Trystanto

12.3K posts

Trystanto banner
Trystanto

Trystanto

@Trystanto2

Visiting Fellow (non-resident) @nupinytt | Studied @RennesSB @sciencespo @hiugm | Madridista&Parisien | 🇮🇩 politics&IR | Trilingual 🇮🇩 🇬🇧 🇫🇷 | Personal

Katılım Temmuz 2018
642 Takip Edilen3.5K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Trystanto
Trystanto@Trystanto2·
@alfinfbasundoro and I are so proud and happy to announce our latest free-access article for @RSAsianAffairs. We analyze why Indonesia decided to buy a small number of ships from many countries and argue that the trauma of an embargo plays a big role #abstract" target="_blank" rel="nofollow noopener">tandfonline.com/doi/full/10.10…
Trystanto tweet media
English
5
14
66
33.8K
Trystanto retweetledi
UnveiledChina
UnveiledChina@Unveiled_ChinaX·
Singapore's most senior diplomat just stood on Chinese soil and told the Chinese state directly: we cooperate with you because of shared interests, not because of shared blood. That sentence is more significant than it sounds. Lee Hsien Loong, Singapore's former Prime Minister and current Senior Minister, completed a five-day visit to China last week, meeting officials in Guangxi and Shanghai. Speaking to Singapore media on May 22, he was direct: "We are a Chinese-majority country, but we are a multiracial society. We are a separate country with separate sovereignty from China." He added that Singapore's ties with China are grounded in mutual benefit, not shared ethnicity or ancestry. This is a deliberate and pointed statement. The CCP has spent decades promoting the idea that ethnic Chinese people around the world, regardless of citizenship, share a special bond with the Chinese motherland. The concept of 同宗同源, meaning "same ancestry, same roots," is embedded in Chinese state rhetoric aimed at diaspora communities across Southeast Asia, including Singapore's Chinese majority. United Front Work Department operations, diaspora engagement programs, and state media all lean on this framing to cultivate affinity, influence, and loyalty among overseas Chinese populations. Lee Hsien Loong said that is not the basis of Singapore's relationship with China. Singapore cooperates with Beijing because it serves Singapore's interests. Full stop. The moment those interests diverge, the shared ethnicity changes nothing. Singapore has maintained this position since Lee Kuan Yew built the country. It rejects the "Third China" label. It maintains strong ties with the United States, Japan, and the West while trading extensively with Beijing. It is ethnically Chinese-majority and fiercely sovereign. That combination makes it a direct challenge to the CCP's narrative that Chinese ethnicity implies Chinese political alignment. Lee said it in Shanghai. In front of Chinese media. After visiting Chinese officials. The message was intentional and the audience was chosen carefully. #Singapore #China #CCP #LeeHsienLoong #Sovereignty #Geopolitics #SoutheastAsia #UnitedFront #Diaspora #ASEAN
English
146
534
1.9K
382.5K
Trystanto retweetledi
Erin Cook
Erin Cook@dmkmtoday·
This sort of talk pops up every now and then and it's so bonkers, though I'm surprised to see it coming from someone like Cronau! I personally won't be surprised by coverage calling Prabowo's government authoritarian and possibly corrupt because I know who he is! Dumb!!
Erin Cook tweet media
English
13
17
69
3.2K
Trystanto
Trystanto@Trystanto2·
I dont think the US needs to invade Indonesia to access its natural resources as the US-Indonesia Agreement on Reciprocal Trade already gives the US access to Indonesia's natural resources, particularly Indonesia's critical minerals, without firing a shot
JATOSINT@Jatosint

🇮🇩🇺🇸 Indonesia's Coordinating Minister Yusril Ihza Mahendra said that after Venezuela and Greenland, Indonesia could become the next 'target' of the United States due to its abundant energy and mineral resources He added that U.S. forces in Guam could reach Papua within six hours and if war happens Indonesian Military #TNI will run out of ammunition in just four days youtu.be/YtHo0ED6RAc?si…

