adalah kader partai.
Indonesia
0
1
1
18
Diandra Margan Partamarga
Diandra Margan Partamarga@DPartamarga·
@anasurbaningrum Mas @anasurbaningrum saya setuju kalau pemimpin politik dari level tingkat bawah sampai atas harus kader Partai. Partai politik itu adalah salah satu faktor penting penunjang sistem Demokrasi. Sedih saya kalau pemimpinnya tidak berangkat dari Partai.
Indonesia
1
0
0
303
Anas Urbaningrum
Anas Urbaningrum@anasurbaningrum·
Capres harus dari kader parpol? Konstitusi sudah memberikan hak istimewa kepada parpol untuk mengusung pasangan Capres-Cawapres. Bahkan itu adalah hak monopoli. Hanya parpol atau gabungan parpol yang berhak mengajukan. Tidak ada yang lain. Sangat cukup bagi parpol untuk memonopoli hak ini. Tidak ada urgensi untuk ditambah lagi dengan ketentuan baru : hanya kader parpol yang bisa diajukan sbg Capres-Cawapres. Jika ada aturan demikian, jelas berlebihan. Mengapa? Sumber kepemimpinan sangat beragam. Bisa parpol dan non parpol, seperti dari kampus, ormas, birokrasi, LSM, pers, dan lain-lain. Mata air kepemimpinan harus dijaga tetap mengalir dengan deras dan sehat. Jika dibatasi hanya kader parpol saja yang boleh menjadi Capres-Cawapres, maka rekruitmen menjadi terbatas, sempit dan tidak demokratis, serta bisa mematikan sumber mata air non parpol. Sungguh kerugian besar. Parpol boleh memilih dan mengajukan Capres-Cawapres dari mana pun miqat politiknya. Baik miqatnya internal, yakni kader partai sendiri atau partai lain, bisa juga yang miqatnya non parpol. Apalagi pilpres langsung pasti dengan pertimbangan yang komprehensif sebelum memutuskan siapa calonnya. Termasuk acapkali harus berunding dan berkoalisi. Jadi, biarkan sumber mata air kepemimpinan yang beragam tetap terjaga. Tidak perlu miqat tunggal untuk berangkat menuju istana.
Indonesia
11
12
46
7.3K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
GIBOLofficial
GIBOLofficial@GIBOLofficial·
Dari tribun utara GBLA malam ini!! Pesan untuk bapak 1Milyar "SHUT UP KDM" 🤯 Singkat jelas padat.
Indonesia
27
226
1.4K
154.4K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
Diandra Margan Partamarga retweetledi
Pantau City Indonesia
Pantau City Indonesia@PantauManCity·
Original rivalitas di Premier League ya ini. Asik ditonton, menegangkan, seru..kalau mau tau rasanya kejar2an poin ya diera mereka ini..
Indonesia
39
117
861
156.2K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
#AyoMoveOn2024
#AyoMoveOn2024@Fahrihamzah·
TERIMA KASIH PAK DASCO, PAK SUPRATMAN, DKK Setelah Lebih dari 20 Tahun Kita Menanti. Oleh Fahri Hamzah. (Wakil ketua DPR RI/Korkesra 2014-2019). Kemarin, 20 April 2026, dengan penuh haru kita menyaksikan pengesahan pembicaraan tingkat pertama Rancangan Undang-Undang Pekerja Rumah Tangga (RUU PRT). Pimpinan DPR yang diwakili Prof. Sufmi Dasco Ahmad berhadapan dengan Supratman Andi Agtas sebagai wakil pemerintah Presiden Prabowo Subianto. Di hadapan Badan Legislasi DPR RI, disepakati bahwa pembicaraan tingkat pertama telah selesai dan RUU PRT siap dibawa ke paripurna. Dalam tradisi DPR, RUU yang telah disepakati secara bulat pada tahap ini umumnya akan disahkan pada pembicaraan tingkat kedua. Karena itu, hari ini patut kita sambut sebagai momentum