Rama Rahmanda

2K posts

Rama Rahmanda banner
Rama Rahmanda

Rama Rahmanda

@ramandann

Software engineer 🌏🇺🇸 | 🎙 @okr_id

Katılım Ocak 2011
309 Takip Edilen1.5K Takipçiler
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@prakashdivyy ora signifikan pg14 -> pg16 kalo client/paralelnnya dikit, ini gw tes pg bench 10 client 2 thread
Indonesia
0
0
0
18
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
mayan kaget juga ini liat performa db k8s vs db vm bisa 2x ditambah db baru ada WAL (reps enabled). lah kok bisa padahal abstraksinya gedean pod drpd vm, inilah pentingnya belajar kakikaki
Rama Rahmanda tweet media
Indonesia
1
0
4
400
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@VeritasFacti @gustySAP @adityaridha bang, gw gamau berdebat take it or leave it aja itungan ini. dari prospektus harga per lembar 1jt udah kena dilusi dari 2018 . Split x20k untuk dapet 50 per saham kepemilikan. Market price 850 (agio ) 1139 x 20.000 x 850 = 19.3bio - 12.5% (dilution IPO) = 16.9bio
Rama Rahmanda tweet media
Indonesia
1
0
5
346
Bagas
Bagas@VeritasFacti·
@gustySAP @ramandann @adityaridha Gw seneng ada yg respon gini, krn gw udh prnh hitung di 27 April. Gw udh baca jg prospektus 2021. Skenario OPTIMIS saham ibam naik linear dgn valuasi BUKA dan gak ada dilusi. Stock split exist tp gak ngaruh ke perhitungan. Pun msh gak match angka nya 👇 x.com/i/status/20486…
Bagas@VeritasFacti

@amirk @rahmisr @ibamarief @achmadzaky Saham 16,9M di Bukti Potong Founder's Tax itu pake harga penawaran IPO (Rp850), bukan harga ATH (Rp1.060). Karena dipotongnya pd saat IPO, bkn ATH. Justifikasi kenaikan valuasi pun klo dihitung msh gak match. Bahkan dgn asumsi konservatif sahamnya tdk terdilusi. Hitung2an gw👇

Indonesia
1
0
4
1.2K
Bagas
Bagas@VeritasFacti·
1. PSPK gaji org 163jt/bln buat kerja di tempat laen, ada mksd apa 🚩? 2. Dugaan tipikor + kenaikan harta masif yg gabisa dijelaskan = 🚩🚩🚩 3. Ibam gabisa membuktikan terbalik 16,9m drmana. Katanya dr ESOP Bukalapak, tp pas dibuka kontraknya nilainya bukan 16,9m, tp cuma 2,1m🚩
Vincent Ricardo (柯仙森)@vincentrcrd

