Ben Tedja

4K posts

Ben Tedja banner
Ben Tedja

Ben Tedja

@bentedja

A burger lover 🍔! Interest in eclecticism, religions, western esotericism and the last but not the least, Kejawen. Cogito, ergo sum.

ÜT: -6.2711918,106.7030138 Sumali Mart 2009
753 Sinusundan170 Mga Tagasunod
Gimmekissest
Gimmekissest@Gimmekissest12·
Hi. Jangan jahat jahat ya☺️🫶🏻
Indonesia
1
0
2
73
Ben Tedja nag-retweet
unmag
unmag@unmagnetism·
evaluasi KAI ❌ peningkatan fasilitas ❌ regulasi terkait keamanan ❌ tumbalkan laki2 ✅✅✅
Indonesia
818
6.7K
35.8K
730.7K
Spear of Destiny
Spear of Destiny@Cl0pidogrel·
Kemaren si ruben, kena tipu. Sekarang si Richard. 👇
Spear of Destiny tweet media
Indonesia
103
51
636
382.5K
Ben Tedja nag-retweet
R–!
R–!@bluvy40·
Boat day.
R–! tweet mediaR–! tweet mediaR–! tweet mediaR–! tweet media
English
3
10
26
1.7K
Ben Tedja
Ben Tedja@bentedja·
@LambeSahamjja Tanggal merah jgn dihapus kak, lumayan buat istirahat budak2 korporat. Pas libur aja masih kerja, kerja dari rumahh.. 😪🥵
Indonesia
0
0
0
58
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
yahh cairr dehh Pemerintah kita memang paling paham banget deh cara sumpal mulut-mulut biar gak berisik Trus yang disuarakan apa ? Semuanya dibungkam sama makanan... Hancuuur INDONESIA , Taun depan ga usah ada lagi tgl 1 Mei di kasih merah
Lambe Saham tweet media
Indonesia
170
335
877
27.6K
Ben Tedja
Ben Tedja@bentedja·
@kforkinsley Iyah kakak. Sama kaya punya saya tapi tali jamnya sudah rusak dan sudah diganti.
Ben Tedja tweet media
Indonesia
0
0
1
135
Ben Tedja
Ben Tedja@bentedja·
@sharpandshark Setuju banget. Dengan bekerja sebaik-baiknya, berikan pelayanan sebaik2nya, itu merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME atas pekerjaan yang diperoleh. 🙏🙏
Indonesia
0
0
1
23
Ben Tedja nag-retweet
Yuk Berisik
Yuk Berisik@sharpandshark·
Banyak yang Antre di Posisimu: Untuk setiap satu posisi yang kita tempati, ada ratusan bahkan ribuan orang yang menaruh lamaran namun berakhir dengan penolakan. Kamu adalah orang yang terpilih ‼️ Quote: ​"Jangan membenci pekerjaan yang memberimu makan, hanya karena kamu belum mendapatkan pekerjaan yang memberimu kemewahan." ​Pesan untuk Kita Semua❗❗ ​Hargailah pekerjaanmu sekarang. Berikan performa terbaikmu, bukan hanya karena tuntutan perusahaan, tapi sebagai bentuk syukur kepada Tuhan bahwa kamu tidak sedang berada di posisi mereka yang harus menangis tersedu-sedu karena tidak tahu besok harus makan apa. ​Jika hari ini terasa berat, ingatlah: Lelahnya bekerja masih jauh lebih baik daripada lelahnya mencari kerja. Lelah karena tugas yang menumpuk jauh lebih ringan daripada lelah karena ketidakpastian masa depan. ​Mari kita jaga amanah ini, kerjakan dengan baik semaksimal mungkin dengan profesional, dan selalu selipkan doa bagi mereka yang masih berjuang di luar sana agar segera mendapatkan jalan keluar.
Indonesia
155
906
5.2K
341.5K
Ben Tedja nag-retweet
Buddhis Garis Lucu (centang biru)
Bhaaaa.... Makanya biasakan menulis lengkap kalau mau menginformasikan sesuatu karena menyingkat itu bisa membuat salah persepsi. Sumber ig notivoxid
Buddhis Garis Lucu (centang biru) tweet mediaBuddhis Garis Lucu (centang biru) tweet media
Indonesia
11
4
42
24.8K
Ben Tedja nag-retweet
Tinta
Tinta@greenpurple_mw·
GUYS TOLONG BANTUAN YA UNTUK RT🙏 Mohon konfirmasi sepupu saya @KAI121 atas nama tersebut. Keluarga saya sedang menunggu distasiun bekasi timur terimakasih
Tinta tweet media
Indonesia
166
10.5K
24.3K
3.3M
Ben Tedja nag-retweet
Buddhis Garis Lucu (centang biru)
Ngemil ini dulu. Kacang gula aren. Ga bisa makan banyak. Manisnya ngalahin senyum ombudd
Buddhis Garis Lucu (centang biru) tweet media
Indonesia
33
1
40
1.3K
Ben Tedja nag-retweet