English
2
6
40
1.5K
Trystanto
Trystanto@Trystanto2·
Apa bedanya VoA dan bebas visa? VoA: Kamu harus ke konter khusus sebelum konter imigrasi untuk bayar Rp. 500,000 dan dapat stiker VoA sebelum ke konter imigrasi Bebas visa: Kamu gausah bayar Rp. 500,000 dan bisa langsung ke konter imigrasi
Indonesia
0
2
14
656
Trystanto
Trystanto@Trystanto2·
Memang bebas visa cuma 16 negara. Tapi, Indonesia memberikan fasilitas Visa On Arrival (VoA) ke negara-negara di bawah. WN mereka cuma butuh bayar Rp. 500,000 buat dapat visa di bandara Indonesia Tentu saja itu belum apa-apa dibanding WNI yang mau ke negara-negara maju
Trystanto tweet media
Good News From Indonesia@GNFI

Penerapan selective policy kini menjadi arah baru dalam pengelolaan pintu masuk wilayah Indonesia. Fasilitas Bebas Visa Kunjungan (BVK) yang sebelumnya mencakup 169 negara, kini disaring secara ketat menjadi hanya 16 negara dan 1 entitas tertentu. Kunjungi tautan berikut untuk lebih lengkapnya! instagram.com/gnfi/p/DYmWi58…

Indonesia
1
13
94
12K
Trystanto retweetledi
escha🌐🪬🌌🏙️
escha🌐🪬🌌🏙️@ekstasis_crane·
gw tebak sih kalau diminta data angka kongkrit buat klaim ini pasti mundur ke bermacam anekdot yang ga sistematis tanpa causation yang jelas. terus dengan data sejelek itu ikut melanggengkan fatalisme terhadap penindasan dengan menegasikan kemungkinan pembelajaran kebijakan
beth go to bed (at reasonable hours)@halfmund

ini tuh menarik banget karena sempet baca, kenapa pekerja di negara maju, esp european, bisa punya work-life balance yang sehat tuh ya sebabnya juga karena "pengorbanan" dari pekerja global south yang diperas habis-habisan....

Indonesia
1
13
87
3.9K
Trystanto
Trystanto@Trystanto2·
Sumud Flotila 2.0 dicegat di perairan internasional dan Israel (atau negara manapun) tidak punya hak apapun menangkap atau mencegat kapal di perairan internasional. Kalau ini bukan penculikan, lalu apa @Menlu_RI? Jelas ini penculikan di perairan internasional
Jejak digital.@ARSIPAJA