Sorry, Bud. Ini keliru. Sebagai orang yang ngikutin proses kasus Chromebook dari awal, setidak-tidaknya ada 3 hal yang bisa gw bantu jelaskan untuk membuat terang. Pertama, narasi pengabdian tidak pernah muncul duluan dari Ibam. Secara kronologis, framing Ibam menerima gaji Rp163juta/bulan dari Yayasan PSPKI seakan-akan ini untuk memuluskan project pengadaan Chromebook muncul duluan. Padahal kenyataannya Ibam turun gaji saat ingin berkontribusi lewat PSPKI, dan terbukti pula di pengadilan kalau Yayasan PSPKI menggaji Ibam dari donor yang tidak ada sangkut pautnya dengan pengadaan Chromebook. Ini lah yang membuat narasi white savior tampaknya seakan-akan muncul duluan dari Ibam. Padahal ini adalah fakta persidangan yang terungkap begitu saja. Kedua, karena gagal membuktikan gaji Ibam itu bukan uang haram yang didapatkan dari pengadaan Chromebook, sangat patut diduga kalau JPU menggeser fokus dengan memaksakan ESOP Ibam di BukaLapak yang sempat naik ke angka Rp16,9 Miliar. Padahal harga saham setinggi itu bukan realized gain, karena saham tersebut tidak bisa dijual karena masih dalam locked-up period saat IPO (Penawaran Saham Perdana). Mas Ibam dalam podcast di Ngomongin Uang sebenarnya sempat sebut kalau dia salah satu nyangkuter juga. Realized gain-nya sangat jauh dari angka Rp16,9 Miliar. Ketiga, persoalan gaji maupun ESOP Ibam bukan lagi fokus pada fakta hukum di persidangan, karena baik gaji maupun ESOP Ibam tersebut adalah penghasilan yang sah atau halal (lawful enrichment), bukan memperkaya diri sendiri secara melawan hukum (illicit enrichment). Terungkap di persidangan kalau aliran dana korupsi pengadaan malah mengalir pada saksi yang seharusnya itu jadi tersangka. Semua orang yang mempelajari hukum pidana seharusnya tahu kalau pengembalian uang hasil kejahatan tidak menghapus pidana, terkecuali Fajar Trio. Ironinya, malah yang dipermainkan itu adalah amarah masyarakat akan kegagalan sistem ekonomi kita yang menciptakan problem ketimpangan. Saya yakin kita semua bisa setuju kalau sistem ekonomi kita saat ini masih belum bisa menyejahterakan banyak orang. Tapi melempar kemarahan ini ke mas Ibam keliru, karena dia bukan pejabat eselon kementerian, menteri, ataupun Presiden yang mempunyai kekuatan/wewenang untuk mengambil keputusan. Mas Ibam hanya seorang konsultan. Kita harus adil sejak dalam pikiran kalau mas Ibam juga merupakan korban dari kegagalan sistem yang ada. Setidak-tidaknya tidak berlebihan untuk bilang mas Ibam adalah korban dari kegagalan sistem hukum yang sudah busuk dan masih terus membusuk.

Indonesia
17
25
108
21.8K
Bagas
Bagas@VeritasFacti·
@adityaridha Mestinya doi ngasih (klo emg ada) : ➡️ Grant letter, akta RUPS, surat eksekusi opsi, bukti trf beli saham ESOP, akta notaris, dll. Buanyaakk yg bisa dijadikan pembelaan. Tp doi malah cuma ngasih kontrak ESOP dan Bupot. Nih kontrak ESOPnya. Diitung aja. x.com/i/status/20453…
Ibrahim Arief@ibamarief

Saham yang dimiliki Ibam yang katanya senilai Rp16,9M itu adalah hasil kerja di Bukalapak DAN NGGA ADA KAITANNYA DENGAN SEJAK PERTAMA IBAM BANTU KEMENDIKBUD. Kok bisa JPU menuntut Ibam pakai itu?

Indonesia
3
0
4
1.8K
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@mitsuhiko Managers was once strong ICs. It give the best of both worlds, the strategic urgency of leadership paired with the tactical execution.
English
0
0
0
57
Armin Ronacher ⇌
Armin Ronacher ⇌@mitsuhiko·
Why does everybody want managers to be ICs? Please someone explain this to me from first principles.
Brian Armstrong@brian_armstrong