The Biblical Man
The Biblical Man@Biblicalman·
Moses asked God for two things. God said no to both. Then Moses died. Fifteen hundred years later, on a mountain in Galilee, God answered both prayers in front of three terrified fishermen. Most Christians read this story every year and miss it completely. Here is what they miss. Prayer one. Moses asked to see God's face. "And he said, Thou canst not see my face: for there shall no man see me, and live." (Exodus 33:20) No. Prayer two. Moses asked to cross into the Promised Land. "Get thee up into the top of Pisgah... but thou shalt not go over this Jordan." (Deuteronomy 3:27) No. Moses dies on the mountain. Buried by God Himself. End of story. Except it wasn't. The Mount of Transfiguration. Christ pulls back the veil. His face shines as the sun. And who shows up standing next to Him? Moses. "And, behold, there appeared unto them Moses and Elias talking with him." (Matthew 17:3) In the Promised Land. Looking at the face of God in the flesh. Both prayers. Granted. Not on Moses's timeline. Not through Moses's law. Through the Son. The no was not rejection. It was redirection. Every prayer God seems to deny, He is answering through Christ. The Mount of Transfiguration is the receipt. The face. The land. The healing. The marriage. The vindication. He is not closing the door. He is telling you which door. Through Christ. Or not at all. Moses found out. So will you. Full piece on Substack ↓ [deadhidden.substack.com link]
The Biblical Man tweet media
English
324
2K
10.6K
252.9K
Ben Tedja nag-retweet
Buddhis Garis Lucu (centang biru)
Selamat pagi sahabat... Harimu boleh berat, kopimu boleh pekat tapi yakinlah selalu ada berkat dan juga nikmat bagi jiwa-jiwa yang kuat.
Buddhis Garis Lucu (centang biru) tweet media
Indonesia
8
5
25
2K
Ben Tedja
Ben Tedja@bentedja·
@ybaindonesia Setuju sih. Maafkan dia sebab dia tidak tahu apa yang telah ia perbuat. 🥲🤣
Indonesia
0
0
0
7
Young Buddhist Association
"Dulu saya Buddhis hidup susah, sekarang pindah agama jadi sukses!" Sering dengar testimoni seperti itu? Hati-hati terjebak dalam "Logic Fallacy". Hukum Karma tidak bekerja berdasarkan label di KTP-mu. Sukses atau gagalnya hidupmu adalah hasil dari benih yang kamu tanam. Kalau pindah agama membuatmu lebih rajin dan positif, ya jelas hidupmu membaik. Tapi itu karena perubahan batinmu, bukan karena agama lamamu "salah"
Indonesia
2
4
14
329
Ben Tedja
Ben Tedja@bentedja·
@stelanau Kacau ya, padahal semuanya dibayar pake duit pajak belum ditambah uang yg dikorup. 🥲
Indonesia
0
0
0
1.7K
Ben Tedja nag-retweet
Stela Nau
Stela Nau@stelanau·
Pagi-pagi di bandara uda ada yg bikin gerah. Kejadiannya pas plg kampung gini lagi. MAU KAGET TAPI GA HERAN. Ada aja anomali. Liat pejabat yg nge-treat tempat makan kek punya dia sendiri. Uda gitu pake seragam dinas lagi. Ga mau ngantri. Negor org restonya gerak cepet. Padahal banyak org lain sebelum dia masih nunggu. Dan ini tuh dia uda rusuh padahal baru jeda 10 menit dia mesen. Gw selak aja, 'Pak, antri. Tunggu giliran. Di kantor bapak PNS, disini Bapak warga biasa kaya kami semua.' Dibalesnya as always, 'Anak sapa kamu' Gw jawab, 'anak Tuhan pak' Dia gedeg kali ya, jd-nya ngomel2 aja. Wkwkwkwkwk
Indonesia
208
789
6.2K
238K
Ben Tedja nag-retweet
Catholic 𐕣
Catholic 𐕣@myshawti·
