txt from Architect
12.3K posts

txt from Architect
@johnswijaya
actually... 1% tweet about Architecture, 99% other about random things 🤣🤣🥲








Persentase Penduduk Lanjut Usia Berusia 60 Tahun ke Atas di Indonesia



Di zaman AI, guru tidak lagi dibutuhkan. Setidaknya, guru tradisional. Yang dibutuhkan: 1. Sesuatu yang bisa membuat anak mau belajar. Ini adalah tugas guru yang baru. 2. AI. 3. Ujian sulit dan sadis, tiap hari, dengan kertas dan pulpen. --- ## Guru Tugas guru diganti. Tugas guru bukan lagi "mengajar". Tugas guru adalah "bikin anak belajar". Tinjau: Anak broken home, anak miskin yang kesulitan datang ke sekolah, anak anggota geng motor, anak dibully, dan untuk mayoritas kasus, anak bosan yang tidak peduli dengan pelajaran dan secara biologis ingin scrolling TikTok atau main Genshin saja. AI sama sekali tidak berguna di sini. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan masalah semacam itu adalah guru manusia. Hanya guru manusia yang mampu membuat anak mau belajar dan mau menghargai ilmu pengetahuan. Guru manusia harus dilatih dan digaji untuk melakukan hal itu. Contoh yang tidak ekstrem: kerja kelompok. Secara praktik, kerja kelompok ternyata sangat useless dalam mendidik, karena yang satu berkerja sedangkan yang lain berkelompok. Guru manusia harus bisa mendeteksi dan mengoreksi hal semacam ini, dan memikirkan "kalau begitu gw harus ngapain ya?" Baru-baru ini, sekolah berbasis AI bernama Alpha School mengklaim bahwa sistem tutoring AI nya adalah begitu bagusnya sampai bisa memotong kelas mata pelajaran menjadi 2 jam sehari saja, dengan nilai yang jauh melebihi sekolah lain. Yang luput orang perhatikan adalah bahwa guru-guru Alpha School adalah mantan atlet basket NBA, psikolog, dll yang dilatih khusus untuk menginspirasi anak, serta mengondisikan lingkungan belajar anak dan persaingan status sosial anak untuk giat belajar sebanyak-banyaknya dengan sangat ambis. Gaji para guru di Alpha School adalah Rp 140 juta / bulan. Tentu saja ini sangat sulit diterapkan di Indonesia. --- ## Ujian tiap hari, berbasis kertas Bagian "kertas" mudah dipahami. AI adalah alat kecurangan akademis. Semua ujian, pengerjaan soal, dll harus benar-benar steril dari teknologi, dilakukan di kelas, dan dipelototi oleh guru manusia. Bagian "tiap hari" berasal dari teori pendidikan yang dipahami oleh semua pengguna Anki dan dipraktikkan oleh Alpha School: spaced repetition dan prerequisite mastery. - Secara biologis, kalau manusia belajar sesuatu, akan lupa dalam 2 hari. Apabila diingat ulang lewat active recall (yaitu latihan soal), ia akan ingat lagi, selama 4 hari. Lalu 8, 16, 32, dll. - Anak tidak akan bisa belajar aljabar selama calistung saja tidak bisa. Dalam kelas berisi 40 orang, mustahil 1 manusia guru memantau siapa yang bisa calistung dan siapa yang tidak. Penguasaan *hanya bisa* dideteksi lewat pengerjaan soal. Kombinasi keduanya membuahkan ujian harian. Alpha School menerapkan latihan soal harian yang terstruktur seperti itu. Hasilnya adalah percepatan belajar sebanyak 10x. Mata pelajaran yang dulu butuh 10 minggu untuk dikuasai, sekarang hanya butuh 1 minggu. Anak di Alpha School tidak bosan mengerjakan ujian tiap hari, berkat hasil kerja guru mereka yang digaji Rp 140 juta / bulan. Untuk konteks Indonesia, ada kepentingan yang lebih urgent lagi yaitu motivasi belajar. Motivasi belajar seharusnya adalah tugas guru, sebagaimana dipaparkan di bagian 1. Tetapi di Indonesia, rasanya mustahil menaikkan kesejahteraan guru selama DPR tidak diduduki massa, rezim diganti, dan rezim daerah digantung terbalik di Indomaret. Itu tidak realistis. Lebih realistis dan lebih murah memotivasi anak dengan ujian harian. Ini band aid sederhana untuk mengatasi Krisis Pendidikan di Indonesia. --- ## AI Metode pelajaran yang paling ideal adalah "anak belajar sendiri dengan niat karena ia mau". Tugas guru adalah membuat anak mau melakukan itu dan memastikan bahwa anak belajar hal-hal yang benar, dengan sesuai target capaian belajar per semester. Tugas AI adalah actually mengajarkan materinya dengan detail. Kalau prestasi percepatan belajar Alpha School bisa direplikasi, sekolah bisa selesai jam 10 pagi. Sisa hari bisa bebas dipakai terserah si anak: pacaran, motoran, basketan, futsalan, kepanitiaan, Valorant, atau belajar mandiri atau berkelompok. Karena besok ujian, anak akan terpaksa mengalokasikan waktunya berbondong-bondong belajar sebagai default. Belajar dengan AI tidak butuh pengadaan proyek pemerintah yang aneh-aneh. Liter cuma butuh akses ke browser internet. Artinya, bisa langsung diterapkan ke semua sekolah di Indonesia yang terhubung internet. AI nya ngawur? Akan ketahuan di ujian harian bahwa AI nya halusinasi dan apa yang ia ajarkan salah. Rasain. Mampus. Salah sendiri terlalu percaya pada AI tanpa crosscheck. Soal ujian yang begitu banyak bisa saja digenerate oleh AI lalu dicek guru. Atau, Kemdikdasmen yang membuatnya, misal membuat stok latihan soal dan kunjaw sebanyak 1 trilliun rows unik. --- Di zaman AI, kemampuan yang paling penting adalah kemampuan bisa belajar sendiri dengan cepat. Sistem pendidikan tradisional yang membentuk anak menjadi robot tidak lagi relevan. Anak yang dididik jadi robot akan kalah dengan robot betulan. Anak harus bisa mikir sendiri dan memutuskan sendiri apa yang penting baginya, apa yang harus dia lakukan, bagaimana cara melakukannya. Anak harus (1) hafal, (2) paham, dan (3) bisa mengggunakan informasi ilmu dalam jumlah sangat besar untuk berbagai keperluan umum. Guru harus memfasilitasi dan memastikan bahwa ini benar-benar terjadi.














@adnardn Yap, gw sebagai warlok ga kaget sama perlintasan ini. Lebarnya pun cuman selebar ruko dan jadj tempat ngetemangkot K-12 pas gw masih sekolah. Ormas yg jaga FBR kalau ga salah x.com/i/status/20488…





🇮🇩 At least two people were killed when two trains collided on the outskirts of Jakarta, Indonesia An Argo Bromo Anggrek long-distance express train slammed into the rear of a stationary CommuterLine train that was waiting on Track 1. A spokesman for the state-owned railway company PT KAI confirmed the two fatalities. Numerous other passengers were injured. The reason why both trains were allowed on the same track is still under investigation.