This is an email I sent earlier today to all employees at Coinbase: Team, Today I’ve made the difficult decision to reduce the size of Coinbase by ~14%. I want to walk you through why we're doing this now, what it means for those affected, and how this positions us for the future. Why now Two forces are converging at the same time. We need to be front footed to respond to both. First, the market. Coinbase is well-capitalized, has diversified revenue streams, and is well-positioned to weather any storm. Crypto is also on the verge of the next wave of adoption, with stablecoins, prediction markets, tokenization, and more taking off. However, our business is still volatile from quarter to quarter. While we've managed through that cyclicality many times before and come out stronger on the other side, we’re currently in a down market and need to adjust our cost structure now so that we emerge from this period leaner, faster, and more efficient for our next phase of growth. Second, AI is changing how we work. Over the past year, I’ve watched engineers use AI to ship in days what used to take a team weeks. Non-technical teams are now shipping production code and many of our workflows are being automated. The pace of what's possible with a small, focused team has changed dramatically, and it's accelerating every day. All of this has led us to an inflection point, not just for Coinbase, but for every company. The biggest risk now is not taking action. We are adjusting early and deliberately to rebuild Coinbase to be lean, fast, and AI-native. We need to return to the speed and focus of our startup founding, with AI at our core. What this means To get there, we are not just reducing headcount and cutting costs, we’re fundamentally changing how we operate: rebuilding Coinbase as an intelligence, with humans around the edge aligning it. What does this mean in practice? - Fewer layers, faster decisions: We are flattening our org structure to 5 layers max below CEO/COO. Layers slow things down and create coordination tax. The future is small, high context teams that can move quickly. Leaders will own much more, with as many as 15+ direct reports. Fewer layers also means a leaner cost structure that is built to perform through all market cycles. - No pure managers: Every leader at Coinbase must also be a strong and active individual contributor. Managers should be like player-coaches, getting their hands dirty alongside their teams. - AI-native pods: We’ll be concentrating around AI-native talent who can manage fleets of agents to drive outsized impact. We’ll also be experimenting with reduced pod sizes, including “one person teams” with engineers, designers, and product managers all in one role. In short: AI is bringing a profound shift in how companies operate, and we’re reshaping Coinbase to lead in this new era. This is a new way of working, and we need to leverage AI across every facet of our jobs. To those who are affected I know there are real people behind these decisions — talented colleagues who have poured themselves into this company and our mission. To those of you who will be leaving: thank you. You’ve helped build Coinbase into what it is today, and I am sincerely grateful for everything you've done. All impacted team members will receive an email to their personal account in the next hour with more information, and an invitation to meet with an HRBP and a senior leader in your organization. Coinbase system access has been removed today. I know this feels sudden and harsh, but it is the only responsible choice given our duty to protect customer information. To those affected, we will be providing a comprehensive package to support you through this transition. US employees will receive a minimum of 16 weeks base pay (plus 2 weeks per year worked), their next equity vest, and 6 months of COBRA. Employees on a work visa will get extra transition support. Those outside of the US will receive similar support, based on local factors and subject to any consultation requirements. Coinbase prides itself on talent density. Our employees are among the most talented people in the world, and I have no doubt that your skills and experience will be highly sought after as you pursue your next chapters. How we move forward To the team that is staying, I know this is a difficult day. We’re saying goodbye to colleagues and friends you've been in the trenches with. But here’s what I want you to know as we move forward together: Over the past 13 years, we have weathered four crypto winters, gone public, and built the most trusted platform in our industry. We’ve made it this far by making hard decisions and by always staying focused on our mission. This time will be no different – nothing has changed about the long term outlook of our company or industry. And most importantly, our mission has never been more important for the world. Increasing economic freedom requires a new financial system, and we’re building it. The Coinbase that emerges from this will be more capable than ever to achieve our mission. Brian

English
272
23
1.5K
443.4K
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
udah siap jadi nasabah prioritas
Rama Rahmanda tweet media
Indonesia
0
0
0
430
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
Message clear af. "Lu kalo kerja jgn gangguin kita cari duit tambahan, kalo engga lu masuk penjara"
Indonesia
1
0
4
299
Gogo | Dota for Toxicity
Gogo | Dota for Toxicity@lwastuargo·
Faaaaaaaaaaakkkk
Ibrahim Arief@ibamarief

Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara? Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu. Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun. Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai. Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain. Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi. Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook. Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa: 1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN. 2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal. 3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu. 4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan. 5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian. Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam. Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka. Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam. Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan. Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja. Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam. Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek. Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan. JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun. Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara. Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan. Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga. Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum. Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi. Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun... Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit. Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus. Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini? Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara? Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian. Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi. Jakarta, 16 April 2026 Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)