Tumbal Tragedi Bintaro 1987: Kisah Pilu Masinis Slamet Suradio yang Terbuang dan Menanti Keadilan JAKARTA — Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 masih menyisakan luka mendalam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Insiden maut yang merenggut 139 nyawa dan melukai 254 orang tersebut selalu dikenang sebagai bencana kelam. Namun, di balik puing-puing besi lokomotif yang hancur, ada satu kepingan sejarah yang hingga kini dibiarkan usang dimakan waktu: kisah pilu Slamet Suradio, sang masinis KA-225 yang dituduh sebagai tersangka utama. Selama puluhan tahun, publik disuguhi narasi bahwa Slamet adalah pihak yang paling bersalah. Namun, benarkah demikian? Kesalahan Komunikasi dan Surat PTP yang Diabaikan Hari itu, Slamet Suradio dituduh memberangkatkan kereta api tanpa seizin petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Narasi ini menyudutkannya seolah ia bertindak ceroboh dan melanggar aturan. Faktanya, sebelum lokomotifnya melaju, Slamet telah mengantongi surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP). Dalam dunia perkeretaapian, surat tersebut adalah nyawa dan perintah; surat itu adalah izin resmi bahwa keretanya sah untuk diberangkatkan. Celakanya, terjadi kesalahan komunikasi fatal antara petugas PPKA Stasiun Sudimara dengan Stasiun Kebayoran. Kesalahan sistemik inilah yang pada akhirnya menempatkan dua kereta baja melaju di satu jalur yang sama, berujung pada tabrakan hebat yang tak terhindarkan. Sepanjang perjalanan maut itu, Slamet mengaku tidak melihat satu pun rambu-rambu darurat yang mengisyaratkan perintah untuk menghentikan kereta. Bertahan di Balik Kemudi: Mematahkan Stigma "Pengecut" Selain dituduh berangkat tanpa izin, Slamet juga harus memikul fitnah keji bahwa ia melompat keluar dari lokomotif sesaat sebelum tabrakan terjadi demi menyelamatkan diri. Kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Ketika jarak antara dua kereta sudah terlalu dekat, asisten masinis-lah yang melompat keluar. Sementara itu, Slamet Suradio memilih bertahan di dalam kabin lokomotif. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tuas rem darurat hingga tangannya tak lagi sanggup bertahan. Saat benturan keras terjadi, tubuhnya terpental ke lantai lokomotif. Hantaman itu membuat tulang pinggulnya retak dan matanya terluka akibat pecahan kaca yang berserakan. Dalam kondisi kritis, berlumuran darah, dan menahan sakit yang luar biasa, ingatannya hanya tertuju pada satu hal: bukti kebenarannya. Ia meminta tolong kepada seseorang untuk memfotokopi surat PTP yang masih ada di dalam kantong seragamnya sebanyak mungkin. Di atas surat itu, bercak darah Slamet ikut tertoreh, menjadi saksi bisu tragedi tersebut. Ketidakadilan di Meja Hijau Namun, segala bukti dan pembelaan Slamet seolah menguap begitu saja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Fotokopi surat PTP yang telah ia perjuangkan tak berarti apa-apa di hadapan majelis hakim. Pengabdiannya selama 23 tahun sebagai masinis runtuh seketika. Ia divonis sebagai terpidana. Tidak hanya itu, ada rentetan ketidakadilan lain yang menimpanya. Ia mengaku kerap dipaksa menandatangani dokumen-dokumen tak jelas asal-usulnya oleh oknum tertentu. Puncaknya, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai masinis tanpa diberikan pesangon sepeser pun. Pengkhianatan dan Bertahan Hidup dari Sebatang Rokok Kehancuran karier dan kebebasannya ternyata bukan satu-satunya cobaan. Di saat ia sangat membutuhkan dukungan moral, sang istri justru menggugat cerai dan memilih menikah dengan pria lain, meninggalkan Slamet sendiri meratapi nasibnya. Kini, masa kejayaan sang masinis telah lama redup. Pria renta itu kini harus mengais rezeki dengan berjualan rokok eceran. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari tempat asalnya untuk berdagang. Hidupnya jauh dari kata layak. Pernah suatu ketika, ia tidak bisa pulang ke rumah selama dua bulan penuh karena sama sekali tidak memiliki ongkos. Untuk merebahkan tubuh rentanya, ia menjadikan musala sebagai tempat bernaung sehari-hari.
Indonesia
59
1.4K
2.9K
84.8K