bersejarah. Hari ini, sejarah mencatat sebuah kemenangan besar bagi kemanusiaan di Indonesia. Setelah lebih dari dua dekade berada dalam ketidakpastian, UU PPRT akhirnya hadir. Ketukan palu paripurna bukan sekadar formalitas legislasi, melainkan penanda kemerdekaan bagi jutaan pekerja rumah tangga yang selama ini bekerja dalam sunyi. Dari PMI ke PRT. Saya juga teringat, saat sebagai pimpinan dewan memperjuangkan pengesahan UU Perlindungan Pekerja Migran (UU No 18 Tahun 2017) juga menjadi Ketua Tim Pengawas DPR RI untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI). Kita mengubah istilah TKI (tenaga kerja indonesia) menjadi PMI (migrant worker) agar kesadaran tentang keberadaan mereka dipahami oleh kita juga oleh negara tujuan. Dalam konteks yang lebih luas, lahirnya UU PPRT juga tidak bisa dilepaskan dari arsitektur perlindungan ketenagakerjaan kita secara keseluruhan, khususnya bagi pekerja di sektor domestik. Selama ini, negara sudah lebih dulu memiliki UU Pelindunga PMI yang mengatur warga kita yang bekerja di luar negeri, termasuk sebagai pekerja rumah tangga, tetapi justru terlambat menghadirkan perlindungan setara bagi mereka yang bekerja di dalam negeri. Di titik inilah, UU PPRT dan UU Pelindungan Pekerja Migran seharusnya dibaca sebagai satu kesatuan komitmen: bahwa martabat pekerja, baik di dapur rumah sendiri maupun di rumah majikan di negeri orang, menuntut pengakuan dan perlindungan yang konsisten. Perjalanan panjang dari UU PMI ke UU PRT ini adalah maraton yang menguji ketahanan para pejuang hak asasi. Kita tidak boleh lupa pada keringat, air mata, dan aksi diam di depan gerbang parlemen—semua demi satu hal mendasar: pengakuan. Pengakuan bahwa pekerja rumah tangga adalah pekerja, bukan sekadar “pembantu”, dan karena itu berhak atas perlindungan hukum yang setara. Secara substansi, UU PPRT menegaskan pengakuan PRT sebagai bagian dari hubungan kerja yang sah, sekaligus menyeimbangkan hak dan kewajiban antara pekerja dan pemberi kerja. Garis Besar. Beberapa pokok pengaturannya meliputi: Pertama, lingkup hubungan kerja, yang mencakup perekrutan langsung antara pemberi kerja dan PRT, maupun melalui Lembaga Penempatan PRT (LPPRT) yang berizin resmi. Kedua, hak pekerja rumah tangga, yang mencakup hak atas upah yang layak, waktu istirahat dan cuti, jaminan sosial melalui BPJS, Tunjangan Hari Raya, serta akomodasi yang manusiawi bagi pekerja yang tinggal di rumah pemberi kerja. Ketiga, kewajiban pekerja, termasuk menjalankan tugas sesuai perjanjian, menjaga etika, serta menghormati privasi rumah tangga pemberi kerja. Keempat, kewajiban pemberi kerja, seperti membayar upah tepat waktu, memberikan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, serta menjamin waktu istirahat yang layak. Kelima, mekanisme penyelesaian perselisihan yang mengedepankan musyawarah, dengan opsi mediasi atau jalur hukum bila diperlukan. Keenam, larangan dan sanksi tegas terhadap praktik-praktik seperti kekerasan, penyekapan, eksploitasi anak, serta penahanan dokumen pribadi. Keseluruhan pengaturan ini merupakan langkah penting untuk menata sektor domestik menjadi lebih profesional, berkeadilan, dan terlindungi secara hukum, sejajar dengan sektor kerja lainnya.