11
57
478
36.5K
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
mau gw tag kasian takut timeskip arc lagi nanti
Rama Rahmanda tweet media
Indonesia
0
0
2
80
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@radjathaher not a suggestion as I'm also learning this infra stack. Minio cuma dipakai buat dev hehe, prod nya masih R2. Leaning to Ceph cuma ada bad exp ngilangin data 💀 KV recently move to valkey but not used for main queue seems ok (?) heard kafka strimzi is ok cncf.io/projects/strim…
English
0
0
1
13
Radja Thaher
Radja Thaher@radjathaher·
@ramandann @levifikri good stuff. you guys keeping around minio atau udah mau migrate ke something else kah eg RustFS, garage, etc? anything on your radar for integrating KV/Redis, Queue like rabbitmq/kafka etc in the cluster?
English
1
0
0
46
Levi | still learning
Levi | still learning@levifikri·
Sekarang lebih value simplicity daripada complexity keren2an. Misal.... seputar Kubernetes, Microservice, Distributed System Entah karena umur (*uhuk), entah experience, entah trend, entah efek AI, entah karena jadi pragmatis, atau apa ya... Sekarang berpikir 10x sebelum nyentuh hal2 complex itu - Repot gak tuh maintainnya? Kalau perlu dedicated person, atau bakal ada overhead 10% ops, gak usah deh - AI friendly gak? Kalau malah bikin susah vibe coding, gak usah deh - Memperlambat dev gak? Kalau quite significantly, dan gak worth the impact, gak deh - Dibutuhkan buat scale kita di 1-2 tahun ini gak? Kalau belum, nanti dulu deh. Sistem yang ini gpp kok kalau cuma kuat 500 rps - Bisa "nyampah" dulu dan *gampang direfactor* nanti gak? Kalau bisa, ya sudah nyampah dulu, yang penting cepet jadi dan solve current problem - Ngimpact ke bisnis gak? Atau cuma keren2an technical, tapi dikit biz valuenya? - Ini bakal potensi direuse/diextend gak? If not, udah gak usah bikin interface atau layer tambahan, keep it simple dulu. Refactor later, toh gampang pake AI - Future usecase yang kita pikirin sekarang ini akan terjadi gak di 1-2 tahun ini? Apakah kita ada plan ke arah sana? If not, gak worth complexitynya - Ini library/framework masih exist gak di 2 tahun ini? Gede gak communitynya? - Ini nambah moving parts gak? Nampah potential bugs gak? dll
Levi | still learning@levifikri

@radjathaher Zaman gini udah nggak deh Kubernetes* haha Infra == bisa deploy ke production (Cloudflare/Netlify/Heroku) dan bisa click2 buat nyalain database dan backup/ngescale *untuk ~99% companies out there