Indonesia
1
6
32
900
Trystanto retweetledi
Trystanto retweetledi
Luke de Pulford
Luke de Pulford@lukedepulford·
Has Taiwan been a part of China since ancient times, at Beijing insists (chapter 2)? Not according to Mao himself, who, in a 1937 interview, neither listed Taiwan (Formosa) as a lost territory, nor ruled out China supporting Taiwanese independence. Quote in picture. Critics will argue that this was all about context, and that China’s principal foreign policy priority was dealing with Japan, so concessions on Taiwan were necessary. He changed his position later, they’ll say. Some truth there, but doesn’t explain: 1. Why Taiwan wasn’t considered a lost territory by Mao. 2. Why he said it at all, if subsuming Taiwan was indeed such an embedded historical imperative for the CCP. If Taiwan’s sovereignty were as obvious as the contemporary CCP makes out, Mao could not have uttered these words. Impossible to avoid the conclusion that Mao said things that fundamentally contradict Beijing’s current position and narrative on Taiwan, however short lived that position.
Luke de Pulford tweet media
English
44
129
368
21.7K
Trystanto
Trystanto@Trystanto2·
Ferry Irwandi udah Ph.D belum?
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, Ferry Irwandi baru merilis video yang menurut gue paling berbahaya untuk reputasi Purbaya sebagai Menteri Keuangan. Bukan berbahaya karena mengandung fitnah. Tapi berbahaya karena menggunakan matematika. Dan matematika tidak bisa dibantah dengan narasi. Tidak bisa dibantah dengan wawancara di TV One. Tidak bisa dibantah dengan bilang "Anda tidak mengerti ekonomi." Matematika hanya bisa dibantah dengan matematika yang lebih benar. Apa yang Purbaya klaim: Pertumbuhan ekonomi 5,61% adalah capaian yang membanggakan. Fundamental kita kuat. Konsumsi yang menjadi komponen terbesar bukan government spending yang menggerakkan pertumbuhan itu. Kalimat Purbaya yang paling terkenal soal ini: pertumbuhan 5,61% tidak digerakkan oleh belanja pemerintah yang besar. Konsumsinya 54,36% jauh lebih besar dari government spending yang hanya 6,72%. Kedengarannya masuk akal. Sampai Ferry Irwandi membuka spreadsheet dan mulai menghitung. Dan inilah yang sebenarnya terjadi dan ini yang membuat gue berhenti: Ferry tidak membantah bahwa konsumsi lebih besar dari government spending secara persentase komposisi GDP. Itu benar. Tidak ada yang menyangkal itu. Yang Ferry bantah adalah logika yang digunakan Purbaya untuk menarik kesimpulan. Karena yang penting bukan porsi komposisi tapi kontribusi persentase poin terhadap pertumbuhan. Dan ketika dihitung dengan benar: Konsumsi menyumbang 2,94 persen poin dari 5,61%. Investasi menyumbang 1,79 persen poin. Government spending menyumbang 1,26 persen poin. Sekarang pertanyaannya: government spending naik berapa persen untuk menghasilkan kontribusi 1,26 persen poin itu? 21,81%. Kenaikan tertinggi dalam sejarah modern republik ini. Dalam 10 tahun terakhir range normalnya antara 3 sampai 6 persen. Tidak pernah 21,81%. Dan Ferry Irwandi melakukan sesuatu yang sangat mematikan: Dia menghitung counter faktual. Pertanyaannya: kalau government spending tumbuh normal sesuai rata-rata 10 tahun terakhir yaitu 4,8% bukan 21,81% berapa pertumbuhan ekonomi kita yang sesungguhnya? Dengan akuntansi: 4,63%. Dengan ekonometrika memasukkan multiplier effect dari konsumsi dan investasi yang ikut terpengaruh: antara 4,23% sampai 4,43%. Bukan 5,61%. Tapi sekitar 4,2 sampai 4,6 persen. Dan ini yang paling mematikan dari seluruh analisis Ferry: Purbaya bilang 5,61% adalah salah satu yang tertinggi. Perlu dirayakan. Perlu dibanggakan. Ferry Irwandi berkata dengan sangat dingin: "Kalau government spending-nya normal ini bukan salah satu yang paling tinggi. Ini salah satu yang paling buruk." Selama 10 tahun terakhir dengan government spending yang normal pertumbuhan 4,2 sampai 4,6% itu ada di bawah rata-rata historis Indonesia. Jadi yang sedang dirayakan Purbaya setelah dibedah sebenarnya adalah pertumbuhan di bawah rata-rata yang dimanipulasi tampilannya dengan belanja negara yang tidak berkelanjutan. Dan ini yang bikin gue benar-benar tidak bisa tidur: Dari mana uang belanja pemerintah yang naik 21,81% itu? Pendapatan negara naik 10%. Belanja naik 31,8%. Defisit Q1 saja sudah Rp240 triliun ditutup dengan utang tambahan Rp258 triliun. Artinya: pertumbuhan 5,61% yang dirayakan itu sebagian besar dibeli dengan utang. Bukan dihasilkan dari aktivitas ekonomi organik rakyat. Dan utang itu harus dibayar. Dengan bunga. Oleh generasi yang sekarang masih sekolah. Rakyat yang tabungannya turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta yang kelas menengahnya menyusut dari 57 juta ke 46 juta tidak merasakan pertumbuhan itu. Karena pertumbuhan itu bukan untuk mereka. Pertumbuhan itu adalah angka di kertas yang dibiayai dari kantong masa depan anak-anak mereka. Dan sementara Ferry Irwandi membuktikan ini dengan ekonometrika: Purbaya tetap keliling media bilang fundamental kita kuat. Gubernur BI mengganti definisi stabilitas supaya rupiah yang di Rp17.600 bisa disebut stabil. Presiden bilang "mau dolar berapa ribu kek." Dan Ketua Komisi XI DPR bilang yang terdampak orang kaya saja. Market tidak percaya. D olar tetap ngacir. IHSG tetap ambruk. Investor asing terus kabur. Karena market membaca data bukan narasi. Dan yang paling telak dari Ferry Irwandi: "Kalau memang ada yang salah dari matematika saya mohon dikoreksi. Dengan keilmuan yang benar. Pak Purbaya kan sering ngaku ekonom. Tentu ekonom tidak bernarasi. Tentu Menteri Keuangan tidak beropini. Jawablah dengan data." Sampai hari ini belum ada jawaban dengan data. Yang ada hanya wawancara di TV One. Narasi tentang fundamental kuat. Dan kalimat yang menurut Ferry sendiri tidak perlu direspons tapi tetap menggelikan: " Anda tidak mengerti ekonomi." Sementara rupiah terus melemah. Defisit terus melebar. Dan orang yang disebut tidak mengerti ekonomi itu punya 2,3 juta subscriber yang menonton matematikanya dan tidak ada satu pun angka yang bisa dibantah. Purbaya bilang pertumbuhan 5,61% adalah bukti fundamental kuat. Ferry Irwandi membuktikan dengan ekonometrika bahwa tanpa government spending yang naik 21,81% angka itu tidak akan tercapai. Dan kalau spending-nya normal pertumbuhannya salah satu yang paling buruk dalam satu dekade. Ini bukan soal siapa yang lebih pintar. Ini soal siapa yang jujur dengan data. Dan ketika Menteri Keuangan memilih cherry picking angka untuk membuat kondisi terlihat lebih baik dari kenyataan bukan hanya dia yang menanggung akibatnya. Yang menanggung akibatnya adalah rakyat yang tidak tahu bahwa pertumbuhan yang dirayakan itu sebagian besar adalah utang yang sedang dicicilkan ke masa depan mereka.

