
Zabine Dmc
5.8K posts



Prabowo: "Rupiah begini dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok! Ya kan?"

















Dana Daerah sebanyak 1 Triliyun yang di sunat BGN untuk beli kaos kaki dan siapkan makanan yang berbelatung juga berulat untuk anak sekolah itu sungguh sangat menyakitkan




Baca di sini: regional.kompas.com/read/2026/05/0… Dua siswa salah satu sekolah di Kota Padang, terkendala biaya seragam hingga terancam tidak bisa melanjutkan proses belajar mengajar. Situasi ini dialami oleh Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17). ~RS #AnakPantiAsuhan #NunggakBiayaSeragam #Padang

Saya lanjutkan lagi, ya (saya kira sudah cukup, ternyata responnya masih ada). Dan semoga ini sudah cukup. Karena saya tidak mau bilang Islam adalah agama yang rumit. Islam rumit? Tidak. Islam punya tata cara. Seharusnya, ini bare-minimum menjadi muslim: mengetahui tata cara salat di segala kondisi. Saya lanjutkan dengan: bagaimana kalau kendaraan tidak ada musalanya, atau memang tidak ada ruang berdiri sama sekali? Contohnya: bus, mobil, pesawat ekonomi, kereta padat di jam sibuk. Ini kondisi yang belum saya bahas tadi, dan saya tulis di sini supaya dibaca ketika membuka replies. PRINSIP Qiyam (berdiri) tetap rukun, tapi gugur kalau benar-benar tidak mampu ditunaikan. Hadis Imran bin Husain riwayat Bukhari sudah menentukan urutannya: berdiri, jika tidak mampu duduk, jika tidak mampu berbaring. Penting: "tidak mampu" punya definisi ketat, bukan sekadar tidak nyaman atau malu, ya. URUTAN IKHTIAR (dari paling utama) 1. Tunda salat sampai turun kalau waktu masih cukup. Salat di tempat sempurna lebih utama daripada di kursi dengan rukun terkurangi. 2. Kalau perjalanan tergolong safar muktabar (sekitar 83 km ke atas), pertimbangkan jamak takdim sebelum berangkat atau jamak takhir setelah turun. Inilah rukhsah (keringanan) resmi yang Nabi praktikkan dalam safarnya. 3. Cari ruang berdiri di kendaraan: koridor, dekat pintu, area pantry pesawat. Bisa minta tolong ke kru. 4. Kalau semua tidak mungkin, baru salat duduk di kursi. CARA SALAT DUDUK DI KURSI Takbiratul ihram menghadap kiblat (kompas atau aplikasi). Baca Al-Fatihah. Rukuk dengan membungkukkan badan sebagai isyarat. Sujud juga dengan isyarat, dan sujudnya harus lebih rendah dari rukuk. Kalau arah kiblat tidak bisa dipantau, salat tetap sah ke arah mana pun, sebagaimana ditegaskan al-Mardawi dalam al-Inshaf. HUKUM PENGULANGAN (I'ADAH) Tidak wajib diulang salat menurut jumhur empat mazhab, asal ketidakmampuan berdiri memang nyata. Dalilnya hadis Imran bin Husain (Nabi tidak memerintahkan i'adah ketika uzur hilang) dan QS at-Taghabun ayat 16: bertakwalah kepada Allah semampu kalian. Pilihan al-Nawawi dalam al-Majmu' juga eksplisit, ia telah menunaikan tugas waktu, dan qadha hanya wajib dengan dalil baru. KLARIFIKASI: KONSEP LI HURMATIL WAQTI Ada yang bilang cara termudah adalah salat li hurmatil waqti, demi menjaga waktu, lalu diulang setelah turun. Bagi saya ini perlu diluruskan. Konsep li hurmatil waqti dalam fiqih klasik berlaku spesifik untuk faqidat thahurain, yaitu orang yang kehilangan air dan debu sekaligus dan tidak bisa bersuci sama sekali. Hanafi mewajibkan tasyabbuh (penyerupaan) dengan i'adah (pengulangan salat). Syafi'i (qaul Imam Nawawi) dan Hanbali menganggap salatnya sah penuh tanpa i'adah. Untuk penumpang kendaraan yang wudunya masih ada, kasusnya bukan li hurmatil waqti. Ini masuk kategori salat orang yang tidak mampu sebagian rukun, sah penuh menurut jumhur, tidak ada kewajiban i'adah. Walhasil, jalan termudah sebenarnya sudah disediakan fiqih klasik tanpa perlu menyeret kasus ke konsep darurat ekstrem. PENUTUP Yang mau saya sampaikan adalah: tidak ada keadaan di mana seorang muslim tidak bisa salat sama sekali. Yang ada hanya hierarki kemampuan: dari paling utama (tunda atau jamak) sampai darurat terakhir (duduk di kursi, ke arah mana pun). Para fuqaha sudah menyusun ini ratusan tahun lalu.