Indonesia
9
17
123
9.5K
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@txtdarisugab Pull method: crontab + periodically pull & compare version/sha Push method: Github action + ssh vm + scp + run systemd
English
1
0
7
148
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@levifikri 1000% agree, but unfortunately due to this premise many are avoid learning infra/k8s as long as the cost justified (diriku salah satunya). padahal (imo) pake AI it only took hours untuk bikin production grade infra, asal punya cs fundamental.
English
0
0
1
13
Levi | still learning
Levi | still learning@levifikri·
> I would say 90% above issues is a common infra issue not k8s specific Oh justru pointnya adalah sekarang prefer gak mikirin & maintain sendiri the whole infra hehe. Kalau Netlify sufficient, Netlify aja Kalau Heroku sufficient, Heroku aja dst Untuk our current scale & problem, masih lebih justified maintain infra (dan pake K8S) Tapi I believe, untuk banyak product (terutama yang cuma 5-10 orang dengan hanya hundred dollars infra bill), better focus di produk & biz-nya aja daripada ngurusin infra
English
1
0
0
47
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@radjathaher @levifikri declarative, community support, kubectl, CNI. Production grade app is just one helm install away - HA psql -> cnpg (support backup) - Git runner -> ARC - Image Repo -> zot - S3 compat -> minio (deprecate) - GitOps -> flux - HA storage -> ceph/lh Debug = ask claude run kubectl
English
1
0
1
23
Radja Thaher
Radja Thaher@radjathaher·
@ramandann @levifikri apa yg contribute k8s make dev cycle faster? at least for us is its declarative nature, curious what do you find in your experience
English
1
0
0
25
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@levifikri @radjathaher sblm ini opiniku sama kyk mas Levi, tp stlh dive ke infra & k8s malah kebalik 180. I would say 90% above issues is a common infra issue not k8s specific and k8s solve it faster than traditional. imo k8s not for scale, it actually for dev cycle & speed.
English
2
0
0
27
Levi | still learning
Levi | still learning@levifikri·
Nanti ada additional complexities (although gak semua ini bawaannya K8S): - Upgrade. Ketika nanti sudah di tahap punya ribuan pods atau lebih, upgrading K8S dengan really zero down time nggak seindah clicking one button di GKE 😅 - Monitoring: node, pods, nodepool, daemonset, etc. Ujung2nya perlu juga setup Grafana dkk, termasuk alert rulesnya 😅 - Ketika bawa Grafana, then perlu juga manage gimana aggregate lognya. Ketika podsnya banyak, log streaming ini jadi big data ingestion problem (well, agak hiperbola sih. Tapi relate. Termasuk costly juga bagian ini) - Also, gimana ensure Grafananya gak down ketika high traffic 😅. Atau ambil easier route dengan pake managed one, e.g. Datadog, dkk - Atau pake Istio/Linkerd? Teorinya instant observability, tinggal pasang sidecar. Tapi pada prakteknya jadi one more moving part to manage. Another problem: production cluster bermasalah karena update sidecar 😅 - Autoscaling: gimana supaya autoscalernya sensitive enough triggered seiring dengan spike traffic tapi juga gak terlalu sensitive sehingga boros - Bin packing: related dengan cost saving, gimana mastiin pod memory/cpu dibadingkan ukuran node itu efisien (gak banyak space kosong) - Learning curve buat team. Ini bisa diabstract dengan solusi macam Helm dkk, tapi tetap additional thing to learn sih (and manage 😅) - Docker build pipeline. CI/CDnya jalan di mana? If jalan di Kube juga, then perlu manage CI/CDnya agar bisa serve multiple concurrent build & fast (soalnya bakal jelek DXnya kalau lama antre nunggu build 😅). Additional problem to solve: optimize docker image size. - Kalau pake Cloud Build dan sejenisnya, ada bom di cost. Dulu pernah kena banyak cost network GKE di sini 😅 - Routing/gateway: ini another think to setup. Kalaupun pake nginx bawaannya K8S, tetap perlu manage sih 😅 - VPN setup: jika allow team members pake Helm/Kubernetes, perlu secure behind VPN.. - Stateful image deployment (e.g. DB), termasuk backup dan restoration-nya - Kube DNS problem: ada case di mana gak bisa discover service karena issue di Kube DNS 😅 There are a lot of 😅 emojies here. Not saying Kubernetes gak worth it / problematic. Tapi I believe, untuk sebagian besar product/company, complexities di atas bukan priority to tackle. Dan masih justified bayar lebih sekian $ buat PaaS
Indonesia
2
0
4
541
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
diluar dari algonya, lapkeu goto gede di gaji. imo punya net positive impact bagi pekerja non-tech/tech. ini naikin "cap" karyawan biasa jd punya salary nyaman, ga harus jadi direktur/enterprener utk pny income nyaman + domino efek ke kumpeni lain. ttd org yg gagal msk gjk 5x
Indonesia
2
0
14
569
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
@ghozyulhaq 1) desentralisasi entire ops -> indonesia luas bgt manage nation wide overhead costnya tinggi + buying power rendah. 2) owned by gov -> cuman gov yang HARUSnya gak cari untung. theoretically possible, practically not (iykyk)
Indonesia
0
0
2
153
Ghozy Ul-Haq
Ghozy Ul-Haq@ghozyulhaq·
Trilemma Gojek/Grab: - Driver sejahtera - Customer dapat layanan bagus & murah - Perusahaan bisa sustain You can only choose 2 Andai kalian dibayar ratusan juta perbulan buat mikir ini, solusi apa yg bakal kalian ambil?
Indonesia
151
60
583
460.6K
Rama Rahmanda
Rama Rahmanda@ramandann·
we all know kebijakan/arahan perusahaan itu bukan ditentukan oleh karyawan. lagi-lagi apa, yak jangan bertengkar sesama 😅 anecdote-nya, perusahaan yg bs bayar gaji gede is actually good thing right? kecuali kita investornya.
Indonesia
0
0
2
155