Indonesia
18
11
111
26.7K
Trystanto retweetledi
Indra Charismiadji
Indra Charismiadji@icharis·
32/ Maka menyederhanakan kasus ini sebagai “kriminalisasi politik” terlalu mudah. Nadiem bukan politisi oposisi. Ia bukan tokoh partai yang sedang berhadapan langsung dengan kekuasaan elektoral. Ia bukan Tom Lembong. Bahkan Prof. Mahfud MD pernah menyatakan Nadiem tidak punya lawan politik. youtube.com/shorts/3niv2io…
YouTube video
YouTube
Indonesia
2
30
51
10.5K
Trystanto retweetledi
Bethany 貝書穎
Bethany 貝書穎@BethanyAllenEbr·
It seems like autocracies are gaining ground, but take heart — the world still reveres democracy. Many authoritarian governments pretend to be democratic, but no democratic government in the world pretends to be authoritarian.
English
41
16
109
11.7K
Trystanto
Trystanto@Trystanto2·
@kev_kag Bro thinks solving and teaching math equations are enough to be an education minister
English
1
9
83
2K
Trystanto retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Trade between Europe and China is “unsustainable” says Maros Sefocovic, the EU’s trade commissioner. He represents the world’s largest trade bloc at the negotiating table. The Economist’s geopolitics editor, David Rennie, asks if the bloc is prepared to risk a trade war to tackle the deficit econ.st/4wzbz4y
English
23
72
174
53.3K
Trystanto retweetledi
Henry Gao
Henry Gao@henrysgao·
The biggest myth is that China plays the long game and "think in terms of centuries". Just to name a few recent counter-examples: the disastrous one-child policy, abrupt ending of COVID-zero, and the crack-down on tech firms.
Lara Logan@laralogan

When I was reporting for 60 Minutes in China, I was told by people I met that they regard America as inferior, specifically because they say the U.S. does not understand how to play the long game. They said with disdain: “We think in terms of centuries - Americans can only think in terms of minutes.”

English
152
531
6.5K
318.8K
Trystanto retweetledi
Steve Yates (葉望輝)
Steve Yates (葉望輝)@SteveYates·
This is exhibit A in why no one should take geopolitical advice from tech VCs any more than tech VCs should take product, finance, or engineering guidance from national security policy practitioners.
The All-In Podcast@theallinpod

Chamath: Taiwan Loses Its Strategic Importance in 18 Months @chamath: “ We're 18 months from Taiwan not being an important moment of conversation the way it is today. Why 18 months? Because we are at a point where we're probably 1-2 nanometers away from being able to do what we need Taiwan to strategically do for us. And so as we scale up our chip fabs, as we get more capacity, and interestingly, there are these orthogonal technologies being developed. I don't know if you guys saw, but Neuralink was showcasing a machine that is literally operating at the almost nanometer scale to do the brain operations for the implantation, all automatically. When you have the dexterity and the capability mechanically to make these things, the real reason then is a very different one than what it is today. Today, it's economic. And if you take that off the table, I think we'll have a very different attitude to Taiwan.”

English
20
60
264
24.8K