Indonesia
38
32
105
29.5K
Muhammad Said Didu
Muhammad Said Didu@msaid_didu·
Beginilah selalu cara mereka. Pak JK tidak pernah menyatakan terkait kemenangan. Pak JK menyatakan : 1) Pak JK yg usulkan ke Megawati utk jadikan Jokowi Cagub - itu diakui Jokowi 2) Pak JK jadi Cawapres Jokowi atas permintaan Ibu Mega - bukan usulan Jokowi. 3) artinya Jokowi tdk punya jasa thdp Pak JK. Kemenangan Jokowi-JK 2014 jelas kerja bersama, termasuk tim JK
GELORA NEWS@geloraco

Projo Klaim Jokowi Menang Berkat Rekam Jejak, Bukan Jasa Jusuf Kalla gelora.co/2026/04/projo-…

Indonesia
78
193
655
35.6K
Diandra Margan Partamarga retweetledi
ℕ
@Ahmaadnajib·
Tiga kali nonton film Interstellar. Dan yang ketiga ini justru yang paling bikin aku diam lama setelah credits film habis. Ada satu pesan yang mungkin tidak bisa aku lupakan Murphy menatap kamera dan bilang ia tidak akan mengirim pesan lagi. Bukan karena marah, bukan karena menyerah. Tapi karena usianya kini sudah sama dengan usia ayahnya saat pergi meninggalkannya. Seorang anak yang menua melampaui ayahnya sendiri yang masih hidup (atau tidak). Aku tidak siap untuk itu. Bahkan disaat metonton yang ketiga kalinya. Dan yang lebih menyesakkan ini bukan fiksi murni. Ini fisika. Di dekat lubang hitam Gargantua, gravitasi begitu ekstrem sampai ia secara harfiah melambatkan waktu. Bukan metafora, bukan efek dramatis. Setiap jam di orbit Gargantua setara dengan tujuh tahun di Bumi. Ini yang disebut Gravitational Time Dilation dan Einstein merumuskannya bukan dari teleskop, tapi dari kertas dan pena, hampir seratus tahun yang lalu. Waktu bukan jam yang berdetak sama di seluruh semesta. Ia adalah dimensi elastis, bisa ditekuk, bisa diperlambat. Cooper tidak "absen" selama puluhan tahun karena lalai. Ia berada di tempat di mana waktu berjalan dengan hukum yang berbeda. Dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubahnya. Persis seperti kita yang kadang merasa "ketinggalan" dari orang-orang bukan karena tidak peduli, tapi karena kita masing-masing berjalan di ritme waktu yang berbeda. Dan ini yang membuat aku merinding lebih dalam lagi. Jauh sebelum Einstein lahir. Jauh sebelum ada persamaan relativitas. Al-Qur'an sudah bicara tentang ini dengan cara yang kalau kamu baca ulang sekarang, akan terasa berbeda. di QS. Al-Hajj: 47 "satu hari di sisi Tuhan setara 1.000 tahun perhitungan manusia". kemudian QS. Al-Ma'arij: 4 "perjalanan malaikat dalam skala 50.000 tahun". Dua angka yang berbeda. Dua skala yang berbeda. Ini bukan inkonsistensi ini deskripsi tentang gradasi gravitasi dan dimensi yang berbeda-beda. Semakin dekat dengan pusat semesta, semakin lambat waktu berjalan. Persis seperti yang terjadi di Gargantua. Dan malaikat? Tercipta dari Nur cahaya. Dalam fisika, objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya mengalami time dilation ekstrem dari sudut pandang sang cahaya, waktu nyaris berhenti. Perjalanan yang bagi manusia terasa ribuan tahun, bagi mereka mungkin hanya sekejap. Dan kisah Ashabul Kahfi tiba-tiba punya dimensi baru: 309 tahun berlalu di dunia luar, tapi tubuh mereka tidak menua. Bukan keajaiban melainkan mereka berada di kondisi di mana waktu berjalan berbeda. Lalu, ini yang benar-benar menggeser cara aku memandang hidup. Kalau waktu bukan garis lurus melainkan hamparan spacetime fabric maka masa depan bukan sesuatu yang "belum ada." Ia sudah ada, di koordinat yang belum kita capai. Kita bukan menunggu waktu datang. Kita yang berjalan melintasi hamparan yang sudah terbentang. Di Tesseract, Cooper melihat setiap momen hidup Murphy bukan sebagai kenangan atau mimpi tapi sebagai ruang fisik yang bisa ia sentuh. "Sudah", "sedang", "akan" dalam dimensi yang lebih tinggi, tiga kata itu adalah satu benda yang sama. Kalau begitu, apakah perpisahan itu nyata? Atau kita hanya terpisah oleh perbedaan frekuensi detak waktu? Dan pertanyaan terakhir yang belum bisa aku jawab: Jika "keabadian" di akhirat adalah kondisi di mana kita keluar sepenuhnya dari dimensi waktu masuk ke dalam singularity di mana tidak ada "sebelum" dan "sesudah" maka mungkin surga dan neraka bukan soal kapan, tapi soal di mana kamu berada dalam struktur realitas. Takdir sudah "selesai" di dimensi lain dan kita tinggal menjalaninya? Atau di hamparan ruang-waktu ini masih ada ruang untuk kita belokkan garisnya? Aku belum tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal: Interstellar bukan film tentang luar angkasa. Ini film tentang betapa kecilnya kita dan betapa anehnya kita tetap peduli satu sama lain meski terpisahkan oleh dimensi.
ℕ tweet media
Indonesia
45
645
2.1K
83.3K