
Imam Syaifudin
9 posts









Soal kapal Iran yang disita oleh Bakamla RI seharusnya disikapi dengan bijak, bisa diselesaikan melalui pendekatan bilateral antara kedua negara. Iran itu ibarat petani yang selalu diganggu oleh preman pasar karena tidak mau membayar pungli, akhirnya Iran dilarang pergi ke pasar untuk menjual hasil panennya. Tentunya ini berimplikasi pada kesejahteraan rakyatnya, mau tak mau Iran harus mencari alternatif untuk bisa menjual hasil panennya agar anak-anak di Iran bisa mendapatkan gizi yang cukup dan pendidikan yang memadai. Akhirnya Iran memilih menjual barang tersebut diluar pasar, tepatnya di depan lapak milik Indonesia dan langsung nego dengan pembeli. Karena Indonesia juga gak berani menampung hasil panen Iran, alasannya takut diganggu juga sama preman pasar. Seharusnya Indonesia dalam hal ini mengedepankan rasa kemanusiaan, memberikan toleransi kepada Iran demi kelangsungan hidup anak-anak dan keluarganya. Meskipun Iran sudah memohon pengertian dari Indonesia, tapi jalan yang dipilih oleh Indonesia tidak sesuai dengan harapan Iran, gerobak berikut hasil panen Iran dirampas lalu dilelang. Bertahun-tahun gerobak dan hasil panen Iran coba ditawarkan ke berbagai pihak, tapi tidak ada yang bersedia membeli barang hasil rampasan. Akhirnya itu gerobak terkatung-katung di tengah laut, sebagian terlihat dipenuhi dengan karat. Sesuatu yang sangat berharga bagi Iran, di tangan Indonesia justru jadi mubazir. Sekarang roda nasib berputar, 2 tanker milik Pertamina tertahan di Selat Hormuz, dimana Iran secara sah berhak mengendalikan lalu lintas di tempat itu.. Kemungkinan Iran meminta barter atas penyitaan tangker miliknya oleh pemerintah Indonesia, sekali lagi Indonesia malah kembali menegaskan bahwa kapal Iran yang disita akan dilelang. Kira-kira adil gak sih kalau Iran juga menyita dan melelang tanker milik Pertamina..?? 🤔








